Ata Mbeko dan Mbeko; Tentang Praktik Penyembuhan Tradisional di Manggarai Timur

Sumber foto: Ilustrasi/Internet

926 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Mbeko dalam dialek Kolor, Manggarai Timur berarti pandai, kepandaian yang berhubungan dengan kekuatan gaib, atau memiliki kekuatan spiritual entah itu untuk tujuan positif maupun negatif. Orang yang pandai dalam hal mbeko ini disebut ata mbeko. Istilah lain untuk ata mbeko adalah adalah ata pande atau orang Indonesia menyebutnya “Orang Pintar”.  Ata mbeko ini biasanya sangat laris untuk diminta bantuannya entah untuk tujuan baik maupun tujuan jahat.

Untuk tujuan baik ata mbeko biasanya menjadi fungsi penyembuh. Masa ketika para dokter dan perawat belum masuk ke pedalaman dan kampung-kampung di Flores, ata mbeko ini menjadi andalan untuk membantu menyembuhkan orang sakit. Bahkan di era ketika banyak mantri kesehatan sudah mulai melakukan penyuluhan kesehatan dan penyembuhan secara medis pun ata mbeko masih menjadi referensi utama untuk menyembuhkan orang sakit. Bagi masyarakat kami sakit selalu berhubungan dengan hal-hal yang bersifat supranatural dan gaib. Hanya ata mbeko yang mampu menjangkau dunia itu.

Namun, ata mbeko juga menjadi andalan untuk orang yang memiliki niat jahat. Ketika masih kecil kami diajarkan untuk berhati-hati dengan “si itu” dan “si ini” karena mereka memiliki mbeko. Ata mbeko yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki tujuan jahat. Entah bagaimana caranya mereka (katanya) mampu membuat orang lain sakit bahkan mati. Sekali lagi, ada keyakinan bahwa sakit dan kematian itu berhubungan dengan dunia lain, jiwa manusia pun demikian. Hanya ata mbeko yang mampu menjangkau dunia itu.

Begitulah seterusnya dari zaman ke zaman ata mbeko berada pada dua tegangan itu; baik dan jahat. Agak sulit mengatakan bahwa ata mbeko itu adalah jahat atau pun sebaliknya. Mungkin karena istilah yang berlainan beberapa orang di kampung kemudian membuat distingsi istilah untuk memisahkan antara ata mbeko yang baik dengan ata mbeko yang jahat. Untuk ata mbeko yang baik mereka akan mengatakan agu panden (punya suatu kekuatan/indra ke enam). Sementara untuk ata mbeko yang jahat mereka akan menamakan dia mbeko saja atau Mbeko Rasung.

Dari mana datangnya mbeko itu atau ata mbeko itu sendiri? Mereka umumnya berada di kampung tersebut atau datang dari tempat lain atau daerah lain yang sudah terkenal dengan kegiatan ke-mbeko-annya. Pada beberapa ata mbeko mereka mendapat kekuatan khusus itu dari para leluhurnya. Mereka menyebutnya pemberian atau anugerah dari embu-embo (leluhur). Sementara tak jarang ada beberapa orang yang berguru pada ata mbeko lain baik di kampungnya sendiri atau di kampung lain. Biasanya berguru pada ata mbeko yang cukup terkenal. Meski demikian sampai sekarang belum pernah terdengar atau ditemui perkumpulan ata mbeko yang terorganisir layaknya Ikatan Dokter Indonesia padahal mereka disebut sebagai “orang pintar”.

Di kampung saya sepak terjang ata mbeko  ini sangat penting meski sebagian diragukan keahliannya. Ada yang ahli dalam mbeko toko (penyembuh tulang). Tidak tanggung-tanggung mereka sanggup menyatukan tulang yang sudah patah bahkan remuk menjadi utuh kembali. Ada mbeko buran yang menyembukan orang yang sedang sakit dengan semburan sirih pinang yang dikunyah oleh si ata mbeko terlebih dahulu. Ada mbeko dalam bentuk ramalan dan lazimnya melalui garis tangan dan repang kopi (ampas kopi dalam gelas). Ada juga mbeko lun (urut) dengan terlebih dahulu mengoleskan minyak tertentu di tubuh kemudian diurut pada badan yang sakit. Meski agak aneh dan kadang menggelikan 99% pengobatan mereka ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sayangnya, tidak jarang dunia ke-mbeko-an diracuni oleh ulah sebagian orang yang sering tes mbeko. Tes mbeko ini sering dilakukan oleh orang yang coba-coba ilmu yang baru mereka pelajari. Penjelasan dari beberapa orangtua biasanya mbeko yang diperoleh melalui proses belajar lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Umumnya mereka belajar untuk menggunakan mbeko sebagai alas badan, memuluskan usaha atau untuk niat jahat tertentu. Khusus untuk alas badan biasanya mbeko dipakai untuk menahan gempuran ata mbeko yang memiliki niat jahat.

Ketika ilmu pengetahuan dan perkembangan ilmu kesehatan serta berbagai fenomena dunia supranatural dapat dijelaskan secara rasional ada kecenderungan untuk mempertanyakan keabsahan peran ata mbeko. Tidak jarang praktek mbeko mulai dipertanyakan bahkan digugat oleh sebagian kalangan terutama kaum terpelajar dan orang-orang yang berpikiran modern. Tidak jarang dari kalangan agama sendiri terutama Gereja menolak praktek mbeko karena termasuk dalam praktek perdukunan dan itu dekat dengan dunia hitam atau ghoib meski ada perdebatan tentang itu.

Namun, menilik pengalaman masa kecil, ada hal-hal positif tentang mbeko yang setidaknya memberi pengaruh baik pada saya. Ketika pada usia 7 tahun saya pernah terjatuh ke jurang yang cukup dalam. Pada waktu itu saya mengalami kesaleo dan retak pada tulang rusuk. Pada tahun 1990-an tak ada dokter di Borong, apalagi Waerana. Bahkan manteri kesehatan tinggalnya sekitar belasan kilometer ke Waelengga dan sangat tidak mungkin bisa menyembuhkan tulang yang retak apalagi patah tulang. Satu-satunya yang menolong saya pada waktu itu adalah Nek Onde (Alm). Pada waktu itu dia terkenal dengan mbeko toko. Hanya bermodalkan minyak yang baunya menyengat yang dioleskan di dada saya dan segelas air yang telah dijampi-jampi dan mesti saya minum saat itu juga dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 hari saya sudah bisa berlari lagi tanpa merasa sakit apa-apa. Hebat bukan?

Lebih dari itu, saat kami menderita malaria, demam tinggi, sakit perut, atau sakit apa saja kami disembuhkan oleh aneka ramuan aneh entah itu dioles di sekujur tubuh, diminum atau dimakan. Sulit dipercaya memang, aneka jampi-jampi dan ramuan itu mampu menjadikan saya saat ini sehat walafiat dan kuat. Mungkin bukan hanya saya, sebagian masyarakat di kampung akan mengatakan hal yang sama.

Akhir-akhir ini mbeko seakan mulai tenggelam dalam ketidakpercayaan dan perilaku ata mbeko itu sendiri yang terkadang tidak beretika. Mbeko hari ini mulai tergerus oleh keraguan dan perlahan ditinggalkan bahkan ditakuti. Saya tidak mengatakan mbeko  adalah yang terbaik daripada ke Rumah Sakit. Saya hanya mau mengingatkan bahwa mbeko adalah warisan tradisi yang turut membesarkan suatu budaya, adat istiadat berikut orang-orangnya. Ada sisi-sisi poisitif serta aneka fenomena supranatural yang tidak bisa dijelaskan oleh dunia kesehatan namun ata mbeko  sanggup melakukannya. Adalah suatu penghormatan bila kita melestarikan sisi-sisi tertentu dari mbeko. Yang positif tentunya, termasuk membentuk Ikatan Ata Mbeko Se-Munde, Se-Waerana, Se-Manggarai Timur, bahkan Se-Indonesia, andai bisa.

Penulis: Dendi Sujono|Meka tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *