Apa sih Susahnya Menjadi Kepala Desa?

 540 total views,  1 views today


Bruno Rey Pantola|Redaksi

Menjadi seorang Kepala Desa adalah incaran setiap pemuda dan para pengusaha desa, bahkan seluruh masyarakat desa (yang dapat memenuhi setiap persyaratan calon). Di negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia, siapa saja boleh jadi pemimpin Kepala Desa. Toh tak ada yang mustahil bagi seorang yang mau berjuang.   

Pekerjaan Kepala Desa pun tidak susah-susah amat, tidak seperti yang kalian pikirkan. Namun aspek yang sangat penting serta sedikit rumit yang dikelola pemerintah desa adalah administrasi desa. Sedikit itu, artinya tidak rumit-rumit amat, kawan-kawan!  

Maksud saya begini, jadi Kepala Desa itu enak, secara belio adalah pemimpin tertinggi di desa. Kalau Kepala Desa tidak paham komputer, dana desa yang super banyak itu bisa diambil sedikit untuk bayar orang operasikan komputer. Juga ada Sekretaris Desa yang bertugas menyelesaikan semua persoalan administrasi.

Terlepas dari itu, setiap Perangkat Desa adalah orang-orang berkompeten, yang sebelum direkrut menjadi Aparatur Desa, sudah diuji seperti tes CPNS di kabupaten. Jadi apa lagi yang perlu diragukan dari seorang Perangkat Desa? Selain menyelesaikan persoalan administrasi di desa, mereka jugalah yang bertugas membersihkan kantor desa.  Begitulah yang saya lihat.

Untuk itu, saya ingin bercerita tentang seorang Kepala Desa di desa saya, yang   meyakinkan saya membenarkan statemen; menjadi Kepala Desa tidak susah-susah amat. Simak ceritanya, Gengs.

Beberapa tahun silam, desa saya mengadakan pemilihan Kepala Desa. Terdapat empat pemuda yang bersedia mencalonkan diri. Dari keempat orang ini, hanya satu orang saja yang bergelar sarjana. Rata-rata pendidikan akhir para calon adalah Sekolah Menengah Pertama. Mereka tentu harus menyiapkan visi-misinya jauh sebelum pemilihan. Visi-misi adalah strategi penting setiap calon untuk menarik minat pemilih (masyarakat).

Suatu sore, saya mendapatkan pesan dari seorang Calon Kepala Desa via sms, “Bro, tolong buatkan visi-misi untuk keperluan kampanye saya, e.”

Ia tahu saya adalah mahasiswa yang kuliah khusus tentang Desa, yang juga berasal dari desa itu. Alasan ini mungkin yang menggerakan hatinya meminta untuk urusan visi-misi itu. Awalnya saya jual mahal dulu.

Dua hari kemudian, ia menghubungi saya lagi dengan isi pesan yang sama. Pun saya belum menjawabnya atau setidaknya membalas sms-nya.

Persoalan saya tidak membalas, bukan karena saya tak ingin diganggu atau pertimbangan lain, tetapi handphone saya tidak memiliki pulsa sms-an. Sial amat nasib saya. Padahal, jika saya membalasnya dan mengiakan permintaannya, saat menang nanti, mungkin saja saya mendapatkan imbalan. Mungkin. Ia, mungkin…

Saking gentingnya mungkin, selama satu Minggu, saya selalu mendapatkan sms darinya terkait visi-misi itu. Saya pun membeli pulsa dan menjawabnya, sekalian menerima tawarannya untuk membuatkan visi-misi. Toh, demi desa saya juga. Sekecil apa pun sumbangan untuk desa, itulah pengorbanan saya sebagai pemuda asli desa, begitu saya berpikir.

Selama sehari saya bergelut dengan pembuatan visi-misi tersebut sampai lupa makan. Syukurlah, saya menyelesaikannya hanya dalam waktu semalam, lalu mengirimkannya kepada Calon Kepala Desa tersebut. Usai itu, ia berterima kasih hampir sepuluh kali lipat. Jika saja tanda terima kasihnya itu diuangkan, mungkin saya dapat membeli cilok—beserta gerobaknya.  

Hari demi hari saya menunggu kabar dari masyarakat desa terkait situasi politik yang sedang bergelora di desa. Tiga hari sesudahnya, saya mendapatkan kabar bahwa akan segera diadakan pemilihan Kepala Desa.  Saya sedikit pesimis; jangan-jangan calon yang saya buatkan visi-misi itu tidak terpilih. Kasihan, kan? Saya boleh peras otak selama sehari hanya untuk membuatkan visi-misi baginya dengan harapan besar ia terpilih.

Paginya saya ke kampus dengan membayangkan nasib si calon Kepala Desa itu. Sepulang dari kampus, saya mendapatkan kabar dari seorang teman; Si calon yang saya buatkan visi-misi itu terpilih. Pada saat itu juga, saya makin percaya diri, bahwa tidak sia-sia membantunya membuatkan visi-misi dengan bekal pengetahuan saya ala kadarnya.

***

Kepala Desa terpilih ini belum kunjung nimbrung di hp saya, setidaknya mengungkapkan kebahagiaannya dengan berterimakasih kepada saya—itu sudah lebih dari cukup. Tetapi  rupanya ia masih sibuk mengurusi tim sukses dan para pendukungnya. Saya diabaikan, bahkan berhari-hari tidak mendapatkan kabar darinya. Sakit. Sungguh. Tetapi saya tidak persoalkan itu, justru selalu mendoakannya agar ke depan ia memimpin dengan amanah.

Saat liburan, saya pulang ke desa. Pemuda itu sudah menjadi Kepala Desa. Saya mengamati pergerakannya, setiap hari menumpangi motor dinasnya mengelilingi seluruh kampung. Kadang minum tuak bersama masyarakatnya. Begitulah cara ia merakyat. Asyikk.

Pada suatu malam, saya mengunjunginya untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya menjadi orang nomor satu di desa. Saya mendapatkannya sedang menghisap rokok di beranda rumah. Terlihat ia sangat menikmati suasana itu. Wibawanya sebagai Kepala Desa nampak sekali; mulai dari cara duduknya, bahasa yang ia gelontarkan, dan cara jalannya yang makin tegak-mantap. Ia terlihat seperti bupati. Yah, begitulah seorang pemimpin, kan? Harus berwibawa biar terlihat keren. Selebihnya, yah selebihnya, ehhmm mungkin untuk menaikkan strata sosial di desa.

Kami bersalaman dan berpelukan. Kemudian saya dibuatkan kopi oleh pembantunya, dan kami ngopi bersama malam itu. Begitu bangganya saya mengopi bersama seorang Kepala Desa. Rasanya saya seperti Ketua BPD.

Tak lama berselang, ia meminta saya untuk mengetik beberapa surat penjualan tanah. Benar, ia tak tahu mengoperasikan komputer seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Saya  sedikit keberatan, sebab  membuat surat penjualan tanah, menurut saya, sangat tidak diharuskan bagi desa. Apalagi itu adalah desa saya. Saya kerap menentang hal demikian. Tetapi dengan niat ingin membantu, akhirnya saya menyetujuinya mengetik surat-surat itu.  

Besok dan seterusnya, saya selalu dipanggil untuk mengetik beberapa surat yang berkaitan dengan keperluan dinasnya. Hampir tiap hari saya bekerja laksana Perangkat Desa. Asyik juga sih, diberi rokok dan kopi gratis. Bagi saya, yang penting mengisi liburan dengan kerja-kerja yang halal.

Anehnya, Kepala Desa ini kerjanya hanya mondar-mandir dengan motor dinasnya mengontrol suasana desa, setiap hari. Kadang ke kecamatan untuk urusan lain, entahlah. Setiap malam beberapa Linmas standby di rumahnya menjaga keamanan, bahkan hingga ia tertidur, linmas-linmas dan pemuda-pemuda kampung masih bersantai di rumahnya. Memang ada nikmat-nikmatnya juga bersantai di rumah Kepala Desa. Kopi dan rokok tak pernah kurang plus makan-makanan bergizi.

Sekian dulu ceritanya.

Dari cerita ini, saya mau mengatakan bahwa, benar! Menjadi Kepala Desa tak susah-susah amat. Sudah dihormati masyarakat sekampung, terima gaji per bulan, kerjanya itu-itu saja. Yang penting pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi serahkan saja ke orang yang mampu mengurusnya. Intinya sisikan sedikit dari Dana Desa untuknya. Persoalan selesai, kan?

Masalah pembangunan infrastruktur itu malah lebih mudah. Dirikan Posyandu sebanyak tiga buah di desa dengan anggaran tiap Posyandu 25 juta, itu sudah lumayan, bahkan dipuji masyarakat. Sediakan paralon seribu meter untuk menyalurkan air bersih, kisarannya hanya 10 juta, persoalan air selesai. Sedangkan Dana Desa kurang-lebih satu miliar, kini sudah hampir dua miliar.  Sebagiannya sedapat mungkin untuk masyarakat miskin yang tak seberapa di desa. Semua pada punya pekerjaan; bertani, beternak, guru, dan lain-lain. Apa lagi yang sulit? Semuanya akan dibuatkan kwitansi lalu diberikan ke pihak terkait. Lagi-lagi, persoalan selesai.

Jika ada kerusuhan di kampung, itu kan urusan Linmas. Jika konfliknya agak membahayakan bagi tatanan desa, tinggal menghubungi Polisi atau Babinsa dari kecamatan, atau selesaikan sendiri dengan ketentuan setiap tersangka wajib memberi denda. Jika hasil dari denda tak seberapa untuk masuk ke kas desa, yah masuk ke sakunya Kepala Desa. Begitu saja kok repot. Soal transparansi semua di bawah kontrol Kepala Desa. Aman.

Jadi, bagi kalian generasi muda yang progresif, pekerjaan apa lagi yang harus kamu cari? Pulanglah ke desa dan rasakan nimatnya menjadi seorang kepala desa. Fuuuucceeekkk.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.