Hikmah dan Petaka di Balik Ibu-ibu Pegiat Cari Kutu di Flores

Sumber foto: facebook.com

1,228 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Banyak kebiasaan menarik yang hampir punah di kalangan masyarakat Indonesia Timur umumnya, Flores khususnya. Salah satu di antaranya adalah kegiatan kaum perempuan yaitu mencari kutu.

Saya tiba-tiba mengenang ibu-ibu yang gemar mencari kutu. Yang di mana, biasanya mereka duduk berbaris di halaman atau tangga salah satu rumah warga yang juga ikut terlibat dalam kegiatan pencarian kutu pada hari-hari tertentu di siang bolong saat mereka tidak pergi ke kebun masing-masing. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh barisan tetangga rumah. Bukan tetangga kampung. Apalagi tetangga desa, itu patut dipertanyakan kalau hanya mau cari kutu sampai jalan melintasi kali-kali tak berjembatan ke desa tetangga. Ada yang sehabis makan siang, ada yang baru selesai memasak makanan siang, ada yang sedang menjemur padi sebelum digilingkan, dan lain-lain.

Kendati demikian, di balik aktivitas itu mereka berkumpul membawa beban hidup mereka masing-masing. Ada yang sedang menanti suaminya pulang dari kebun, ada yang sedang bingung bagaimana cara mendapatkan uang untuk membeli baju dan perlengkapan alat tulis untuk anaknya di sekolah, juga ada yang sedang menanti kapan anaknya membawa calon menantu ke rumah orangtuanya.

Warna kutu di kepala beda tipis dengan warna rambut. Hitam. Mereka menguji kejelian mata untuk bisa dengan cekat ‘menangkap’ kutu di kepala temannya. Kecuali kalau di kepala ibu-ibu yang rambutnya sudah beruban, mungkin lebih mudah. Kan beda warna antara uban dengan kutu to? Kecuali kalau kutunya bule berarti mirip dengan warna uban. Ckckck…

Mengutip Yesus dalam Injil Lukas 6:41 “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”. Pernyataan Yesus dalam ayat ini lebih mengarah ke kesalahan dan kekurangan manusia itu sendiri. Di mana manusia lebih mampu melihat kesalahan dan kekurangan dalam diri manusia lain ketimbang ke dalam dirinya sendiri. Seperti Ibu-ibu yang tengah mencari kutu mereka mampu melihat kutu-kutu yang ada pada sela-sela rambut di kepala teman mereka tetapi tidak di kepala mereka sendiri. Mengapakah engkau melihat kutu-kutu di kepala temanmu sedangkan di kepalamu sendiri tidak engkau ketahui bentuknya? *Ehmmm…

Tidak bisa dimungkiri lagi soal ini. Ibu-ibu yang duduk melingkar mencari kutu itu, suka berbagi gosip. Gosip akan ada kalau cerita tentang keluarga mereka sendiri, masing-masing sudah selesai diceritakan tapi kutu belum setengah jumlahnya yang sudah dieksekusi, bahkan ada yang sengaja mengakhiri cerita seputaran keluarganya agar bisa menciptakan cerita baru. Hukumnya; kalau tidak karena kehujanan di halaman rumah, kalau tidak karena sudah bosan duduk berjam-jam, kutu dan cerita (gosip) harus habis bersamaan. Membuang kutu di kepala temannya sambil menciptakan gosip itu punya sensasi tersendiri di hadapan mereka. Belum ada yang bisa pecahkan soal sensasinya ini, apa? Sialan!

Zaman catok rambut belum menyebar di Indonesia Timur, guru-guru perempuan dan bidan desa juga gemar mencari kutu. Tidak luput perempuan-perempuan dengan profesi lain. Bukan hanya ibu-ibu petani dan ibu rumah tangga. Kecuali kalau Ibu-ibu yang kepala botak karena kanker.

Membuang kutu di kepala orang lain itu memang baik. Bisa mengurangi kuman atau parasit hidup di kepala dan menghindari penyakit pediculosis capitis yang diakibatkan oleh adanya kutu di rambut. Tapi tidak soal menciptakan gosip. Sebab ini selalu menjadi petaka di kampung itu. Sungguh, Saudara-saudara!

Bagaimana tidak, bayangkan saja jika lima orang duduk berbaris mencari kutu sambil bergosip di hari Senin, misalnya. Kemudian di hari Selasa, tiga orang di antara mereka pergi bekerja, ada yang pergi ke kebun, ada yang pergi mengajar di sekolah. Lalu duanya ini mencari kutu lagi dengan beberapa tetangga yang lain. Banyak sekali kutu dua orang ini. Tidak ada habis habisnya. Ehmm…! Aktivitas mereka sama. Mencari kutu sambil bergosip. Kemudian satu di antara dua orang itu selalu saja ada yang nekad menceritakan kembali gosip yang kemarin. Padahal yang digosipkan kemarin itu adalah salah satu anggota baru yang bersama-sama dengan mereka mencari kutu di hari Selasa itu. Bayangkan! Nekad bukan main. Lalu untuk meyakinkannya, satu dari temannya ini menguatkan pernyataan dengan berbagai macam kata-kata, sebab dia adalah saksi gosip kemarin. Hari Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu, kumpulan ibu-ibu pegiat cari kutu ini terus berlanjut. Bergulir walau ada yang absen dan ada yang baru, kadang bergantian. Begitu terus. Gosip selalu saja ada untuk saling menceritakan satu dua orang di antara mereka sendiri.

Kemudian tibalah di hari Minggu, di mana (hampir) semua orang ke Gereja. Termasuk ibu-ibu (sialan) ini. Seusai dari Gereja, biasanya, di kampung ibu-ibu berkumpul di lapangan bola voli. Bahkan sampai tetangga kampung pun ikut berkumpul di lapangan voli yang sama. Saat yang dua keenaman bertanding, yang lainnya lagi menonton, yang lainnya lagi menonton sambil mencari kutu dan kembali bergosip. Di sini Mind Mapping bekerja. Di mana, ingatan mereka diransang oleh gosip-gosip yang baru dikarang saat itu untuk mengingat kembali gosip-gosip yang tercipta sejak Senin dalam pekan itu. Dan, parahnya, penggosip dengan yang digosip ada di situ. Rame suda. Ini rame, Saudara-saudara! Permainan voli kadang berakhir bukan karena permainan itu memang sudah tiba saatnya untuk berakhir tetapi diakhiri karena baku hantam antara ibu-ibu tadi. Rame suda!

Tidak puas baku hantam di lapangan, sampai di rumah bahas ulang dengan marah-marah depan suami dan anak-anak. Ini lebih parah. Jika suami atau anak yang tidak bijak, bahaya. Bisa saja langsung percaya dengan (omong kosong) istrinya tanpa memastikan apa sebab musabab dari kekacauan di lapangan bola voli tadi. Bersyukur kalau sebaliknya, suami dan anak-anaknya bijak. Bakalan cepat teratasi. Memang eh, ada-ada saja ulah ibu-ibu itu. Hisss…!!

Sampai hari ini, saya masih bertanya-tanya; apa gunanya karang-karang cerita tentang tetangga dengan menjelek-jelekkan mereka kalau itu hanya untuk dijadikan bahan gosip saat mencari kutu? Mengapa mereka bisa lupa saat sedang bergosip itu, bahwa kalau beras, kopi, bumbu masakan sudah habis persediaannya di rumah mereka maka bisa meminjam di tetangga sebelah rumah? Mengapa? Mengapa saling menjelekkan kalau saat pesta sekolah, pesta nikah, saat ada kematian, ibu-ibu ini berkumpul di dapur yang sama untuk bantu pemilik acara memasak? Mengapa harus bergosip tentang tetangga kalau kedatangan tamu banyak ke rumah lalu pinjam piring, gelas, dan sendok dari tetangga juga bukan harus huru-hara beli baru di toko terdekat? Apakah untuk disukai oleh tetangga atau orang lain maka kita harus saling menceritakan kejelekan dan kekurangan orang lain? Kawanan perempuan memang unik. Makin banyak bawang dikupas, makin banyak banyak pula persoalan orang lain juga ikut dikupas. Huufft…!!!

Untuk diketahui, di Flores, khususnya di Manggarai, kalau ada apa-apa yang kurang di dapur semacam bumbu masakan, beras, kopi bubuk, piring, gelas, sendok dan tempat sayur atau yang lainnya, bisa dipinjamkan ke tetangga. Begitu pula uang, kalau ada keperluan mendadak, sebelum ke kreditur bisa pinjam ke tetangga. Tidak seperti kehidupan di kota-kota besar yang serba uang dan beli. Kerennya di kampung ada di situ. Buruknya ada di kuat gosip. Itu!

Kendati demikian, ibu-ibu di kampung biasanya tidak pernah menyimpan dendam karena sudah digosip. Mungkin saja karena mereka paham, bahwa ada saat-saat tertentu di mana mereka saling membutuhkan satu sama lain seperti bergotong royong memasak di acara-acara besar di kampung itu, dari acara kematian, pesta pernikahan, pesta sekolah sampai acara syukuran pelantikan Kepala Desa baru, syukuran DPR terpilih, syukuran atas tahbisan pastor baru, hingga kaul kekal Suster Gereja Katolik. Bahkan saat kerja di kebun milik ibu yang satu, mereka sama-sama di sana bergotong royong, lalu bergantian ke kebun ibu yang lain. Begitu terus setiap musim berkebun. Atau juga mungkin saja karena mereka sama-sama pernah saling gosip.

Eh, pertanyaan saya yang terakhir; apakah pernah Suster-suster dari Gereja Katolik itu membuka kerudung cantik di kepala mereka lalu mencari kutu di biara-biara masing-masing, atau berkunjung ke Biara temannya hanya untuk mencari kutu?

Penulis: Itok Aman|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *