Mengenang Tustel Bikin Depresi

332 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Kini kita sedang menikmati revolusi digital secara besar-besaran. Bukti sederhananya artikel yang Anda baca ini, tidak lagi diketik menggunakan mesin tik tetapi komputer.

Saudara-saudari pembaca setia tabeite.com, artikel yang sedang Anda lahap ini mencoba membawa kita kembali ke belakang untuk melihat kenangan satu dekade yang telah lewat. Tidak ada salahnya toh kita kembali menengok kenangan yang telah berlalu, yang salah itu, saat Anda mencoba kembali ke pelukan mantan.

Di awal milenium kedua, perkembangan dunia digital belum menggairahkan seperti sekarang ini. Tinggal di pelosok Manggarai Timur dengan segala keterbatasannya, ditambah dengan ekonomi yang melarat turut menghempaskan kami dari pemahaman akan perkembangan teknologi. Saking gagapnya dengan teknologi, kami beranggapan bahwa siapa saja yang membawa tustel saat berkunjung ke kampung kami akan dianggap sudah melek teknologi. Beliau yang membawa tustel tersebut pun disambut dengan hormat, bak sejumlah purnawiran TNI menghormati Prabowo, yang beredar di Youtube itu.

By The Way alias ngomong-ngomong, apakah Anda tahu tustel? Jika tidak, Anda sungguh terlalu. Saya terangkan, tustel adalah alat potret. Istilah tustel sendiri merupakan bahasa serapan dari bahasa Belanda yakni fototoestel. Tustel merujuk pada body lensa, lensa, blitz dan semua elemen yang merekat pada alat potret. Bingung kan ? Saya pun demikian.

Sekarang kita sering menggunakan istilah “kamera” karena fonetiknya keinggris-inggrisan. Jangan heran kita merasa pede saat menggunakan istilah kamera dibandingkan tustel. Padahal kamera bukan seperangkat alat potret tetapi hanya satu bagian dari alat potret tadi. Bahkan, akan menganggap kampungan jika seseorang memakai istilah tustel. Ya sudah, sebagai anak kampung yang kampungan maka kita sepakat untuk menggunakan istilah tustel saja. Sepakat kan?

Di Flores pemakaian istilah tustel merujuk pada kamera analog. Kamera analog berbeda dengan kamera digital. Pasalnya, di kamera digital, Anda dapat menjepret banyak foto untuk kemudian melihat hasilnya pada layar yang tersedia. Jika tidak suka, Anda bisa langsung menghapusnya. Konsep demikian tidak berlaku pada kamera analog. Bagus atau tidaknya hasil jepretan baru dapat diketahui setelah proses cetak atau yang bapak saya sebut cuci foto.

Sebagai generasi milenial yang disebut juga sebagai generasi Y, atau kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an sampai 1997, kita tentu pernah difoto menggunakan tustel. Maklum, sebelum pengaruh kamera digital berkembang pesat, tustel memiliki narasi tersendiri. Tustel hampir sama dengan mantan, cukup dikenang namun merasa gengsi untuk kembali ke dalam pelukannya. Iya toh?

Tustel punya kenangan tersendiri dalam hidup saya. Pada tahun 2004 silam, saya mengikuti sambut baru atau menerima sakramen komuni pertama, bukan pesta sekolah seperti jawaban dari Betran Peto ketika ditanyai oleh Ruben Onsu di acara Brownis Trans TV. Sambut baru dan pesta sekolah itu beda, tapi beruntung kang Ruben paham saat Betran menjelaskan bahwa sambut baru itu pesta sekolah. Hadeh.

Sore sebelum esoknya mengikuti sambut baru di Gereja St. Yosef Golo Mongkok, kami kebingungan untuk mencari tukang foto. Di tengah kami hadapi kebingungan berjemaah, dan sesaat sebelum bapak saya menyalakan lampu gas, tiba-tiba datang ke rumah kami seorang anak muda yang sebelumnya tidak diundang sama sekali. Saya sudah lupa namanya. Kabar baiknya ia datang dari desa yang jauh sembari membawa tustel . Bisa ditebak bahwa seisi rumah menyambutnya seperti seorang gembala yang sedang berkunjung di tengah domba-dombanya. Meriah sekali.

Tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja, tukang foto tadi disuguhkan dengan makanan dan minuman yang enak-enak. Usai obrolan basa-basi dari ayah saya, tukang foto tadi dengan senang hati mengiyakan permintaan kami untuk istirahat semalam di rumah kami. Saya pun senang bukan main. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Gereja, saya pun sempat dijepret. Begitu juga saat proses penerimaan komuni di dalam Gereja, hingga kembali ke rumah untuk mensyukuri rahmat Tuhan melalui tubuh dan darah Kristus, tukang foto tadi melayani dengan baik.

Lalu, mengapa saya yang sebagai anak kampung begitu senang saat ada tukang foto dalam acara sambut baru? Jadi begini saudara-saudari yang terkasih, komuni pertama untuk orang Manggarai biasanya dirayakan secara besar-besaran. Sebagai bentuk rasa syukur wajib hukumnya untuk diabadikan dalam kenangan, keberadaan tukang foto pun sangat dibutuhkan perannya. Lagian sebagai anak kampung jarang-jarang untuk difoto. Kami difoto hanya untuk kepentingan foto pas di sekolah dan foto sambut baru. Iya to?

Setelah dijepret kita belum dapat mengetahui hasil fotonya bagus atau tidak. Tukang foto terlebih dahulu berangkat ke Remaja Photo di Kota Ruteng, tempat satu-satunya yang bisa melayani cuci foto di seantero Manggarai. Percaya deh, Remaja Photo memiliki kualitas cuci foto terbaik sejagat raya. Eh, malah iklan…

Hasil jepretan menggunakan tustel mengundang rasa penasaran. Melihat hasil cucinya bisa saja sesuai ekspektasi, melebihi ekspektasi, bahkan yang paling parah tidak sesuai ekspektasi sama sekali.

Saya termasuk yang tidak sesuai ekspektasi hasil cuciannya. Setelah diamati hasilnya, satu dari foto yang berhasil dicetak hasilnya begitu mengecewakan. Penampilan saya dengan berjas dan dasi kupu-kupu sudah cakep setidaknya menurut mama dan saudara-saudara saya. Sayangnya lilin setinggi 20 cm yang saya pegang berhasil menutup sebagian wajah saya.

Akibatnya, hasilnya terkesan buruk. Jujur hingga kini saya merasa bersalah dengan gaya berfoto saya yang kesannya begitu mengecewakan itu. Boleh dibilang saya depresi gara-gara tustel. Seandainya saat itu gaya berfoto saya baik-baik saja mungkin saya tidak akan kecewa.

Ah, sudahlah! Hingga kini sudah tidak terhitung rasa kecewa yang pernah saya alami. Entah mulai dari gaya berfoto saat sambut baru yang buruk, mantan kekasih yang pergi tanpa permisi hingga engkau yang memberikan harapan namun ujung-ujungnya mencundangi harapan.

Penulis : Erik Jumpar | Seorang Guru Jomblo|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *