5 Reaksi Para Caleg yang Keberhasilannya Tertunda

Ilustrasi Foto : Kaganga.com

438 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Sa tir mau pake kata gagal. Saya pakai ‘keberhasilan tertunda’ untuk situasi: ribuan orang gagal menjadi anggota legislatif. Eh, kok ada kata ‘gagal’ juga? Ah, sudahlah. Abaikan saja kata ‘gagal’ itu. Asal jangan orangnya. Itu akan menyakitkan. Iya to, Kaka? Cukup Kertas Band dan Pinkan Mambo saja yang merasakan sakitnya menjadi kekasih yang tak dianggap.

Frasa ‘keberhasilan tertunda’ ini saya pilih karena betapa teganya kalian tak memilih mereka April kemarin jauh lebih positif. Lebih sejuk. Dan menyenangkan. Bukankah sesuatu yang positif itu perlu disambut gembira? Kecuali positif sakit, itu tidak menyenangkan. Tetapi positif hamil? Bayangkan senangnya pasangan baru yang mendapati dua garis biru di test pack. Bahwa dua garis juga kadang bikin panik, itu soal lain. Ehmmmm… Lagipula, bukankah kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, Hanum?

Nah, seperti biasa, pasca-Pemilu, Fadly Zon dan Hanum Rais ribuan caleg sudah tahu bahwa keberhasilan mereka tertunda. Jumlah yang memilih tidak sebanyak jumlah jempol yang mampir di laman medsos mereka. Poster bikinan desainer grafis amatiran yang mereka pajang di ujung-ujung gang, hanya sempat bikin tercengang—wajah mereka jauh lebih mulus dari aslinya—tetapi tak cukup menggerakkan hati orang-orang untuk memilih.

Menyadari tertundanya keberhasilan itu, reaksi tiap caleg yang mengalaminya pasti berbeda-beda. Ada lima yang sering dijumpai.

Satu, Salahkan Tim Sukses

Semua sudah tahu bahwa tiap caleg punya tim sukses. Tugas utama mereka adalah meminta uang yang banyak dari caleg untuk membeli sepeda motor baru berkampanye tentang kebaikan caleg mereka. Timses diberi tugas meraup suara sebanyak-banyaknya. Ongkos politik dikeluarkan sesuai target.

Ketika realisasi ternyata jauh dari target, tim sukses harus ditegur. Dimarahi. Agar mereka ingat bahwa mereka tidak maksimal bekerja.

Sayang sekali, kemarahan seperti itu kerap menampar angin. Tim sukses tak ada di tempat. Mereka telah pergi. Dengan sepeda motor baru. Melaju cepat sekali. Meninggalkan kebas angin di wajah caleg itu. Uh… Sedih sekali. Bertambah sedih jika caleg itu adalah pendukung Barcelona. Sakit dobel-dobel.

Dua, Menuntut Balas Jasa

Apa-apaan ini? Belum terpilih kok merasa pernah berjasa. Hebat benar. Padahal belum tentu ijazahnya benar-benar diperoleh di sekolah. Upsss…

Begini. Dalam rangka mendulang suara, banyak caleg yang bagi-bagi bantuan. Ini bukan money politic ya. Sebut saja ini sebagai pemecah gunung es. Karena baru berkunjung jelang Pemilu, umumnya mereka tidak dikenal. Tak kenal maka tak sayang. Biar disayang, abang harus bawa uang.

Tapi… uang kan haram di politik. Harus bagaimana? Padahal untuk dapat dipilih, seseorang harus punya jasa dahulu.

Maka, usaha tanam jasa dilakukan. Tidak dengan uang. Pakai cara lain saja. Bisa berupa bantuan bola kaki dan bola voli untuk Karang Taruna, atau seragam line dance untuk Bapa-Ibu sekalian, atau bahan bangunan untuk masyarakat adat dan pembangunan rumah ibadah. Bisa juga dengan menawarkan cinta yang genit. Cie cieee…

Namun, mereka tak dipilih. Lalu menjadi kecewa. Barang-barang bantuan ditarik lagi. Bola kaki dan bola volley dibawa pulang sebagai balas (baca: mengambil kembali) jasa yang telah ditanam. Tetapi terlalu banyak jumlah bola-bola itu. Harus diapakan? Dibelah. Dijadikan pot bunga. Seragam line dance juga begitu. Diambil. Dirapikan lagi. Untuk modal Pemilu berikut. Bahan bangunan? Yang belum terpakai diambil lagi, yang sudah telanjur digunakan, disumpahi saja. “Semoga bangunannya cepat rusak. Biar dunia tahu bahwa karma itu ada.” Tuhan e…

Cinta? Tanyakan pada Rangga apakah dia masih terus membuat Cinta merasa kebingungan. Atau ke Velove tentang betapa hatinya terganggu dipandang mesra oleh Nicolas di tengah hutan. Atau pada tanganmu yang selalu menepuk angin. Halaaah.

Tiga, Masa Bodoh

“Kalah menang itu urusan Tuhan. Yang penting kita sudah berusaha,” kata salah seorang caleg. Ketika mengatakannya, dia tersenyum lebar. Toh, kemarin tak ada modal keluar. Dia jadi caleg karena dipaksa orang partai yang kesulitan mencari daftar caleg di nomor urut empat sampai seterusnya. Biaya pembuatan poster disiapkan partai, biaya pemasangannya juga dianggarkan partai. Mengapa harus sedih?

Caleg kita ini terus tersenyum. Membeli kebutuhan rumah tangga dengan uang poster yang kemarin disimpan saja. Untuk apa pasang poster kalau pasti tidak dipilih?

Empat, Pindah Partai

Langkah ini akan segera dilakukan oleh caleg-caleg yang partainya terancam tak boleh ikut Pemilu karena perolehan suara mereka yang tidak cukup untuk sekadar bertahan hidup parliamentary threshold. Mana mau mereka berjuang untuk partainya? Kemarin mereka jadi caleg agar jadi anggota dewan yang terhormat. Tidak ada hubungannya dengan ideologi partai. Mereka tidak akan repot-repot berjuang membesarkan partai itu.

Nanti, di Pemilu berikut, mereka akan muncul lagi dengan di baliho-baliho. Dengan jas yang baru. Bisa jadi, mereka akan jadi caleg dari partai yang ideologinya sama sekali berbeda dengan yang dulu. Jangan heran. Mereka politisi yang bisa menjual jelaskan apa saja agar semua tampak masuk akal. Termasuk warna baju line dance yang dibagi tidak sesuai dengan warna bendera partai mereka yang baru. Lha iya. Kan bajunya dari lima tahun lalu to?

Lima, Berterima Kasih

Setelah tahu mereka gagal keberhasilannya tertunda, ada caleg yang langsung menyapa para pemilihnya. Menyampaikan ucapan terima kasih dan mengatakan sesuatu yang menyenangkan.

Misalnya: “Betapa besarnya dukungan bapa-mama-kaka-ade semua telah membuat saya merasa bahwa kita telah ada di jalur yang benar. Perjuangan belum selesai. Saya yakin kali berikut pasti akan lebih baik lagi. Teruslah bekerja, dukung calon-calon yang telah terpilih agar mereka bekerja buat bangsa ini. Saya cari uang dulu.”

Indah sekali, bukan? Sayang, jumlah caleg-caleg begini, tidak banyak. Sedikit sekali. Sangat sedikit. Sungguh amat sedikit (dan bikin sedih) jumlah mereka yang berterima kasih dengan tulus. Dan karenanya, rasa hormat yang tinggi patut mereka terima. Dari kita-kita semua. Yang sudah pernah bilang akan mendukung mereka tetapi terpaksa pilih orang lain karena dia bawa beras, minyak tanah, pupuk kita anggap lebih mampu.

Ada juga yang berterima kasih tetapi dengan kalimat yang pedas.

Misalnya: “Saya berterima kasih telah melalui proses ini. Dengan demikian saya tahu mana masyarakat yang tahu berterima kasih atas sumbangan saya, dan mana yang hanya menerima uang saya tapi memilih yang lain. Semoga sodara-sodari tidak akan mengalami kesulitan. Kita akan ketemu di titik itu dan kalian akan tahu bla bla bla.”

Iiisshh… Ucapan terima kasih macam apa itu?

Namun, bagaimanapun, Pemilu memang selalu begitu. Ada yang terpilih, ada yang dipilih tapi belum terpilih, ada yang ingin dipilih tapi ditipu tim sukses, dan ada ribuan orang yang setiap lima tahun siap menjadi anggota dewan. Kalau toh akan tertunda lagi keberhasilan itu, biasa saja. Bagi yang memang sudah dewasa sikap politiknya. Yang mudah putus asa? Bisa jadi akan banting stir. Misalnya menjadi tim sukses. Biar bisa beli sepeda motor baru. Seperti pepatah: tak ada rotan, sepeda motor baru akar pun jadi.

Penulis : Armin Bell|Blogger|Penulis Buku Cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *