Blokir Perilaku Menyimpang Remaja: Tanggung Jawab Siapa?

Sumber foto: Youthmanual.com

378 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Dalam kategori perkembangan, para peserta didik, khususnya siswa/i (SMP-SMA) tergolong anak-anak usia remaja. Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah yang tak pernah terulang lagi. Karenanya, masa remaja sulit untuk dilupakan dan dibiarkan berlalu begitu saja. Masa?

Harus diakui juga bahwa peradaban suatu bangsa berada di tangan para remaja yang adalah kaum muda itu sendiri. Karenanya, tak heran jika kaum muda sangat melekat erat dengan tiga peran, yakni sebagai Agent of Change, Moral Force, dan Sosial Control. Selanjutnya, ketiga peran itu haruslah menjadi roh dan napas hidup kaum muda. Untuk itu, agar pengejawantahan tiga peran itu secara konkret dalam hidup berbangsa dan bernegara dapat terlaksana dengan baik, kebiasaan menyimpang yang merusak diri, sesama, dan lingkungan sosial perlu diantisipasi sedini mungkin.

Oleh karena itu, pendidikan di sekolah tidak lagi hanya sebatas mencerdaskan otak dan hati, tetapi juga harus mampu mendeteksi minat, bakat, dan potensi anak yang kemudian harus dikembangkan secara sistematis dan bertanggung jawab. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tidak lagi sebatas rutinitas karena aturan, tetapi harus dibudayakan dan terus dilestarikan untuk memanusiakan manusia. Sebab, setiap minat dan bakat yang ada dalam diri anak sangat berperan penting dalam perkembangan kepribadiannya, baik dalam proses pencapaian prestasi akademik maupun afeksi dan spritual. Dengan begitu, peserta didik yang masih berada dalam proses pencarian jati diri dapat secara perlahan-lahan mengetahui siapa dirinya dan ke mana ia harus berlangkah.

 Hal ini sejalan dengan Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 62 tahun 2014 yang salah satu poinnya berbunyi: “Bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik melalui pengembangan bakat, minat, dan kreativitas serta kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain”. Dengan demikian, selain pengembangan ekstrakurikuler wajib yaitu kegiatan pramuka, sekolah juga tidak boleh berpangku tangan untuk tidak menerapkan lagi kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Selain itu, setiap kegiatan ekstrakurikuler harus dibimbing oleh guru yang memiliki kemampuan dan kemauan tulus untuk rela berkorban membantu perkembangan siswa. Sehingga pengembangan bakat anak tidak asal jadi, tetapi harus betul-betul mampu menyentuh hati terdalam anak untuk bisa bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang berkarakter.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus berusaha sebisa mungkin melalui para pendidik untuk mampu memegang hati peserta didik, agar mereka merasa tertarik dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diminati itu hingga menyelesaikan pendidikan akhirnya, baik di bangku SMP maupun SMA.  Ketika peserta didik sudah ‘kecanduan’ oleh bakat dan minatnya itu, pastilah akan timbul rasa nyaman, dihargai dan dicintai oleh guru-gurunya. Nah, pada situasi seperti ini, sudah pasti waktu atau peluang untuk melakukan hal-hal yang negatif akan terkikis dan bahkan bisa lenyap. Harapan akan semakin banyaknya panenan generasi yang unggul dalam segala aspek hidup untuk membangun bangsa dan negara akan pelan-pelan menuaikan hasilnya.

Dalam rangka memblokir perilaku-perilaku menyimpang serta virus destruktif lainnya yang menyerang kaum muda kita tak lagi hanya berharap pada pihak keamanan dan mekanisme hukuman (punishment). Proses ini sesungguhnya tidak mudah. Usia remaja pada dasarnya identik dengan identitas diri yang masih labil dalam semua aspek. Selain lembaga pendidikan yang adalah salah satu agen sosialisasi pengembangan kepribadian seorang manusia, bimbingan orang tua dan kepekaan sosial lingkungan masyarakat juga  sangat dibutuhkan.

Keluarga sebagai agen sosialisasi yang paling utama harus berperan secara intens dalam pengembangan kepribadian dan karakter dasar anak. Begitu pula, masyarakat luas harus memiliki ketajaman kepekaan sosial terhadap kehidupan dunia anak remaja.

Jadikan semua anak sebagai anak kita, bukan saya, Anda, dia dan mereka. Sebab membimbing, melindungi, mencintai anak dengan tulus adalah tanggung jawab kolektif. Kita diciptakan bukan untuk hidup dalam keterasingan dengan lingkungan sosial.

Penulis: Boy Zanda|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *