Aku Cinta Babi

Peranan Babi yang selalu ada dan akan dikenang (sumber gambar: PInterest.com)

 229 total views,  1 views today


Im Kartini|Redaksi

Memasuki bulan Juli, di Manggarai biasanya banyak pesta sekolah, acara kumpul dana yang cukup sulit kita jumpai di luar tanah Nuca Lale. Pesta-pesta sekolah di Manggarai akan kurang lengkap tanpa babi. Ya, babi yang itu, yang di kandang. Betul sekali.

Berbicara tentang babi, memang tidak akan pernah ada habisnya. Babi adalah salah satu binatang yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Manggarai. Kalau ada orang Manggarai yang tidak kenal babi, asli dia babi skali. Duh, monmaap!

Terlepas dari fungsi babi yang begitu banyak, sekarang saya hanya akan bahas jasa babi bagi seorang sarjana. Jasa babi sangat terasa pada saat pesta sekolah. Kenapa demikian? Lihat saja  satu ekor babi bisa menghasilkan dana puluhan juta rupiah. Hampir seluruh menu makanan saat pesta sekolah adalah berbahan dasar babi. Kurang keren apa babi ni?

Pertama dan yang  selalu ada adalah ute ndusuk. Ute ndusuk merupakan sayur yang terdiri dari campuran saung ndusuk dan daging babi. Ndusuk sendiri merupakan jenis tanaman liar yang banyak dijumpai di Manggarai. Meski demikian, untuk mendapatkan Ndusuk bukanlah hal yang mudah. Ndusuk biasanya dicari ke kebun-kebun yang cukup jauh dari perkampungan warga. Hal tersebut karena jarang sekali ada warga yang menanam tumbuhan ini di sekitar rumah.

Ndusuk sendiri terbagi atas dua type yakni ndusuk rona dan ndusuk wina. Biasanya saung ndusuk terbaik adalah ndusuk wina. Jangan tanya apa perbedaannya. Sampai sekarang saya belum mampu membedakan. Yang saya paham hanya sebatas wina yang berarti istri, karenanya mungkin ndusuk wina ini adalah ndusuk yang selalu benar. Wadaw!

Tidak sembarang orang bisa mengolah ute ndusuk. Di kampung saya, biasanya kaum pria yang mengolahnya. Apa karena yang dipakai adalah ndusuk wina? Whatever, yang penting tujuannya menghasilkan ute ndusuk yang nikmatnya beda na. Saat masak ute ndusuk harus diaduk pakai kebor yakni centong yang terbuat dari kayu.  Konon katanya kalau tidak diaduk memggunakan kebor yang terbuat dari kayu, akan membuat sayur ini menjadi tidak enak. Entah apa kaitannya, namun hal tersebut masih dilakoni dan diprcayai hingga detik ini.

Percaya atau tidak, setiap ada acara menu makanan dengan jumlah paling banyak adalah ute ndusuk. Termasuk saya pribadi juga ute ndusuk adalah menu yang tidak pernah saya lewatkan. Pokoknya no ndusuk, no party.

Kedua, Babi kecap. Babi kecap ini terbuat dari lemak babi yang di iris, dibumbui, dan tentu saja dicampur kecap. Babi kecap juga menjadi favorit para penikmat sopi. Konon makanan ini bagus dipakai sebagai teman minum sopi.

Ketiga, Lapis. Lapis adalah lawan dari babi kecap. Saya sebut lawan karena lapis ini tidak memakai lemak melainkan bagian terbaik babi alias isi semua.

Keempat, sate babi. Kalau sate ini menu pilihan. Boleh ada, boleh tidak. Sate biasanya tidak dihidang di meja hidangan. Tetapi dijual. Iya, yang mau sate untuk di makan atau dibawa pulang bolehlah bisik-bisik kepada Ibu-ibu di dapur.

Demikianlah empat menu olahan daging babi yang biasanya selalu ada saat pesta sekolah. Semoga kita pi pesta dengan senang hati dan tidak lupa mematuhi protokol kesehatan.

Jika kalian orang Manggarai yang sudah bergelar sarjana dan pernah pesta sekolah, fix kalian harus mengenang terus jasa babi. Tanpa babi, dana tidak terkumpul. Tanpa babi pesta tidak berjalan. Tanpa babi meja hidangan pesta tidak terisi. Terima kasih, babi. Aku cinta Babi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.