Andai Uang Itu Berbau, Orang Manggarai Timur Pasti Sudah Maju

Sumber foto: genpi.co

298 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Pepatah Latin mengatakan pecunia non olet, uang tidak berbau. Uang tidak berbau layaknya bau busuk kotoran manusia di hutan kopi dekat kampung. Tidak juga seperti amis mulut pemabuk yang menghabiskan waktu dengan berbotol-botol moke di tempat pesta dan meja perjudian saat mete orang di rumah duka hingga semua uangnya terkuras. Uang memang tidak berbau, mungkin itulah sebabnya bermiliar-miliar dana pembangunan hilang tak berbekas, dana kesehatan entah kandas di kantor apa, pun dana pendidikan mengendap di saku siapa. Uang sungguh tak berbau. Andai ia berbau, korupsi yang jelas-jelas di atas meja itu akan lekas diketahui.

Semua orang butuh uang, tentunya juga orang Manggarai Timur, selanjutnya disingkat Matim. Orang Matim butuh uang untuk membangun jalan-jalan berlubang serta berbatu dari satu desa ke desa lainnya. Orang Matim butuh uang untuk menata kualitas pendidikan dan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Namun seperti kata kebanyakan orang Matim, kita bertanya, uangnya dari mana? Toe dung ndoi a e…!

Sebenarnya, di Matim uang bisa datang dari mana-mana, kecuali dari surga. Uang di Matim bisa datang dari laut dan dari darat. Panorama laut di Matim sangat  indah dan airnya paling jernih. Langitnya biru dan bersih, lingkungan dan masyarakat memiliki pluralitas budaya yang memesona ditambah wajah sopan, ramah, serta imus (senyum) orang Matim bikin Nana dan Enu sekalian meleleh. Demikian pun dengan daratan, tanah Matim menyediakan tempat yang subur untuk bertanam baik untuk pertanian maupun perkebunan.

Dari sudut pariwisata, Matim menyimpan tempat-tempat wisata eksotik yang layak dikunjungi.  Sebut saja di antaranya Pantai Cepi Watu yang terkenal itu menjadi andalan untuk para lelaki ‘menembak’ timi (cewek) setiap hari Minggu dan dijamin 99 persen jadi (mau coba?), Pantai Mbalata dengan pasir pantai berwarna cerah secerah warna kulit orang Matim, hutan Poco Ndeki yang cocok untuk wisata hiking dan bagi penikmat burung, Tanjung Bendera dengan tawaran sunset yang mempesona, Danau Rana Mese satu-satunya danau gunung api yang menyimpan kisah mistis dan angker, dan tak ketinggalan air terjun Barketo Mberumbengus yang ketinggiannya hampir mencapai ratusan meter itu. Semuanya berpotensi untuk menghasilkan uang. Maka bisa dikatakan orang Matim banyak uang.

Ironisnya di tengah berbagai kelimpahan itu Matim malah dinilai masuk dalam kategori kabupaten yang miskin di NTT. Entah bagaimana orang Jakarta sana menilai kemiskinan orang Matim. Memang orang Matim tak memakai bedak dan parfum dari Prancis.  Atau juga rumah orang Matim tidak dibangun dari produk Sunda Plafond yang katanya tahan air, anti rayap dan harga terjangkau itu melainkan beratap alang-alang, berdinding pelupu serta berlantai tanah. Tetapi saya berani jamin orang Matim makan 3 kali sehari sepiring full, nasi tumpuk laksana bukit Poco Ndeki, pesta sambut baru dengan befak besar mati punya tidak peduli uang pinjam entah dari mana, belis nikah tak tanggung-tanggung jumlahnya, pesta anak sekolah meriah meski anak muda dan beberapa orangtuanya mabok moke dan pesta dansa sampai pagi hingga beberapa lenyap di semak-semak dengan pasangan gelap.

Sekali lagi kita tentu bertanya; apakah orang Matim benar-benar miskin? Hemat saya jawabannya adalah “tidak” dan “ya”. Tidak, karena orang Matim tidak miskin akan uang, harta benda apalagi makanan. Semuanya tersedia di sekitar mereka, ke laut menemu ke darat  mendapat. Dan, ya, Orang Matim miskin akan kualitas sumber daya manusia. Sebagian besar Orang Matim kekurangan Sumber Daya Manusia yang mampu mengolah uang untuk sesuatu yang lebih berfaedah. Mereka memiliki Sumber Daya Manusia yang baik namun belum mampu mengerem nafsu tergila-gila akan uang; setelah uang didapat hilang begitu saja tak berbekas. Karena, andai orang Matim berkualitas, uang dapat dimanfaatkan untuk hal yang berguna bukan habis di saku pejabat, atau berfoya-foya dengan pesta pora, mabuk-mabukkan, perjudian, adat dan lainnya. 

Lebih dari itu, orang Matim kekurangan tenaga manusia yang benar-benar ahli dan profesional untuk mengolah hasil daerah. Manajemen keuangan orang Matim masih buruk. Itulah sebabnya uang orang Matim seperti lenyap entah ke mana. Maka menjadi tugas bersama orang-orang Matim untuk memperbaiki kualitas pola pikir dan mental menggunakan uang. Karena aneh bila orang Matim yang terkenal saleh dalam praktik keagamaan itu malah tukang nyolong uang melalui perilakunya yang selalu berhamba pada uang.

Sebenarnya kita tidak miskin, perilaku kitalah yang memiskinkan kita. Masyarakat kita cenderung berfoya-foya seperti mengadakan pesta yang besar-besar. Pemerintah seakan-akan tidak punya fokus dalam menentukan skala prioritas pembangunan sepanjang mereka menjabat. Sementara itu para pendatang memanfaatkan kemalasan dan keburukan mental kita untuk membangun bisnis mereka. Tak heran jika orang-orang kita seakan-akan “jual pisang buah, beli pisang goreng”.

Kita seharusnya bisa mengekang perilaku kita. Sayangnya kita sudah mengidap penyakit rakus, mengutip pernyataan Goenawan Mohamad; “yang disebabkan oleh rasa cemas dan kurang puas, ingin menimbun, menguasai bahkan membeli masa depan”. Kita cenderung menganggap kecurangan adalah hal yang lumrah dan manusiawi, padahal seperti kata Suradi dalam bukunya Korupsi, kecurangan merupakan kejahatan yang jarang kelihatan.

Tahun 2019 ini, Matim tanah leluhur kita berusia 12 tahun. Seperti seorang anak ia sudah menamatkan pendidikan dasarnya. Sudah begitu banyak pengetahuan yang ia terima dan mesti ia lanjutkan ke jenjang berikutnya. Pada usia ini seharusnya mulai keluar dari sifat kekanak-kanakannya. Ia sudah mulai bisa belajar menabung dan menggunakan uang jajan pemberian orangtuanya alias pajak masyarakatnya. Kemudian menata dan membenahi apa yang masih kurang.

Orang Matim sebenarnya punya banyak uang hanya kurang otak untuk mengolahnya, kita terlalu rakus dengan segala kecurangan kita untuk menghabiskannya dalam sekejap. 12 tahun bagi Matim bukan untuk berdiam diri dan larut dalam refleksi yang hambar, apalagi anggapan ‘sudah tamat’ seperti perilaku sebagian anak-anak kita di kampung yang notabene menamatkan diri setelah terima sakramen sambut baru di Gereja. Kita perlu berjuang meminimalisir bentuk kecurangan yang terselubung, pesta pora, korupsi, dan kejanggalan lainnya.

Dua belas tahun untuk Matim berarti menggugat kesadaran kita akan pentingnya pendidikan dan kesehatan yang menjadi basis utama pertumbuhan manusia. Pemerintah dan masyarakat Matim mesti mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan yang terpenting. Mengirim pelajar dan mahasiswa ke luar negeri untuk menimba ilmu sesuai profesi mereka berdasarkan tenaga yang dibutuhkan untuk membangun Matim. Kita bukan generasi tertinggal. Kita mesti bangkit dan memanfaatkan potensi yang ada demi kemajuan daerah kita. Kalau kita mampu mencari uang mengapa kita tak mampu mengelolanya? Atau karena kita terlanjur menganggap uang benar-benar tak berbau? Mari berbenah sejak dalam diri sendiri.

Penulis: Dendi Sujono|Meka tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *