Ende Retang[1]

Ilustrasi foto: Dream.co.id

1,143 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Tiba-tiba aku tersentak oleh suara derikan yang mengalun perlahan dari arah dapur rumahku. Itulah derikan pintu dapur buatan Ayahku. Sejak pertama kali dibuat Ayah, ia sudah demikian. Hanya sekarang bunyinya semakin keras, kencang dan nyaring.

Dua belas tahun yang lalu, ketika pintu dapur pertama rusak, aku dan Ayah pergi ke kebun kakek Daniel untuk membuat pintu dapur yang baru. Kakek Daniel kemudian meninggal setahun setelah aku meninggalkan kampung tercintaku, Lao[2]. Dalam suratnya, enam tahun yang lalu, Ayah memberitahu aku bahwa kakek disantet oleh Tanta Ros karena iri hati atas kesuksesannya. Walaupun mayoritas masyarakat Manggarai adalah beragama Katolik Roma, namun kepercayaan akan hal-hal mistis-magis dan black magic masih sangat kuat. Biasanya hal seperti ini bisa menimbulkan pertumpahan darah. Orang yang dituduh sebagai suanggi atau ata mbeko dalam bahasa setempat, tidak jarang dibunuh dan mendapat legitimasi sosial. Mujur, kenyataan pertumpahan darah tidak sempat terjadi di hari kepergian Kakek Daniel ke alam baka untuk selamanya.

Memang Kakek  Daniel termasuk orang kaya di kampung karena memiliki banyak kerbau dan sapi. Sawah dan ladangnya luas sebab Kakek Daniel berketurunan darah biru. Dia adalah salah satu tua teno[3] yang bertugas membagi tanah ulayat di kampung Lao. Biasanya pembagian tanah adat ini dengan cara menarik garis dari titik tengah yang ditanam dengan sebatang bambu atau kayu bulat yang disebut poso[4]. Penarikan garis dari titik poso ini akan membentuk pembagian tanah yang berbentuk seperti jaring laba-laba yang amat menarik dan sangat nampak pada kebanyakan sawah orang Manggarai di Cancar. Sebagai tua teno, Kakek Daniel selalu mendapat tanah lebih besar yang letaknya lebih strategis dan subur karena tua teno meletakkan ibu jari pada poso sebagai titik mulai untuk mengambil garis. Masyarakat biasa hanya meletakkan jari telunjuk. Sementara itu, para pendatang menggunakan jari kelingking. Tapi sayangnya, walaupun Kakek Daniel kaya, hampir semua anaknya drop out SD kecuali Ibuku. Tapi, Ibu juga tidak bisa melajutkan ke SMP. Kata Ibu, pada tahun 1960-an, di kampung Lao, tidak ada SMP kecuali di Cancar[5]. Namun, jarak dari kampung Lao ke Cancar adalah sekitar 10 kilometer. Ibuku ingin sekali bersekolah, tapi jarak tempuhnya terlalu jauh untuk anak perempuan sekecil Ibu. Apalagi Kakek Daniel melarangnya karena anak perempuan harus membantu Ibunya di dapur. Ibuku menjadi salah satu korban paling telak dari budaya paternalistik yang kaku di kampung Lao.

Ibuku memiliki tiga kakak laki-laki. Namun, dua kakaknya sudah meninggal karena perang tanding antara kampung Lao dan Ngkor[6] demi mempertahankan tanah ulayat 14 tahun yang lalu. Perang tanding ini berlangsung bertahun-tahun. Mujur tidak berabad-abad seperti Palestina dan Israel. Konflik agraria ini akhirnya berakhir setelah pemerintah daerah Manggarai membeli bidang tanah yang menjadi sumber konflik dengan harga yang tinggi dan diberikan sama rata untuk kedua pihak yang sedang berkonflik. Inilah solusi alternatif yang paling pragmatis, tapi hasilnya efektif. Ya, sekurang-kurangnya tidak ada lagi pertumpahan darah. Saudara ibu yang satunya lagi pergi merantau ke Malaysia sejak aku kecil. Namun, hingga sekarang, ia belum pulang dan tanpa secuil kabar pun dari Negeri Jiran. Padahal, istri dan anak-anaknya sangat mengharapkan kedatangannya. Ada rumor bahwa saudara laki-laki satu-satunya Ibu yang masih hidup ini sudah memiliki istri baru yang adalah Tenaga Kerja Wanita Indonesia di Malaysia asal Maumere. Dengan istri barunya ini, saudara Ibuku memiliki satu anak laki-laki. Kata orang-orang muka anak laki-lakinya itu mirip aku. Hanya saja kulitnya lebih putih dari aku. Namun, tidak ada satu pun yang tau pasti tentang kebenaran rumor ini. Mudah-mudahan rumor ini tidak menjelma menjadi kebenaran yang paling menakutkan bagi tantaku dan anak-anaknya.

Setelah suara derikan itu berhenti, kudengar suara lain. Yang ini adalah detakan kaki. Lamban. Lembut. Berirama. Yang ini aku tak ingat. Terasa asing di telingaku. Detakan kaki Ibu, aku masih ingat betul. Tegas dan bertenaga. Tetapi tetap berirama. Ini bukan Ibu. Bukan pula Ayah. Detakan kaki Ayah lebih bertenaga dari Ibu. Telapak kaki Ayah tebal dan melebar ke samping. Maklum, sejak lahir Ayah tidak bersandal. Bagi Ayah, memakai sandal adalah sebuah siksaan. Sandal itu bagai rantai yang menghambat kegesitan mobilitasnya.

Ibu akan bersandal jika pergi ke Gereja. Dan, sandal itu masih tersimpan rapi di meja tua yang akan segera lapuk di sampingku saat ini. Sudah kelihatan kumal. Maklum, umurnya lebih tua setahun dari umurku. Saat ini aku berumur 26 tahun. Kata Ibu, sandal ini dipakai pertama kali ketika ia dipersatukan dengan Ayah di Gereja tua, peninggalan misionaris Belanda tahun 1920, yang sudah jarang dikunjungi anak-anak muda di desaku saat ini.

Awal misi Gereja Katolik di Manggarai pada awal abad 20 oleh misionaris asing seperti Belanda, Jerman, Swiss dan Polandia memang tidak terlalu menekankan pada pembangunan iman Katolik, tetapi lebih pada pembangunan fisik seperti pembangununan Gereja, jalan raya, air minum, sekolah dan Rumah Sakit. Oleh karena itu, sebagian umat mengatakan bahwa para misionaris awal lebih memberikan “saksemen”[7] dari pada sakramen. Jadi, tidak heran bila iman umat dan kehidupan menggereja umat kurang memuaskan seperti yang terjadi di Kampung Lao saat ini. Semangat menggereja umat semakin menurun ketika diperkenalkan ide Gereja mandiri pada awal tahun 1980-an yang menuntut sumbangan finansial cukup besar dari umat karena ada larangan untuk berkarya di Indonesia oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1975 bagi misionaris Eropa yang merupakan sumber dana bagi pembangunan Gereja di Flores[8]. 

“Jika itu bukan suara Ibu dan Ayah, siapakah gerangan orang itu yang berani memasuki rumahku?”, batinku.

Kecurigaanku memaksaku untuk memastikannya. Sebenarnya, aku bisa langsung ke dapur dan menemui orangnya. Tapi aku tak mau. Aku ingin memastikan siapa gerangan orang ini, sebelum aku menemuinya. Kuputuskan untuk mengintip dari balik dinding. Tapi sayang, tidak ada lubang intip. Dinding rumah yang tua ini tak berlubang karena dihiasi koran bekas.  Dulu, dinding kamar yang terbuat dari bambu ini masih telanjang dan lubang intip berserakan di mana-mana. Namun, kini ia sudah berpakaian koran-koran bekas. Karenanya, tak ada lubang intip lagi. Di koran-koran bekas itu, aku lihat beberapa berita tentang korupsi, pemerkosaan, pencurian, dan pembunuhan.  Ada juga berita tentang bupati Manggarai[9] yang memobilisasi massa menggunduli hutan kopi masyarakat yang ditanam di kawasan hutan negara yang sudah didiami warga sejak zaman sebelum kedatangan Belanda ke Manggarai, yang bisa dilihat dengan jelas dari kampung Lao. Aku terenyuh. Kaget. Heran. Semuanya campur aduk. Ternyata wajah desaku dan pemerintahku yang dulu aman, damai, rukun dan tenang sudah berubah. Aku jadi sedih.

Terpaksa aku menanggalkan selembar. Mujur. Kudapati celah sebesar biji kemiri. Kuintip. Akhirnya, kutangkap bayang sosok orang. Aku tersentak. Ternyata seorang Ibu. Tua. Renta. Ia menapak perlahan. Terhuyung-huyung. Tubuhnya yang kurus tidak kuat menopang beban yang dibawanya. Di kepalanya ada bakul berisi daun singkong segar. Tangan kanannya menggendong seekor ayam jantan yang sehat. Kemungkinan besar ayam ini akan dijual ke pasar Cancar atau mungkin ke Ruteng[10] keesokan harinya. Sejak dulu, ayam adalah salah satu pendukung ekonomi di kampungku. Bila ibu-ibu sudah menangkap ayam, itu berarti ada keperluan rumah yang ingin mereka beli. Faktanya adalah bahwa sejak kecil aku jarang makan daging ayam. Jangankan dagingnya, telurnya pun juga jarang. Baik telur maupun ayam biasanya dijual untuk kebutuhan rumah tangga. Itulah kebiasaan masyarakat di kampungku. Tidak heran jika kenyataan gizi buruk menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tapi, Tuhan maha adil. Walaupun tidak pernah minum susu segar dari perusahan asing yang menjamur di tanah air seperti bayi dan balita zaman sekarang, aku luput dari hantaman badai gizi buruk seperti yang sedang dialami oleh anak-anak di kampungku saat ini.

Tidak ada kata yang mengalir dari mulutnya. Hanya ia terus bergerak. Perlahan, ia letakkan satu-satu barang yang dibawanya.  Ayam jantan dan bakul diletakkannya di atas balai-balai beralaskan tikar tua. Di atas balai-balai itu, ada sebuah piring berisi sepotong ubi rebus dan gelas kotor yang dasarnya hitam pekat berdiri telak di sampingnya. Itu pasti sarapan wanita tua ini. Balai-balai itu terletak tidak jauh dari tungku yang tersusun oleh tiga batu gunung yang kelihatan sudah menghitam. Sejak rumah ini berdiri, ketiga batu itu masih berdiri di tempat yang sama. Aku masih hafal fisik batu itu. Ketika kecil aku sering membakar ubi dan pisang di tempat ini bersama ayah.  

Kata Ayah, nenek moyangku makan umbi-umbian dan pisang. Menurut Ayah, makan umbi-umbian dan pisang lebih sehat.  Jagung dan beras di bawah oleh Belanda pada masa akhir abad 19 ke daerah pulau Timor dan Flores. Ayah mengingatkan bahwa keseringan makan beras bisa menyebabkan penyakit gula. Tetapi, setelah aku sekolah, aku pun tahu bahwa presiden Soeharto menasionalisasikan beras sebagai makanan pokok yang sehat dan bergizi tinggi dengan mendirikan kantor bulog di mana-mana. Sejak itu, makanan nenek moyangku pun menjadi tergusur karena dianggap kuno, miskin dan ketinggalan zaman. Sayang sekali. Pasti air bening nenek moyangku bergaris lambat-lambat melihat anak cucunya yang mudah dibodohi oleh pemerintahnya sendiri.  Aku sadar bahwa ketergantungan pada beras adalah bencana besar bagi masyarakat di kampungku. Yang kutahu, enam puluh persen beras diproduksi di Jawa. Iklim Flores memang tidak selalu ramah terhadap tanaman padi. Selain memperkaya orang Jawa sebagai ‘pengusaha’ beras, masyarakatku bagai memenggal lehernya sendiri. Aku paham bila nenek moyangku bercucuran air mata, tanpa bisa membantu apa-apa lagi bagi anak cucunya yang sudah bodoh dan terus dibodohi oleh pemerintahnya.

Kemudian, wanita tua itu duduk di balai-balai. Tak beringsut. Kupandang mukanya. Oh, ternyata, dia sudah tidak muda lagi. Guratan keuzuran tampak amat kentara membentuk garis-garis bergelombang. Lentur. Lembut. Tapi, kering. Tulang wajahnya tampak berlari ke mana-mana ingin membebaskan diri dari kungkungan kulit keriput yang tak berisi. Mukanya kurus lurus. Kupandangi bola matanya lamat-lamat. Kulihat ada cairan yang menggenang di kelopak matanya yang lemah menahan bola penglihatan yang seolah akan melompat keluar. Dengan sekuat tenaga dia membendung. Tapi sia-sia. Air bening itu pun bergaris menyusuri kulit keriput yang berkelok-kelok. Air bening itu dibiarkannya terus terurai sampai akhirnya jatuh terkulai di tanah yang kering kerontang. Titik-titik air mata itu tak sanggup memberi kesegaran bagi tanah leluhurku yang sedang bersedih itu.

Tiba-tiba tangannya bergerak menyentuh leher. Jari-jarinya yang kurus menjepit bulir-bulir hitam yang disatukan oleh kawat-kawat kecil sebesar rambut ekor kuda yang sudah mulai berkarat. Lalu, dia tanggalkan dari leher melompati kepalanya. Rambutnya yang sudah tipis ikut tersibak dan beberapa helai rambut yang sudah putih dan kering itu diterjang angin sepoi-sepoi yang sempat menyelinap masuk melalui cela-cela dinding dapur yang akan segera roboh. Rambut putih nan kering itu pun melayang-layang sebelum akhirnya terbenam tenang pada pundak kurus perempuan tua itu. Aku kenal bulir-bulir di genggaman perempuan itu. Orang-orang menyebutnya Rosario. Kemudian, ibu jari dan jari telunjuk Ibu tua itu secara perlahan berirama menindis bulir-bulir itu.  Mulutnya bergerak komat-kamit perlahan-lahan. Air beningnya semakin deras mengalir tanpa bisa dibendung membentuk garis-garis yang tak beraturan. Namun, dia tetap khusyuk dalam ujud-ujudnya. Kudengar disetiap ujud namaku disebut. Oh, hati dan perasaanku menjadi amat sedih.

Sejenak kemudian, aku merasa jantungku seperti ditikam pedang. Menggelepar. Hatiku jatuh terkulai tak tahan haru di hadapan seorang Ibu yang selalu menyebut namaku. Dialah Ibu kandungku.  Tak terasa, air beningku jatuh satu-satu. Saat itu, aku tahu bahwa kasih ibu sepanjang masa dan akan tetap abadi selamanya walaupun jantungnya sudah tak berdetak dan bumi sudah tak berputar pada porosnya. Air mataku terus bercucuran lamat-lamat. Tapi, kutahan senduku sampai Ibu menyelesaikan doanya. Kutatap wajahnya yang penuh harap pada Tuhannya. Di wajahnya kulihat lukisan bayangku. Semakin jelas kutangkap bayangku, semakin deras pula air mataku berderai. Hatiku benar-benar hancur lebur. Ketulusan cinta seorang Ibu selalu menagih air mata haru yang hanya dirasakan oleh hati yang selalu bersyukur. Aku bangga dan tak pernah sedetik pun menyesal lahir dari rahim seorang Ibu yang miskin, tapi memiliki hati yang kaya dan penuh kasih. Saat itu, aku sadar bahwa akulah orang yang paling beruntung di jagat raya ini.

Tak lama kemudian, aku segera berlari keluar mendapati Ibu. Ibu tampak terkejut, seolah tak percaya. Aku segera benamkan tubuh Ibu yang kurus dalam pelukanku. Saat itu, tangis kami pecah bersahut-sahutan memecah kesunyian yang diiringi oleh air mata kerinduan yang mengalir menjadi-jadi. Aku terus memeluk dan mencium Ibuku seolah tak ingin melepaskannya. Aku akan bunuh rinduku pada Ibu setelah sekian lama merantau tujuh tahun di Jakarta selepas SMA di kampungku untuk meniti ilmu hingga bergelar Master berkat beasiswa dari Norwegia. Aku rasa ada getar-getar bahagia. Haru. Sedih. Bangga. Semua campur aduk. Tak ingin aku tinggalkan Ibuku lagi. Itu janji abadiku untuk Ibu saat itu.

Aku mencintaimu Ibu. Kaulah segalanya bagiku.

Jakarta, 6 Juni 2011 – Yogyakarta, 24 April 2012

NB:

[1]Ende Retang dalam bahasa Manggarai artinya Ibu yang menangis. Tulisan ini mengisahkan pemuda bergelar Master yang baru tiba dari Jakarta. Ketika tiba di rumah, ia tak menjumpai para penghuni rumah. Semuanya masih di kebun. Ketika sedang menunggu, tiba-tiba seorang Ibu tua memasuki rumahnya. Perjumpaan dengan seorang Ibu tua ini melahirkan sebuah cerita yang mengharukan. 

[2]Lao adalah salah satu kampung di kecamatan Ruteng, kabupaten Manggarai-Flores.

[3]Tua Teno dalam bahasa Manggarai artinya kepala adat yang bertugas untuk membagi tanah ulayat. Dalam masyarakat Manggarai ada kepala adat lain yang disebut Tua Golo yang menjadi kepala adat dalam suatu beo (kampung).

[4]Poso adalah bambu atau kayu bulat yang ditanam sebagai acuan untuk menarik garis dalam pembagian tanah adat di Manggarai.

[5]Cancar adalah pusat kecamatan Ruteng di kabupaten Manggarai-Flores.

[6]Ngkor adalah kampung tetangga Lao yang pernah saling berkonflik memperebutkan tanah ulayat.

[7]Saksemen dipelintir dari sak semen.

[8]Flores adalah salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur yang terkenal miskin.

[9]Manggarai adalah salah satu kabupaten dari 8 kabupaten yang ada di pulau Flores.

[10]Ruteng adalah ibu kota kabupaten Manggarai.

Penulis: Emilianus Yakob Sese Tolo|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *