Aku Jatuh Cinta di Jalan Berlubang

518 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Aku terpaksa menjawab setelah dia menepuk bahuku. Aku berusaha tenang dan sedikit memperbaiki posisi duduku. “siapa perempuan di story WhatsAppmu?” berkali-kali Lena meminta penjelasan. Sudah seminggu kami bentrok gara-gara masalah sepele itu. Aku tidak bermaksud menyakiti Lena. Gadis yang begitu polos dan memiliki pipi lesung itu kini rengkuh dalam pangkuan. “tolong jelaskan sekarang, siapa permpuan itu?” kali ini dia bertanya sambil menitikkan air mata. “Lenaku sayang, dia adalah saudariku” jawabku singkat. Aku melihat ada sedikit ketenangan di wajahnya. Aku tidak mungkin mengkhianati kepolosannya. Yang walaupun kami LDR, tapi bukan berarti aku harus mecintai yang lain, walaupun di sekolahku yaitu SMA Negeri 1 Sambi Rampas ada yang lebih cantik seperti Maria, Helena, Fami, Erta dan Nanda, mantan-mantanku dulu.

Lena seorang siswi kelas dua di salah satu SMA ternama di kota Ruteng. Lena juga seorang gadis yang pintar. Penampilannya sederhana walaupun berasal dari keluarga yang berada. Kami berkenalan beberepa bulan yang lalu. Kebetulan kami satu oto kol dari Ruteng menuju kampung Buti. Dia duduk di sampingku.  Jantungku berdebar-debar. Baru kali ini aku duduk sebangku dengan seorang gadis cantik. Lagu Ambon terus bertembang menemani perjalanan kami menuju kampung tercinta. Aku berusaha tenang meskipun sedikit gugup. Aroma parfum marlboro membangkitkan hasratku. Dia sangat tenang sedangkan aku, ah.. sudahlah.. Aku tersentak dari lamunanku saat tangan Lena memegang lenganku. “maaf kak” kata Lena. Lagi-lagi jalan berlubang, “tidak apa-apa dek” balasku. Itulah percakapan kami sejak berangkat dari terminal. Aku berusaha untuk memulai percakapan. Bagaimanapun juga, aku ini seorang laki-laki yang gentle jadi harus berani di hadapan perempuan. Hal itu aku tunjukkkan di hadapan Lena. Dari tanya nama, asal, hingga nama orang tua bahkan nama nenek moyang pun aku tanya. Oto kol terus melaju dan lagu Ambon menemani perjalanan kami. Sesekali om sopir membunyikan klakson ketika melihat nona cantik di pinggir jalan. Dasar om sopir, memang om sopir jaman now sedikit nakal. Mereka juga manusia normal. Di samping kami ada seorang kakek yang sedang asik menikmati mbako kasar (rokok yang gulung sendiri), asapnya sangat menggangu pernapasan, khususnya Lena. Beberapa kali dia batuk dan badannya sedikit lemas. Lalu dia meminta untuk menyadarkan bahunya di pundakku dan dengan senang hati aku mengijinkannya. Tanpa dia minta pun aku akan berharap. Siapa yang berani membuang kesempatan emas ini. Dalam hati aku mengucapkan terima kasih kepada kakek di sampingku atas asap tembakaunya. Kini perjalanan kami memasuki hutan lebat setelah melewati tukeng (tanjakan) Ranto yang sedikit terjal. Udara dingin menerpa kami. Aku melihat Lena kedinginan lalu dengan berani aku menawarkan jaketku. Lena tidak tahu kalau jaketku sudah dua minggu tidak cuci tapi wangi parfum casablanca membuat aromanya masih segar. Saat-saat seperti ini orang tidak lagi melihat ataupun menilai bersih atau tidaknya, tapi yang paling penting bahwa dia merasa aman dan hangat pastinya. Lena membuktikan hal itu, dia sedikit tersenyum ketika tubuhnya dibungkus oleh jaketku. Dalam hati aku mengucapkan terima kasih kepada alam semesta, kepada Tuhan dan khsususnya kepada pemerintah yang tidak pernah atau memang belum saatnya memperbaiki jalan menuju kampung kami yang masih berbatu. Karena di jalan berlubang aku jatuh cinta. Lena Gadis impian masa depanku. Dia bintang dari bulanku dan mentari dari matahariku.

Penulis: Waldus Budiman

1 thought on “Aku Jatuh Cinta di Jalan Berlubang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *