Di Kampung Saya Mengurus DAPODIK sama Susahnya dengan Menonton Youtube

315 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Kamis besok tak terasa sudah tanggal 2 Mei. Saya jadi ingat kenangan 2 Mei saat saya kecil. Jangan tanya kenapa saya menyebut hari pendidikan nasional dengan 2 Mei, selain karena memang di kalendernya tanggal 2 Mei, sedari esde saya dan hampir semua teman-teman saya lebih fasih menyebut 2 Mei dibanding hari pendidikan nasional. Eitsss, bukan hal ini yang saya mau bahas.

Pembaca tabeite yang Budiman, kurang lebih sudah 60 tahun kita merayakan hari pendidikan nasional, terhitung sejak ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional yaitu pada saat dekrit presiden tahun 1959. Wajah pendidikan kita belum sampai pada titik cerah, masih butuh banyak polesan ponds dan tanah wulak.

Berbicara mengenai cerahnya pendidikan tentu sangatlah kompleks dan berkaitan dengan bidang-bidang lainnya mulai dari akses, kualitas maupun pemerataan pembangunan. Untuk itu saya mempersempit bahasan saya dari sudut wilayah. Dari sabang sampai merauke saya akan membahas Indonesia bagian tengah tepatnya kabupaten Manggarai Timur di NTT, dan tepatnya lagi di kampung saya. Ada yang protes saya menyebut NTT Indonesia bagian tengah? Sementara di tanah rantauan kita sering disapa orang timur. Tenang saya memakai zona pembagian waktu. hehehe

Di kampung, Bapak saya adalah seorang guru, saya sangat bangga dengan bapak saya dan semua guru tentunya. Berbicara soal guru pasti tidak asing juga dengan dunia pendidikan, ibaratnya guru ini salah satu pemeran penting dalam panggung pendidikan, bukan sebatas cameo walaupun sebagian kecil sekarang banyak yang jadi cameo. Banyak kritik mengenai kualitas guru termasuk saya juga sering mengkritik, tapi guru-guru hebat masih sangat banyak dan jangan munafik juga, tanpa guru kita ini bisa apa? Mungkin artikel singkat ini juga tidak ada kalau bukan karena guru saya mengajarkan saya tentang menulis.

Memiliki bapak seorang guru, tentunya saya tahu dong realita kehidupan sekolahan di kampung saya. Satu hal yang sering dikeluhkan bapak adalah masalah akses signal terutama ketika jadwal pengisian dapodik yang biasanya terjadi setiap triwulan sekali. Bukan masalah apa ase kaen aplikasi dapodik ini penting karena dari kepanjangannya saja DAta POkok pendiDIKan, di dalamnya berisi data-data penting sekolah bersangkutan, mulai dari data guru sampai dengan siswanya, tapi signalnya ini kah, parah bukan main.

Kata bapak saya setiap triwulan dapodik ini selalu diperbaharui sehingga setiap triwulan juga harus diisi dan diupload data-data baru sesuai dengan perubahan yang ada. Meskipun pengisiannya bisa di lakukan secara offline, tetapi untuk mendownload aplikasi dan mengupload tentunya butuh signal dong. Belum lagi jika ada info dari dinas berkaitan dengan dapodik ini, disampaikannya hanya lewat WhatsApp. Hadehh

Alhasil jika tiba saatnya mengurus program pemerintah ini, bapak saya hampir sepekan harus menetap di Borong, sekalian jaga-jaga jika ada kesalahan data dan ada info-info baru yang munculnya dari WA saja biar langsung diselesaikan di kantor dinas. Selain sebagai anak dan murid saya sebagai masyarakat tentunya miris dengan hal ini, betapa regulasi pemerintah sangat menyulitkan bagi kita yang dipelosok-pelosok.

Benar kata om Abdur orang kota sibuk dengan sistem-sistem online, sementara di kampung saya oh lainnn, lain dari yang lain. Jangankan mengurus dapodik atau memakai WA, signal untuk telepon saja harus panjat pohon atau mendaki bukit. Ini keluhan mainstream orang-orang di kampung saya. Mengurus dapodik di kampung saya sama halnya disuruh untuk menonton youtube. Anda mau pakai kualitas paling rendahpun bufferingnya sampai pemerintah turun tangan.

Sebagai penggemar Majelis Lucu Indonesia, menggunakan nada roasting Coki dan Tretan Muslim saya ingin mengungkapkan unek-unek saya “Hey Menteri Pendidikan dan Jajarannya, anda kalau mau buat regulasi yang berbau digital-digital, ya ratain dulu pembangunan dan aksesnya, jangan hanya ashyaapp-ashyaappp saja kalau masyarakat mengeluh tapi tidak ada bukti nyatanya”. Dan juga untuk dinas pepeo Matim, “Bapak dua Ibu dua yang saya hormati, jangan sok-sok an pakai WhatssApp untuk kepentingan umum, macam tidak tahu saja masih banyak daerah-daerah di Matim yang signal untuk telepon dan sms saja susah. Anak-anak di kota sudah bisa menghasilkan uang hanya lewat main ML Mobile Legend, sedangkan adik-adik saya di kampung untuk ikut olimpiade mata pelajaran saja susah. Info dari dinas disampaikan lewat WA, pesannya masuk olimpiade sudah selesai. wadawww

Penulis: Nang Tasuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *