Bahkan Dian Sastro Pun Tak Secantik Gadisku

“Maka bagi saya perlu sekali-kali kita dengan tegas mengakui bahwa kekasih kita adalah yang paling cantik, satu-satunya yang pernah ada. “

Dian Sastro, hidungmu abadi nyaris seperti puisi. (Sumber gambar: pinterest.com)

 989 total views,  1 views today


Frumens Arwan | Redaksi

Hari-hari ini ramai kita membahas kasus penyebaran konten porno yang menjerat artis cantik Gisella Anastasia alias Gisel. Mulai dari media sosial sampai ke pangkalan ojek pembicaraan seputar hal ini menjadi buah bibir. Akan tetapi, daripada membahas hal yang seharusnya jadi urusan privat seseorang lebih baik kita membahas hal yang jauh lebih berfaedah. Sekarang, cukuplah kita tahu bahwa Gisel adalah bagian dari diri kita yang akhirnya kena tangkep.

Yang tak kalah ramai adalah soal kutipan kalimat mutiara yang katanya milik Roy Marten, mantan mertua Gisel, yang bunyinya begini: “Menikahlah dengan perempuan yang ketika ada masalah ia lari ke Tuhan bukan ke laki-laki lain.” Kalimat itu menohok dan menghujam hati saya ketika saya pertama kali membacanya di Twitter. Sejurus kemudian saya mengunggah postingan yang sama di akun Twitter saya dan mengirimkannya ke kekasih saya di Mano. Gadis saya itu “kebakaran jenggot” ketika membacanya. [Beruntung dia tidak punya jenggot.]

Sebagaimana yang saya lakukan, di Twitter kalimat ini menjadi trending topic dan menjadi senjata kaum laki-laki untuk membela diri terhadap label “buaya” yang selama ini kebanyakan dialamatkan oleh kaum wanita kepadanya. Tentu saja popularnya kalimat ini tidak terlepas dari kisah asmara atau lebih tepatnya hubungan rumah tangga antara Gading Marten, anak Roy Marten, dan Gisel. Lagi-lagi tidaklah penting membahas hal begituan karena itu urusan rumah tangga orang. Berani-beraninya!

Bagi saya, kalimat mutiara milik Roy Marten itu menyentuh suatu persoalan mendasar bahwa masalah dalam suatu hubungan, seperti perdebatan, rasa bosan, cemburu dan sebagainya, seringkali membuat kita dengan mudah memalingkan diri dari pasangan kita. Yang paling parah adalah ketika kita mencari orang lain sebagai pelarian kita. Lahirlah perselingkuhan, yang kebanyakan bukan soal cinta, tetapi hanya soal harta, takhta dan perselangkangan. [Di bagian ini saya ingin meminta maaf karena saya berbicara di luar kapasitas saya. Saya hanyalah lelaki biasa yang masa depannya pun belum jelas. Berani-beraninya saya membahas pembicaraan orang dewasa semacam ini. Tapi ya sudahlah. Silahkan kalian mengumpat dalam hati. Apa bedanya Mario Teguh dengan saya kalau seandainya kata-kata saya ini bermanfaat untuk hubungan Anda.]

Maka bagi saya perlu sekali-kali kita dengan tegas mengakui bahwa kekasih kita adalah yang paling cantik, satu-satunya yang pernah ada. Kemarin pagi sehabis membaca kalimat mutiara Roy Marten saya menghubungi kekasih saya via Whatsapp. Ia bingung lantaran saya memandangi wajahnya lamat-lamat. Bolak-balik saya lihat mata, hidung, dahi, telinga, pipi dan dagunya. Semakin lama saya memandangnya semakin saya sadar bahwa dia adalah yang paling cantik yang pernah ada di planet ini. Ini benar!

Selain itu, kita tentunya juga harus realistis. Seringkali kita mendengar ada orang yang akan bilang bahwa masih ada wanita yang lebih cantik dari kekasih kita. Bilang saja ke mereka, kalaupun masih ada yang lebih cantik dari kekasih kita, misalnya saja Hermione Granger di film Harry Potter, ya paling tidak yang dengan berani dan ikhlas menerima segala kekurangan kita adalah dia yang saat ini sedang bersama kita. Toh mereka itu tak seberuntung kita yang bisa melihat kecantikan dalam diri kekasih kita. Mereka tidak melihat apa yang kita bisa lihat dalam diri kekasih kita.   

Sesekali perlulah duduk berdua untuk sekadar minum moke di hadapan kekasih kita. Konon katanya, sehabis sloki kosong kita akan menemukan wanita kita jauh lebih cantik dari siapa pun di dunia ini. Kalaupun ketika sadar kita tetap menemukannya masih begitu-begitu saja, ingatlah bahwa menjadi seperti dirinya―yang dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, dua belas bulan dalam setahun, tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun―adalah pekerjaan yang tak semua wanita lain bisa lakukan. Yakinlah saja, sebagaimana saya, bahwa kekasih saya jauh lebih cantik dari siapa pun.

Tulisan ini harus saya akhiri dengan kutipan lirik lagu Jason Ranti yang bunyinya begini: “Ada berita apa hari ini Dian Sastro? Hidungmu abadi nyaris seperti puisi.” Sebabnya saya bertanya, kenapa Jason Ranti yang mengaku pengagum berat Sapardi Djoko Damono itu harus menyebut nama Dian Sastro di lagunya? Memangnya dia jomlo? Memangnya kekasihnya atau istri Sapardi tidak marah soal itu? Sebegitu cantikkah Dian Sastro sampai-sampai dijadikan lirik lagu? Karena kesal, saya kutip lagu itu untuk saya kirimkan ke kekasih saya yang cantiknya melebihi Dian Sastro itu. “Ada berita apa hari ini Nindy Lehon? Hidungmu abadi nyaris seperti puisi.” Malamnya dia merem melek, tidak bisa tidur, demam, susah makan dan kejang-kejang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.