Atas Nama Mode Gratis, Status Ini Dibuat

Cincin, jari manis, dan kesetian. (Foto; Dokumentasi Pribadi)

 438 total views,  1 views today


Itok Aman|Kontributor

Beberapa bulan lalu, di tengah hiruk pikuk orang-orang kebingungan menghadapi pandemi yang masih simpang siur antara hoaks dan nyata, antara data kematian, pasien positif dan sembuh yang valid atau tidak, di antara suasana yang membikin kalang kabut dengan segala simpang siur berita menakutkan dari media-media, namun puji syukur kepada bapa mama di kampung, saya berkesempatan obrol dengan dua adik saya, Osth Junas di Surabaya, dan Krisan Roman di Bali.

Di tengah perbincangan pagi yang biasa-biasa saja itu, kami sebagai pemuda milenial sejati yang identik dengan begadang, yang tidur bukan karena waktunya malam hari tapi yang biasa tidur di saat kapan benar-benar kantuk dan makan di saat kapan benar-benar lapar.

Bagi milenial, tidak ada aturan baku, selagi masih bisa berjaga tetap berjaga sampai rasa kantuk itu benar-benar datang, demikian pun makan. Intinya pagi itu kami belum tidur bahkan di saat manusia lain di belahan bumi ini sudah terbangun. Dan, kami sepakat menghubungi Abang Erik Jumpar, yang kami membaptisnya sebagai si sulung di Tabeite. Sebab dia yang tertua setelah saya.

Kami telepon berempat di tempat yang berbeda lewat aplikasi WhatsApp. Aplikasi yang lagi-lagi milik Mark Zuckerberg. Saya di Jakarta, Osth di Surabaya, Krisan di Bali, dan Kak Erik di Manggarai Timur, kota permai yang damai-indah-sejahtera-makmur sentosa.

Di tengah perbincangan pagi itu, kami mendengar suara ayam jantan diikuti suara ayam betina. Kami terdiam sejenak. Memastikan itu benar-benar suara ayam atau nada dering Nokia layar kuning dengan tombol ABC — Nokia lama yang kalau lempar anjing, tuannya mati. Ups. Anjingnya mati. Begitu kata mereka yang suka berhiperbola. Ehmm…!

Saya langsung fokus pikir soal suara ayam tadi. Osth tidak mungkin pelihara ayam di Surabaya, demikian Krisan Roman, penggemar Juve yang sedih karena kalah atas pertandingan beberapa hari lali (29/10/20) di mana Juve dibabat 2-0 oleh Barca dan nasib naas Morata yang offside menurut VAR. Tidak mungkin pelihara ayam di Bali. Mana mungkin Krisan Roman membawa ayam dari Elar ke Bali hanya untuk membiarkannya bertelur di kosan.

“Ayam siapa itu?” tanya saya setelah hening beberapa detik yang nyaris semenit.

“Tidak tahu, Ka’e.” Jawab Osth dan Krisan serempak.

Kemudian hening lagi. Tak ada yang berkomentar sama sekali.

“Ka’e Erik?” sahut saya. Kami bertiga diam-diam sepakat bahwa ayam itu milik Kak Erik, lelaki paling tua di Tabeite yang selalu kami bully jomlo.

“Iya e. Ayam. Saya lagi di dapur.” jawabnya halus sekali. Dia paling berwibawa di antara kami semua. Begitulah si sulung, bahkan di rumahmu, selalu berusaha menjadi teladan yang baik untuk adik-adiknya.

“Posisi di mana, Ka’e?” tanya saya lagi.

“Di Waerana e,” balasnya.

“Oe, Ka’e! Asyik…! Ehm ehm..” Osth dan Krisan lagi-lagi muncul bersamaan.

Kak Erik dari Golo Mongkok, tiba-tiba ada di Waerana. Dan, terdengar suara ayam. Itu sebuah tanda yang laki banget buat kami yang Manggarai. You know, Manggarai kental dengan adat dan budaya leluhur yang masih indah terawat.

Dalam adat Manggarai, sebagai laki-laki yang mengunjungi rumah (calon) mertua, engkau selayaknya membawa ayam. Ayam jantan. Tapi, tunggu! Kenapa ayam Kak Erik ada dua, jantam dan betina? Mungkin Kak Erik membawa yang jantan ke calon mertuanya dan ayam betina milik mertua. Dan, mereka bertemu pada satu tiang tengah di dapur yang sama dalam ikatan tali yang berbeda.

Singkat cerita, beberapa minggu yang lalu, Kakak sulung kami di Tabeite itu dikabarkan lulus test ASN tahun ini di kabupaten asalnya, Manggararai Timur. Demikian kabar baik yang juga kami rayakan di tengah pandemi ini.

Malam tadi sambil menanti laga Juve vs Barca, saya obrol dengannya di jalur pribadi, lagi-lagi lewat aplikasi WhatsApp. Yang dia ceritakan, dia sedang sibuk dengan salah satu komunitas literasi keren di Manggararai perihal sebuah buku. Saya aminkan itu.

Siang ini, tersebar foto yang tidak bisa saya lihat bentuk gambarnya. Seperti yang saya jelaskan di atas, status ini dibuat dalam keadaan mode gratis.

Caption di foto tersebut tentang ucapan selamat pada Erik dan Nona, saya ikuti sampai di kolom komentar pun sama; ucapan selamat kepada seorang lelaki dan perempuan yang namanya terus disandingkan. Njiirr…! Saya menarik kesimpulan; Kakak sulung kami ini, selain sibuk urus buku dengan komunitas literasi, beliau juga diam-diam sibuk proses kreatif buku nikah. Ehm!

Tentu ini kabar baik yang ke sekian datang dari Kakak sulung kami di Tabeite yang aduhai ini. Selain kabar kelulusan Krisan dari kampusnya di pulau seribu pura dan Osth yang sibuk bolak-balik kampung merintis usaha peternakan sebagai persiapan menuju rumah mertua pada tahun-tahun yang akan datang, mengikuti jejak Kakak kami, Erik.

Oleh sebab itu, kami bertiga; saya, Osth, dan Krisan, mengucapkan selamat atas pencapaian-pencapaian keren yang dicapai oleh Kak Erik. Pencapaian yang patut ditiru oleh kami adik-adiknya, yang entah kapan merealisasikannya.

Dalam nama mode gratis, pandemi, dan kehabisan kuota; status ini dimuat tanpa gambar yang patut dijadikan bukti. Amen!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.