Ada-ada Saja Hal yang Patut Ditertawakan Saat Berdoa Rosario di Kampung

505 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Dalam tradisi Gereja Katolik bulan Mei dan bulan Oktober dijadikan sebagai bulan devosi khusus kepada Bunda Maria. Bulan Mei disebut Bulan Maria. Sedangkan Bulan Oktober disebut Bulan Rosario. Doa Rosario sebagai doa renungan atas misteri keselamatan mulai dari saat Yesus dikandung sampai ia dimuliakan di surga dan mengutus Roh Kudus. Sembari mendaras doa Salam Maria diulang (10 kali), para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario.

Jalannya doa Rosario berlangsung selama sebulan penuh. Pola yang dilakukan selama bulan Rosario dengan berdoa secara bergilir dari rumah ke rumah umat pada tingkatan Kelompok Basis Gereja (KBG). KBG merupakan bentuk terkecil dalam struktur Gereja Katolik dengan jumlah anggotanya di kisaran 20-35 Kepala Keluarga. Anggota KBG akan datang berdoa ke rumah salah satu umat yang menjadi tuan rumah, tempat dilaksanakannya doa Rosario.

Doa Rosario dipimpin oleh ketua KBG. Ia bertanggung jawab penuh terhadap jalannya doa Rosario. Sukses dan tidaknya doa Rosario tergantung dari keseleo dan tidaknya lidah dari pemimpin doa Rosario. Jangan heran  ketua KBG akan dimandatkan pada Guru atau pekerja kantor lainnya, dengan dalih bahwa lidah mereka nyaris jarang keseleo saat memimpin doa-doa di tingkat KBG. Mereka dipercaya dapat memimpin KBG, terutama membantu jalannya aktivitas rohaniah di tingkat kelompok.

Selama doa Rosario berjalan ada-ada saja satu dan dua kejadian unik yang terjadi. Salah satunya saat Salam Maria bergilir tentu kita pernah menyaksikan anak yang entah kenapa, melakukan kesalahan kecil saat Salam Maria. Barangkali anak yang mendapatkan giliran untuk mendaraskan Salam Maria mendadak pudar konsentrasinya. Seketika kejadian seperti ini biasanya mengundang gelak tawa dari anak-anak kecil yang lain. Tidak apa-apa sih sebenarnya, namanya juga anak kecil. Apa-apa ditertawain, meski pada saat bersamaan ada orang tua yang sedang memerhatikan mereka sembari memasang wajah yang sangar. Mereka biasanya hanya menanggapi dengan tertunduk sembari tetap tersenyum.

Sementara kejadian unik yang lain terjadi saat seseorang ditugaskan untuk mendaraskan peristiwa  Rosario. Kejadian ini terjadi saat lidah mulai belibet dalam merangkai kata demi kata dengan semangat dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sayangnya, apa bisa dikata, maksud hati memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai. Bermaksud hati memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalah daya kandas di melaju. Reaksi spontan dari peserta doa pun tak bisa dihindari. Gelak tawa dari anak kecil akan terdengar, dan tentu saja akan diikuti dengan imus rebok  dari orang tua yang menahan diri untuk tidak tertawa. Apabila tawanya mulai riuh, bisa-bisa ketua KBG membatalkan doa Rosario yang sedang berjalan sampai situasinya kembali tenang. Setelah situasinya bisa dikendalikan, baru doa Rosario dimulai dari awal.

Ruang temu selama doa Rosario berjalan dalam warna persaudaraan yang sangat kental, pun begitu sesudah doa Rosario akan diisi dengan ragam obrolan dari umat yang hadir. Tidak berlebihan jika kita memanfaatkan doa Rosario sebagai medium untuk sosialisasi diri, sebab topik dari tepi pematang sawah di Wae Laku hingga ihwal keputusan pengambil kebijakan di Lehong sana dibicarakan.  Namun harapan saya, untuk semua calon kepala desa di Manggarai Timur yang kini sedang memasuki masa kampanye, tolong jangan memanfaatkan ruang temu saat doa Rosario untuk kampanye. Tolong! Jangan cari gara-gara, nanti dapat toki dari ketua KBG.   

Tuan rumah akan menyuguhkan hidangan yang istimewa usai doa Rosario dijalankan, apalagi kalau bukan minuman kebanggaan kita semua, kopi yang sedapnya matipunya itu. Teman minum biasanya pisang goreng, kue donat, dan roti bakar. Oh ya, orang-orang di tempat saya merantau dulu menyebut pisang goreng dengan goreng pisang. Entahlah! Anak-anak kecil yang hadir doa Rosario tentu mengisi kesempatan menikmati makan-minum ringan dengan senang hati.

Di zaman kami kecil dulu, tuan rumah tidak menyuguhkan kue saat doa Rosario seperti yang terlihat  sekarang di kami pu kampung halaman. Tuan rumah menyuguhkan ubi-ubian. Maklum, di zaman  itu persediaan ubi-ubian masih melimpah. Sekarang di tengah kampanye konsumsi beras yang kian masif, orang perlahan-lahan untuk tak lagi mengonsumsi ubi, termasuk sekadar untuk tak menanamnya di kebun. Jangan heran setelah sekian malam mengikuti doa Rosario, suguhan akan ubi-ubian tak lagi terlihat. Padahal peminatnya mah jangan ditanya. Banyak pokoknya.  

Meski sedikit bergeser dari pengalaman masa kecil kami dulu dalam urusan menyuguhkan hidangan bagi umat yang hadir, doa Rosario tetap menyentuh hati dan menusuk kalbu. Pengalaman bertemu dengan sesama saudara seiman bersama dengan cerita-cerita tentang keseharian hidup sebagai orang-orang desa jadi bahan cerita yang terus dicerna. Sebagai orang kampung yang kebetulan sekarang menetap di kampung, saya berjanji dengan pacar saya untuk bersamanya di sisi dalam hati untuk terus datang mengikuti setiap doa Rosario. Barangkali dengan tekun hadir doa Rosario, nene bunda akan mengirimkan saya jodoh dalam waktu yang akan datang.

Akhir kata, demikian pidato saya kali ini selamat memasuki bulan Rosario untuk kita semua. Pesan saya hanya satu, tolong ikuti doa Rosario. Anak-anak muda mari datang dan ikuti doa Rosario. Jangan terus-terusan berdiam diri di depan layar hape demi main efbe dengan menggunakan mode gratis. Mari membantu tuan rumah menghabiskan kopi, pisang goreng, roti bakar dan kue donat. Mari!

Cerita unik kamu saat doa Rosario berlangsung, apa saja, Gengs? Jangan lupa dibagi ya pengalaman uniknya.

Penulis: Erik Jumpar|Tuapanga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *