Bagi Sebagian Perempuan Sepak Bola adalah Sebuah Masalah

Nonton doi main bola. Gambar: Google

 232 total views,  2 views today


Frumens Arwan | Redaksi

Saya perlu terlebih dahulu memberikan ‘disclaimer’ untuk artikel yang sedang Anda baca ini. Pertama, tulisan ini tidak ditulis oleh seorang perempuan sehingga dengan sendirinya tidak mewakili pandangan kaum perempuan mengenai sepak bola. Ini murni pandangan seorang lelaki pecinta sepak bola yang kebetulan punya tautan dengan golongan perempuan yang akan saya bahas dalam artikel ini. Kedua, artikel ini tidak mewakili pandangan semua kaum perempuan. Ingat, tidak ada kata “semua” dalam artikel ini, yang dalam silogisme merujuk kepada seluruh term “perempuan”. Ini hanya pandangan sebagian perempuan yang barangkali saya kategorikan sebagai ‘kaum anti sepak bola’, entah garis keras, moderat ataupun lunak. Ketiga, tulisan ini tidak sedang berusaha memojokkan siapa pun, termasuk kaum perempuan. Sebab urusan mencintai atau membenci sepak bola adalah urusan yang menyangkut selera masing-masing insan. Sama halnya dengan memilih makan mi saja atau mi campur nasi. Tidak ada debat soal itu.

Berabad-abad lamanya sepak bola telah menjadi olahraga yang paling digemari di Planet Bumi. Selama periode yang tidak singkat itu, sepak bola ternyata bukan hanya perkara menggiring bola, mencetak gol dan meraih kemenangan. Lebih dari itu, sepak bola melibatkan banyak aspek kehidupan, mulai dari psikologi, seni, sastra, politik, bisnis, agama, budaya, sejarah, cinta dan patriotisme. Bayangkan saja, berapa literatur telah menulis mengenai sepak bola. Tak terhitung jumlahnya bisnis yang berkecimpung dalam bidang sepak bola, mulai dari yang legal sampai yang ilegal.

Bahkan di beberapa wilayah sepak bola telah menjadi politik sebagaimana yang tampak di Spanyol, ketika Catalonia dengan FC Barcelona-nya berusaha menentang hegemoni negara atau pusat sebagaimana diwakilkan oleh FC Real Madrid. Lahirlah ‘El Clásico’, laga super duper seru yang menggambarkan sebuah rivalitas abadi kedua klub raksasa Spanyol itu. Juga tak kalah menarik bahwa sepak bola telah menyatukan berbagai perbedaan agama, ras dan budaya serentak pada saat yang sama membagi masyarakat dunia ke dalam sekat-sekat: pendukung Dortmund atau pendukung Bayern Munchen, pecinta Messi atau pecinta Ronaldo, dan seterusnya.

Di atas semua itu, sepak bola punya satu sisi yang mengejutkan sekaligus menarik perhatian. Sepak bola yang konon identik dengan laki-laki ternyata tak selamanya demikian. Seiring dengan munculnya gerakan emansipasi perempuan yang mengedepankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, sepak bola mulai memasuki wilayah kaum hawa. Selain digemari, kini sepak bola bahkan telah dimainkan oleh kaum perempuan. Ini persis seperti kata Andrea Hirata dalam novel 11 Patriot-nya: “Sepak bola bukanlah sekadar dua puluh dua orang lelaki tampan kurang kerjaan, berlari, lintang pukang, bertumbukan tak karuan, demi memperebutkan sebuah bola…” Lebih dari itu, sepak bola telah menjadi bagian dari sesuatu yang feminim: kecantikan, glamor, keibuan dan sebagainya. Pendek kata, tak ada lagi sekat gender dalam sepak bola itu.

Namun, ada saja mereka yang menempuh jalur lain: mereka yang membenci sepak bola. Mereka memilih membenci barangkali dengan alasan yang sifatnya situasional bahkan juga emosional. Beberapa malah karena alasan yang nyeleneh. Golongan inilah yang akan saya bahas dalam artikel ini, secara khusus dari kalangan perempuan.

Sebagaimana pertanyaan tandingannya kita ajukan kepada mereka yang mencintai sepak bola, kepada golongan ini―yang selanjutnya saya sebut sebagai perempuan saja―kita patut bertanya: mengapa membenci sepak bola? Ada beberapa alasan yang sepatutnya saya kemukakan di sini.

Alasan pertama mengapa perempuan membenci sepak bola adalah karena dalam banyak hal olahraga ini telah mengambil banyak waktu, perhatian dan kasih sayang orang-orang yang mereka cintai dari mereka. Termasuk di sini adalah para perempuan yang kekasih atau suaminya adalah seorang pecinta sepak bola garis keras. Menurut mereka, sepak bola telah menjadi saingan terbesar mereka di hadapan kekasihnya. Bahkan di mata mereka sepak bola tak kalah menakutkannya bila dibandingkan dengan pelakor.

Beberapa memberi kesaksian bahwa banyak ayah yang rela bangun demi menonton pertandingan sepak bola tatkala anak-anaknya sedang tertidur, tetapi malah tidur atau ngantuk ketika anak-anaknya bangun dan butuh ditemani. Beberapa memberi kesaksian lain bahwa kekasih mereka malah lebih suka menghabiskan malam minggunya dengan menonton pertandingan sepak bola bersama teman-temannya ketimbang berduaan bersama kekasihnya. Yang lebih tragisnya, sebagian lelaki lagi bahkan menggunakan uang yang seharusnya dipakai buat kado di hari kasih sayang untuk sang kekasih sebagai taruhan bola. Kejam bukan main.

Pihan untuk ikut menonton sepak bola bersama sang kekasih ternyata bukan pilihan yang tepat. Pertama, usaha ini akan sangat berisiko atau kalau tidak merupakan sebuah bentuk tindakan menyakiti diri sendiri. Ini karena kebanyakan perempuan tidak bisa begadang atau membiarkan matanya terjaga di waktu-waktu larut malam. Sementara tayangan sepak bola kebanyakan disiarkan larut malam atau subuh. Mau tidak mau, mereka mengalah dengan membiarkan kekasihnya menonton bola sementara mereka sendiri kedinginan di malam minggu yang panjang dan sepi. Akhirnya, rebahan menjadi pelarian satu-satunya.

Kedua, menonton sepak bola bersama sang kekasih dengan alibi untuk bisa berduaan bersamanya adalah sebuah usaha yang nihil untuk tidak menyebut sia-sia. Ini karena laki-laki cenderung menonton bola bersama teman-teman laki-lakinya. Belum kalau mereka berteriak atau menangis di depan sepasang kekasih ini. Belum kalau mereka buka baju, keringatan, kentut atau semacamnya. Betapa menyengatnya ruangan yang diimpikan romantis itu. Dan tentu saja sang kekasih yang tega ini akan memberikan hampir seluruh perhatiannya ke tayangan sepak bola tersebut dan mengabaikan wanitanya ini. Bukan main nyeseknya.

Alasan kedua mengapa perempuan tidak menyukai sepak bola banyak dialami oleh perempuan yang kekasihnya adalah pemain sepak bola. Entah itu pemain kampung, kecamatan, sekolah, kampus atau pemain jadi-jadian. Kebanyakan dari mereka mengaku begitu posesif sehingga cenderung merasa kurang percaya diri ketika kekasihnya sedang berlaga di lapangan. Bagi mereka, itu adalah ajang di mana akan ada banyak mata perempuan lain yang akan melirik si ganteng kesayangannya itu. Akan timbul curiga, misalnya, ketika sang kekasih melakukan selebrasi. Timbul tanya apakah itu ditujukan untuk dirinya ataukah untuk wanita lain yang berjubel-jubel banyaknya itu. Bagaimana kalau bukan untuknya? Saking posesifnya, mereka malahan berharap bahwa lelakinya itu tidak bisa bermain bagus alias mandul dalam laga itu. Alasannya sederhana: mereka tidak ingin ada betina lain yang meliriknya dan tak ada lagi selebrasi penuh ambiguitas macam tadi itu.

Alasan ketiga mengapa perempuan tidak menyukai sepak bola sifatnya cukup altruis. Artinya, alasan ini semata-mata karena perempuan tidak ingin sepak bola itu menyakiti hati orang-orang yang dicintainya. Saya menemukan bahwa ternyata sebagian laki-laki adalah pengagum klub-klub medioker. Klub-klub ampas. Banyak perempuan yang mengaku tidak tega melihat kekasihnya sedih lantaran tim kesayangannya kalah atau berada di zona degradasi sejak awal musim hingga akhir musim. Perempuan tidak ingin hal itu berdampak bagi hubungan mereka. Bukankah ia akan moody-an atau marah-marah tak karuan terus? Ini misalnya terjadi pada kasus yang menimpa sebuah klub asal London bernama Arsenal beberapa waktu yang lalu. Eds, jangan sekali-kali mencoba menyebut Barcelona di dalam hati Anda.

Sikap altruisme macam ini juga akan muncul kasus lain. Kebanyakan dari mereka mengaku bahwa mereka tidak ingin ayah, saudara, atau kekasihnya mengalami cedera fisik akibat olahraga sialan ini. Bagi perempuan, aktivitas ini tentulah sangat beresiko. Di benak mereka akan muncul berbagai macam prasangka-prasangka buruk seperti: “bagaimana kalau tangan dan kakinya patah, bagaimana kalau ada yang sengaja menendang perutnya, bagaimana kalau terjadi perkelahian” dan seterusnya. Mereka cenderung membayangkan sepak bola sebagai sesuatu yang ngeri, sama ngerinya dengan balap motor liar atau tawuran. Ini tidak berlaku bagi perempuan yang kekasihnya merupakan pemain cadangan abadi.

Sebagai penutup, saya perlu mengemukakan beberapa kiat agar lelaki yang dicintainya itu berhenti dari mencintai sepak bola. Ini semacam alternatif yang sulit, tetapi suka tidak suka patut dicoba. Pertama, supaya orang yang Anda cintai tak menonton sepak bola larut malam, ajak dia menonton sepak bola Indonesia. Itu kalau tidak pagi hari yah sore hari. Usaha ini punya kelemahan karena bagi laki-laki menonton sepak bola Indonesia sama halnya dengan menonton para mafia yang berebut uang dan kuasa di lapangan hijau. Bukankan sepak bola Indonesia penuh dengan para mafia?

Usaha serupa adalah mengajak lelaki Anda menonton pertandingan sepak bola Amerika Latin. Kalau mereka mengaku tidak tertarik, beri tahu mereka bahwa penonton-penonton sepak bola di sana cantik-cantik dan ‘bohay’. Pasti mereka akan ikut. Namun, pilihan ini dengan sendirinya berisiko karena itu berarti Anda sedang memanjakan mata seorang pawang buaya. Ini lagi-lagi adalah sebuah tindakan menyakitkan diri. Toh Anda sendiri akan sakit hati karena diabaikan.

Kedua, ajak lelaki Anda untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain, semisal jalan-jalan, membaca buku, bersepeda atau menonton film kesukaan di mana Anda bisa punya waktu berduaan bersamanya. Usaha ini pun tetap saja susah mengingat apa pun yang laki-laki lakukan, mentoknya di sepak bola. Omong politik, mentoknya di sepak bola. Berlibur ke pantai, ujung-ujungnya sepak bola. Dunia bagi lelaki adalah seluas sepak bola.

Ketiga, satu-satunya usaha yang akan sukses adalah jangan menikahi lelaki yang mencintai sepak bola. Tidak butuh penjelasan mengenai hal ini.   

Terakhir, perlu saya katakan bahwa tidak ada cara yang benar-benar manjur untuk dapat menghapus cinta seorang lelaki kepada sepak bola. Sekali ia mencintai sepak bola, takkan ada yang dapat menggantikannya. Anda hanya bisa melengkapinya. Anda harus menerima kenyataan pahit untuk sepanjang hidup kalian bersamanya berbagi tempat bersama sepak bola. Itu pilihan satu-satunya kalau Anda tak mau kehilangan dirinya. Sedikit memelesetkan kalimat Marx yang terkenal itu, barangkali bola adalah candu lelaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.