Workshop Literasi Digital di Mano, Ajak Pengguna Medsos Untuk Bijak Berkarakter di Media Sosial

Pemateri berfoto dengan peserta (foto; dok. panitia)

Loading


Erik Jumpar II Redaksi

Perjumpaan dalam agenda pekan literasi digital dari Kementerian Komunikasi dan Informatika terus berlanjut di tanah Lawe Lujang. Kemarin dari pagi sampai siang, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, mereka mengadakan workshop di Aula Paroki Santo Paulus Mano, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur. 

Komika sekaligus penulis, Itok Aman, berperan sebagai pemandu workshop. Dalam acara yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat sekitar, ia kerap mengeluarkan lelucon yang mengundang tawa.

Workshop ini dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Bonifasius Sai. Dalam sambutannya, ia mengajak pengguna aktif media sosial untuk lebih beretika dalam membangun komunikasi.

“Percakapan di media sosial harus dibangun atas kesadaran diri, bukan sekadar permainan jemari yang tidak terkontrol dengan baik oleh otak dan etika,” jelasnya.

Ia menyinggung bila orang Manggarai Timur lekat dengan budaya. Segala nilai-nilai budaya menurutnya tidak boleh dilabrak hanya karena tuntutan eksistensi diri di media sosial. 

“Jangan sampai kita memosting sesuatu yang bertentangan dengan budaya,” ajaknya. 

Workshop ini dimulai dengan pemaparan materi pertama dari Yergo Gorman. Pemerhati kebijakan publik dan pegiat media di Matimpedia ini melihat bahwa sekarang manusia mengalami konflik dengan media sosial. 

Dalam pandangannya, ia melihat bila ada dua entitas yang terpisah, namun terhubung dalam kecanduan akan kenikmatan. Kecanduan ini pada akhirnya berakibat fatal dalam relasi manusia dengan lingkungannya. 

“Lewat media sosial kita medapatkan kenikmatan atau ketergantungan akut, namun dengan lingkungan sosial, kita menjadi teralienasi atau mengalami keterasingan sosial,” jelasnya. 

Kecanduan akan berakibat pada risiko yang merugikan. Pengguna harus bisa mengontrol saat berselancar di media sosial, bila tidak akan kecolongan, bahkan dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

“Pergunakan dengan baik, entah untuk berbisnis atau untuk menjadi konten kreator,” lanjutnya. 

Ia turut menyoroti berbagai kecemasan yang timbul dari media sosial. Ancaman cyberbullying berupa perilaku yang bertujuan untuk menakuti, membuat marah atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran. Polemiknya tersebar dalam bentuk interaksi yang selama ini telah terjalin di media sosial. 

“Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memosting foto memalukan tentang seseorang di media sosial. Bisa juga dengan membuat akun palsu, membajak akun milik orang lain atau mencuri identitas orang lain untuk mempermalukan orang lain,” jelasnya memberi contoh dari cyberbullying

Di bagian akhir, ia memberi langkah praktis dalam menggunakan media sosial. Menurutnya harus ada kebiasaan membaca dan melatih diri untuk membangun self filter serta adanya kebiasaan untuk memiliki sikap kritis dalam membaca berita, informasi dan peristiwa. 

“Cek baik-baik setiap berita yang tersebar di media sosial. Lakukan verivikasi sebelum kita menyebarkan berita di media sosial. Pergunakan media sosial untuk kegiatan-kegiatan positif,” tutupnya. 

Pemaparan materi kedua dibawakan oleh Mensi Anam, Advokat sekaligus pegiat Komunitas Cenggo Inung Kopi Online. Sebagai praktisi hukum, ia menyoroti manfaat UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) bagi pengguna media sosial.

“UU ITE menjamin kepastian hukum untuk masyarakat dalam melakukan transaksi elektronik, mendorong adanya pertumbuhan ekonomi di Indonesia, mencegah adanya kejahatan yang dilakukan melalui internet dan melindungi masyarakat dan pengguna internet lainnya dari berbagai tindakan kejahatan online,“ jelasnya. 

Menurutnya, dengan kehadiran UU ITE di tengah masyarakat akan memberikan kepastian hukum dalam transaksi dan sistem elektronik serta perangkat pendukungnya. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan ekonomi di bidang digital. 

“UU ITE memberikan perlindungan bagi para pengguna bila menjadi korban dari transaksi elektronik,” jelasnya.

Ia juga menyinggung agar pengguna media sosial perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengeluarkan konten di media sosial. Media sosial menurutnya harus dipergunakan untuk sarana komunikasi yang baik dengan bahasa yang lebih santun. 

“Tetap beretika dalam menggunakan media sosial, hindari ujaran kebencian, jangan sampai terjerat hukum,” tutupnya. 

Workshop ini ditutup dengan pemaparan materi dari Popind Davianus, salah satu pendiri Tabeite. Ia menyinggung seputar media sosial dan cara untuk membangun personal branding di media sosial. 

“Individu, public figur maupun pelaku usaha dapat menyampaikan berbagai inspirasi dan hal positif di media sosial yang akan memberikan perubahan pada kehidupan,” jelasnya. 

Data dari We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlahnya meningkat 12,35 % dibandingkan pada tahun sebelumnya sebanyak 170 juta orang. Adapun pengguna terbanyak yakni WhatsApp sebanyak 88,7 %, Instagram sebanyak 84,8 %, Facebook sebanyak 81,3 %, Tiktok sebanyak 63,1 %dan Telegram sebanyak 62,8 %. 

“Harapannya kita menjadi salah satu pengguna media sosial yang beretika,” jelasnya. 

Ia turut membicarakan tingkat kesopanan pengguna media sosial di Indonesia dalam interaksi di dunia maya. Data dari Microsoft menempatkan Indonesia berada di urutan ke 29 dari 32 negara di Asia Tenggara. 

“Angkanya menunjukkan rendahnya kesopanan di media sosial, semoga setelah semakin banyak workshop seperti ini akan membuat pengguna media sosial di Indonesia makin cakap,” harapnya. 

Pengguna aktif media sosial menurutnya harus membangun personal branding yang jelas. Ia mengharapkan agar pengguna media sosial untuk membuat profil diri yang menarik, fokus pada platform yang tepat, memiliki kekhasan, rutin produksi konten, manfaatkan fitur dengan meningkatkan engagement, bangun relasi dan maksimalkan media sosial untuk hal positif. 

“Jangan hangat-hangat tai ayam dalam membangun personal branding di media sosial, sebaiknya konsisten dalam memproduksi konten,” tutupnya. 

Perjumpaan ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Jumlah penanya ada sepuluh orang, setiap penanya diberi hadiah berupa earphone bluetooth. Selanjutnya dua orang pemateri memberikan kuis. Ada dua orang beruntung yang mendapatkan smartphone, sementara hadiah utamanya berupa laptop, setelah penerima hadiah laptop membuat video reels di Instagram lalu memention Instagram dengan  nama akun Literasi Digital Kominfo. 

Workshop ini turut dimeriahkan oleh Kopi Hitam Band. Mereka membawa lima lagu saat break untuk makan siang. Band garapan anak muda Manggarai Timur ini menambah semarak menghidupkan budaya cakap digital. 

Pekan literasi digital di Manggarai Timur berakhir, harapannya orang Manggarai Timur makin cakap dalam bermedia sosial. Kita seringkali lupa bahwa dalam bermedia sosial, kita punya kebebasan untuk bersuara dan berpendapat, tetapi kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan pengguna media sosial yang lain. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *