Memelihara Nilai-Nilai dalam Dongeng Tradisional

480 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Sambil memisahkan biji-biji cengkeh dari tangkai buahnya, kami mulai memancing kembali memori Nenek (Énde Paulina Jimur) tentang dongeng-dongeng tradisional yang konon selalu ia kisahkan waktu kami kecil. Menurut ingatannya yang sudah agak usang, cerita-cerita rakyat Manggarai itu diwariskan dari neneknya juga. Entah kapan, di mana, dan dalam konteks apa cerita-cerita itu diproduksi (sebagai fiksi atau kisah nyata), yang pasti adalah bahwa sampai saat ini cerita-cerita itu direproduksi secara terus menerus. Pada masa kecil, kami hanya bisa tidur malam kalau Énde Pau sudah menceritakan paling kurang satu kisah dongeng. Di pertengahan dongeng kedua, kami lelap, dan kadang-kadang Ia tetap bercerita tanpa tahu bahwa kami semua sudah tidur sangat nyenyak. Sampai saat ini, kalaupun kami tidak mengingat persis kronologi kisah cerita-cerita tersebut, fragmen-fragmennya tetap ada dalam ingatan. Judul-judul yang sangat mewakili isi cerita-cerita tersebut juga kami ingat. Momen liburan menjadi waktu yang pas untuk mengais kembali ingatan-ingatan tersebut.

Di tengah kondisi terpinggirnya tradisi mendongeng di kalangan generasi milenial, memancing kembali sang nenek untuk bercerita bukan hanya bermaksud mengenang masa kecil yang penuh kebahagiaan. Setelah dewasa, masing-masing kami sadar bahwa kisah-kisah itu memiliki makna yang amat mendalam. Kisah-kisah itu menceritakan situasi sosial manusia yang hidup bergerombolan sebagai masyarakat dalam suatu konteks kebudayaan tertentu (Manggarai). Setiap kalimat yang menyusun tubuh cerita menyiratkan keadaan sesungguhnya yang terjadi, meski dengan gaya bahasa tertentu yang kadang berlebihan (hiperbolik). Yang lebih penting adalah bahwa kisah-kisah itu menyimpan nilai-nilai kebajikan hidup berkeluarga dan bermasyarakat. Ia mengandung dimensi kearifan yang meski tidak diceritakan semenarik momen audio-visual dari sinetron televisi zaman sekarang, tetapi berhubungan sangat kontekstual dengan cara-cara manusia bersikap dan bertindak di bawah kolong langit ini.

Secara sederhana, dongeng-dongeng tradisional membantu masyarakat dalam upaya menjaga warisan nilai budaya yang hampir punah oleh kemajuan zaman. Di samping itu, proses penceritaannya juga sederhana, tidak membutuhkan banyak alat peraga, tidak membutuhkan alokasi waktu formal seperti pembacaan naskah kotbah pastor di mimbar Gereja. Dongeng tradisional diceritakan saat hendak tidur malam atau saat duduk bersama sebagai satu keluarga pada malam hari.

Penokohan dongeng-dongeng tradisional juga sederhana, lugas, tegas, dan mudah dimengerti. Yang paling mudah ditemukan adalah tokoh-tokoh protagonis dengan karakter bajiknya mengalahkan kesombongan, sikap boros, sifat licik dan penipu dari tokoh antagonis. Konteks cerita biasanya disesuaikan oleh pengkisah dengan situasi para pendengar, biasanya oleh orang tua kepada anak dan cucu-cucunya. Di akhir cerita, ada semacam ‘epilog’ yang isinya menegaskan pesan moral dari cerita tersebut.

Melalui dongeng tradisional, warisan nilai, kebajikan, dan kearifan masyarakat lokal dapat dijaga. Dongeng mampu melawan imperialisme zaman modern yang menggerus karakter dasar masyarakat tradisional dengan nilai-nilai individualisme, konsumerisme, dan hedonisme. Pola pendidikan zaman sekarang, hemat saya perlu mengakomodasi dongeng sebagai metode tradisional penanaman nilai-nilai kebajikan lokal yang penting untuk dijaga bersama. Dalam rangka itu, pendidikan yang efektif tentu saja tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang keluarga dan masyarakat.

Tanpa sadar, beberapa kisah dongeng Manggarai sudah diceritakan Énde Pau dan biji-biji cengkeh hasil panenan hari ini sudah kami pisahkan dari tangkainya. 

Penulis: Anno Susabun|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *