Ayah dan Sang Pemimpi

Ayah dan kumpulan impian seorang anak

 169 total views,  1 views today


Apek Afres|Redaksi

Setidaknya ada dua orang laki-laki yang paling saya kagumi di dunia ini; Cristiano Ronaldo dan ayah saya sendiri. Dua sosok pribadi yang selalu mengandalkan kerja keras dan kerja cerdas. Siapa yang belum kenal Ronaldo? Ayah saya sudah mengenalnya.

Saya mengagumi kedua sosok ini lantaran kerja keras mereka dalam hal apa pun. Bahkan untuk urusan percintaan pun, mereka tidak tanggung-tanggung. Ayah saya dulu rela menjadi penjual pakaian keliling untuk mendapatkan cinta ibu saya yang paling mahal itu. Ronaldo, kita semua jelas tahu.

Ronaldo sudah mendunia. Ayah saya cukup di hati saya dan setiap orang yang mencintainya. Kerja keraslah yang membuat saya selalu mengagumi kedua sosok ini. Ronaldo pemain sepak bola hebat sedangkan Ayah saya pelatih bulutangkis paling hebat yang pernah saya jumpai. Kali ini, izinkanlah saya menceritakan kenapa saya menyebutnya sebagai pelatih bulutangkis paling hebat.

Saya tidak pernah tahu ayah saya belajar main bulutangkis atau tidak. Tetapi ia punya cara bermain yang unik. Beberapa kali membuat lawan mati konyol dalam lapangan. Itulah yang saya perhatikan ketika ada pertandingan antar RT di kampung. Gelar juara selalu dianugerahkan atasnya.

Hanya usia yang mampu mengalahkannya. Semakin ke sini kekuatan fisiknya semakin melemah. Walaupun beberapa kali mencoba untuk bermain kembali, dari raut wajahnya terdapat kepasrahan dan stamina yang perlahan-lahan menurun. Setidaknya Ia sudah menjadi legenda pertandingan bulutangkis antara RT.

Saat momen inilah saya merasakan kerja keras seorang ayah. Ia tidak membiarkan kehebatannya dalam bermain bulutangkis berhenti dalam sejarah yang Ia buat sendiri. Ia meregenerasikannya. Kehebatannya bukan untuk dibungkus dan dimakan sendiri.

Suatu sore, sebelum senja pamit Ia memanggil saya. Ia tersenyum dengan kebanggaan. Matanya punya ambisi dari suatu potensi, punya misi dari suatu aksi. Ia membisikkan sesuatu, “Nak, mulai besok kau harus bekerja keras dan berlatih untuk bertempur”.

Waktu itu saya tidak berkata banyak. Keraguan bertubi-tubi menghantam pikiran. Saya masih menjadi bocah kecil yang hari-harinya masih terjebak dalam dunia bermain dan terus bermain. Waktu itu tidak ada cara lain selain mengiyakan apa yang seorang ayah katakan. Hanya ini pilihan terbaik dan jalan keluarnya.

Ayah saya tidak suka omong kosong. Ia membuktikan apa yang keluar dari mulutnya. Ia membelikan saya raket, membuat lapangan bulutangkis mini di halaman rumah, dan kegiatan berlatih sekaligus melatih pun saatnya di mulai.

Pertama, Ia melatih saya teknik memegang raket. Saya tidak tahu cara yang ia ajarkan benar atau salah. Ia selalu membenarkan posisi jari-jari saya ketika memegang raket. Ketiga jari; jari tengah, jari manis, dan jari kelingking harus menggenggam erat raket sedangkan ibu jari diletakkan diantara tiga jari dan jari telunjuk. Saya menjadi bingung dan menuruti semua yang diarahkannya. Belakangan baru saya tahu, itu teknik Forehand grip, salah satu teknik memegang raket yang benar. Salut, Ayah.

Hari-hari pun berlanjut dengan sesi latihan. Tidak ada satu hari pun lewat tanpa latihan bulutangkis. Cara servis, cara mencari titik kelemahan lawan, cara smash, dan trik-trik penipuan kecil-kecilan dalam permainan pun sudah diajarkan. Tunggu kerja kerasnya dibalas dengan kerja keras saya sendiri dalam mendalami teknik yang ia ajarkan.

Ia memukul pundak saya di suatu sore. Ia mengangguk penuh dengan kepastian. “Kamu sudah berkembang dengan baik, Nak”, katanya. Senyumannya semakin lebar, tanda sebuah potensi sudah sampai pada titik yang bisa menghantam sekaligus punya pertahanan yang kuat.

Tidak ada kata lelah. Saya terus berlatih dan berlatih. Ayah saya sudah membuat lapangan besar untuk bertanding. Orang-orang di kampung datang sili berganti untuk bertanding. Waktu itu saya lebih suka bermain tunggal. One by one. Dua set, yang menang akan dihadiahkan lima puluh ribu rupiah. Beberapa kali saya kalah. Ini menjadi ledakan momentum untuk terus berpacu. Selagi ada kesempatan untuk berkembang tidak ada salahnya kita kalah dari lawan kita. Itulah yang kerap ayah lontarkan.

Setiap pertandingan berakhir, ayah saya selalu berbicara soal kemajuan saya dalam bertanding. Ia terus memberi dukungan dan kerja kerasnya. Tingkatkan lagi bagian ini, bagian itu. Semuanya harus dimaksimalkan sebelum pertandingan selanjutnya. Pertandingan pun terus datang menjamu. Saatnya saya dan ayah saya menunggu momen yang tepat untuk terus meluncur dan melaju dengan cepat.

Tepat ketika kami berdua mengharapkan momen itu, yang ditunggu-tunggu pun mampir. Ambisi saya untuk menang dalam dunia kompetisi semakin tak terbendung. Ini terjadi ketika saya kelas tiga sekolah dasar. Perlombaan antar gugus pun dikumandangkan oleh kepala sekolah. Dalam hati, saya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Saya siap menunjukan kemampuan saya dalam bertanding.

Pertandingan segera dilakasanakan. Beberapa lawan saya kalahkan dengan mudah. Tingkat SD saya lewati dengan mudah. Sedikit mengalami kewalahan ketika bertanding antara gugus. Sempat ketinggalan banyak poin ketika menghadapi gugus dari Rehes, tetapi saya mencari celah ketika lawan mulai lemah di detik-detik akhir pertandingan.  Saya pun menjadi delegasi dari kecamatan Borong untuk berlaga di tingkat kabupaten.

Di tingkat kabupaten, saya hanya berhasil fimish di posisi runner up. Saya dikalahkan oleh utusan dari kecamatan Poco Ranaka. Permainan sangat seru. Dia memanfaatkan postur tubuh saya yang pendek. Ia terus memainkan bola-bola lambung ke sudut lapangan. Ini yang membuat saya kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak dilapangan. Di akhir pertandingan saya melihat ayah saya tetap tersenyum. Air mata perlahan-lahan membasahi pipi saya. “Nak, dia sudah kelas lima, kau masih kelas tiga, perjuanganmu masih panjang”, katanya sambil memeluk saya.

Kekalahan ini tidak membuat saya menyerah. Ini memberi peluang untuk terus berpacuh dan berlatih. Masih ada tiga kali kesempatan untuk berlaga ditingkat kabupaten. Saya selalu menunggu momen itu setiap tahun berikutnya. Waktu kosong saya isi dengan latihan-latihan teknik dasar bermain. Setiap pertandingan harus disiapakan dengan matang, jangan kaleng-kaleng.

Momen-momen tahun berikutnya untuk berlaga ditingkat kabupaten saya selalu menjadi utusan dari kecamatan Borong. Tiga tahun berturut-turut saya selalu menjadi sang juara. Totalitas  sebuah latihan dan selalu memaknai proses adalah kunci utamanya.

Kendati demikian, kemenangan ini tidak pernah membuat saya bangga sedikit pun. Saya membenci pemerintah kabupaten, saya membenci guru-guru pembimbing saya, saya membenci dinas BPO. Selama tiga tahun saya menjadi sang juara, sekali pun saya tidak pernah utus untuk bertanding di tingkat provinsi. Alasanya hanya karena kabupaten Manggarai Timur yang tercinta tidak memiliki dana. Di sisi lain, wakil untuk perlombaan voly dan sepak bola selalu diutus ke Kupang. Apakah kalian meremehkan saya? Saya tidak berambisi juara ditingkat provinsi, tetapi sesekali berilah kesempatan untuk anak kampung macam saya supaya bisa mengharumkan nama kabupaten kita. Waktu itu saya hanya diam. Berbicara kepada siapa? Mimpi saya perlahan-lahan gugur oleh Pemerintah sendiri. Dalam hari-hari saya sekarang, saya selalu berharap agar tidak ada lagi bocah kampung yang merasa kecewa dengan pemerintahnya seperti saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.