Ahok; Sopir Seribu Jeriken

 704 total views,  1 views today


Penulis: Apek Afres|Redaksi

Memang Ahok sudah jadi sopir? Jangan salah kaprah dulu, nama Ahok di seantero Indonesia ini tidak cuman satu. Kalau Ahok yang dari Belitung Timur itu mantan gubernur Jakarta, bisa saja di tempat lain ada Ahok yang menjadi penjual pentol, satpam, guru bahasa jepang bahkan di kampung saya Ahok menjadi sopir oto kol.

Nama Ahok bukan pemberian orangtua, hanya karena selama mengendarai oto kol beliau sering batuk,  lahir lah nama panggilan baru “Ahok”. Jika Ahok di Jakarta dibenci karena kepemimpinannya yang tempramen, sebaliknya Ahok di kampung saya disenangi hampir seluruh lapisan masyarakat karena kebaikannya.

Gegara Ahok di kampung yang sering batuk ahuuk ahuk itu saya kemudian berpikir, apa semua manusia bernama Ahok di negeri ini baik semua ya?  Lah iya, Ahok yang saya kenal kok semuanya manusia baik.

Ahok di kampung saya, nama sebenarnya Yohanes Erong. Belio lahir di Golo Borong pada tahun 1989. Penasaran kan kenapa saya dengan penuh percaya diri meyebutnya baik?

Begini gius, eh gais. Ahok di kampung saya memang bukan pemimpin, dia seorang sopir yang sudah banyak membantu kehidupan masyarakat di kampung saya dan kampung sekitarnya.

Secara administratif kampung saya masuk kecamatan Rana Mese, sebuah kecamatan yang berbatasan langsung dengan kota Borong, ibu kota kabupaten Manggarai Timur. Sayangnya, kampung yang justru bersebelahan dengan kota Borong itu justru diperlakukan seperti anak tiri. Pembangunan antara Borong dengan kampung sebelah Wae Musur jomplang. Jalan berlubang, susah air bersih dan tidak mendapat aliran listrik. Saking susahnya kehidupan masyarakat di kampung sebelah Wae Musur, sampai-sampai Metro TV doyan melakukan liputan, dua kali masuk tivi loh. Kampung kami terkenal kan? Hmmm kalian bisa apa?

Kaitannya dengan Ahok apa coba?

Begini. Karena di kampung sebelah Wae Musur itu susah air, Ahok yang berprofesi sebagai sopir tadi setiap dua kali dalam seminggu mengangkut air dari Wae Musur untuk warga di kampung sekitar secara cuma-cuma alias tanpa dipungut biaya sepeser pun, sebatang rokok sudah cukup.

Ia berjuang mati-matian bersama kondekturnya menampung air ke jeriken milik warga yang ditimba di Wae Musur .

Pekerjaan mulia ini sudah dilakukan Ahok semenjak tahun 2015.

 “tahun 2015, ketika saya pulang dari perantauan, saya melamar menjadi sopir dan  diterima oleh Bapak Marianus Mampung, pemilik mobil ini”, jelasnya singkat.

“Berapa harga satu ceriken satu kali muat ge kae?” tanya saya sambil melihat banyaknya ceriken di  mobilnya.

“Ini kerja amal saya ase, walaupun nakal yang penting ada jiwa kebaikan dalam diri haha,” jawabnya santuy.

“Memang terbaik su kae nih”

“Kondisi sekarang memang menyakitkan ase. Kemerau yang begitu panjang, dari bulan Juni lalu sampai bulan november sekarang membuat beberapa kampung di sebelah Wae musur ini; kampung Lepeng, Padang, Ras, Tewuk, Golowelu, Muku Jawa, Goloborong, Kukung, mengalami kekeringan dan sangat kekurangan air. Saya juga merasa iba ase, sebagai masyarakat juga saya siap membantu sesama, yah, walaupun tidak seberapa tapi setidaknya saya membantu ase

“ Empat jempol untuk kae su.”

Waktu itu juga saya bertanya pada beberapa tokoh masyarakat. Salah satunya Dame Parus selaku ketua RT di kampung Goloborong.

“ Apakah tidak ada bantuan dari pemerintah desa setempat untuk membantu masyarakat yang mengalami kekurangan air ini pak?”

“ Saya lihat pemerintah desa tidak peduli dengan penderitaan masyarakat kita ini. Banyak masyarakat yang mengeluh, namun pemerintah hanya diam. Kalau kita pikir-pikir diam itu tidak menyelesaikan masalah, malah akan memperumit masalah. Makanya saya dan beberapa masyarkat selalu menghubungi Ahok untuk membantu masyarakat dan Ahok tidak pernah tolak,” tutur pak RT.

Beruntung, dunia ini tidak kekurangan orang baik, termasuk di kampung saya. Jika Ahok di Jakarta oleh sebagian orang dijuluki Bapak Pembangunan, detik ini saya menjuluki Ahok di kampung kami sebagai Bapak Seribu Ceriken.

 “Ase, saya mau pergi antar jeriken-jeriken ini dulu”

gasssssss kaeeee”

“siap aseeeee”

Mobil Ahok berlalu dengan musik DJ-nya di tikungan jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.