Bersurat Menggunakan Puisi

 227 total views,  3 views today


Haeryantho|Kontributor

Setelah membaca tulisan bung Mensi Arwan mengenai surat, saya yang juga mengagumi kata-kata dalam lembaran kertas, ingin membagikan pengalaman yang sekiranya sama mengenai surat. Ulasan ini mungkin agak berbeda dengan surat yang disebutkan sebelumya, karena saya bersurat dalam puisi. Menulis surat yang panjang lebar untuk sang kekasih mungkin lazim dilakukan, selazim tukang pos yang setia mengantar dan memasukan surat ke dalam kotak pos di halaman rumah. Tetapi menulis surat dalam rupa baris-baris puisi adalah hal yang cukup baru, -apa lagi jika puisi-puisi itu telah menjelma menjadi sebuah buku sederhana-setidaknya menurut saya yang melakukannya.

Baca Juga: https://tabeite.com/bagaimanapun-surat-akan-selalu-lebih-baik-dari-handphone/

Adalah Alicia, seorang gadis di Nusa Bunga sana. Parasnya meluluhkan hati siapa pun termasuk penyair gagap seperti saya. Keelokannya membuat jemarik menari-nari pada kertas, menyisahkan kata-kata cinta dari ujung pena yang terus menggerutu sebab cemburu. Singkatnya gadis berdarah Manggarai ini membuat saya jatuh hati. Namun pertanyaannya apakah kita serasa? Apakah orang tuanya setuju?

Belum tentu juga. Saya tidak pernah berandai-andai akan ke sana. Saya hanya berharap agar si empunya lesung pipit ini tersenyum-senyum membaca puisi-puisi yang dengan setia saya kirimkan (atau dalam bahasa bung Mensi terguling-guling di atas ranjang), entah pada kolom status di Facebook atau pada halaman Majalah Mingguan yang tak tahu apakah sampai kehadapannya atau tidak.

Perasaan bahwa ia menyukai puisi-puisi yang mengalir dari kedalaman hati ini, membuat saya siang malam memikirkan kata apa yang harus ditulis. Ah lebay. Tapi memang demikian, bahkan di bawah bantal pun tersimpan buku-buku karya Om Sapardi sembari berharap agar kata-katanya tentang mencintai dengan sederhana termeterai dalam diri, sehingga saya juga mampu mencintai dengan sederhana walau hanya dalam sebaris puisi tiap pagi.

Berbicara mengenai puisi, saya yang baru mengecap kulit luar Filsafat (maklum baru lulus kelas pengantar) mengingat sekelompok ‘filosof’ Yunani yang disebut Kaum Sofis. Dikatakan bahwa mereka yang tergabung dalam kelompok ini sangat pandai merangkai dan mendandani kata-kata, sehingga banyak orang yang tertarik atau baper dengan ucapan mereka. Mereka pandai berpuisi di lorong-lorong kota, di sudut-sudut perkampungan dan di tengah pasar. Terkesan memamerkan kelihaian mengolah kata dan mencari perhatian publik, tetapi sebetulnya dari sanalah kemudian para sofis ini mendapatkan banyak pengikut dan murid, yang pada akhirnya memberikan imbalan bagi mereka.

Boleh dibilang tujuan mereka berpuisi adalah untuk menunjang kehidupan. Meneladani kehandalan para sofis dalam merangkai kata, saya kemudian menulis berumpun-rumpun puisi. Tujuannya bukan untuk mendapatkan pujian apa lagi imbalan dari pembaca maupun pendengar, lebih lagi untuk mendapatkan honor dari media tertentu. Jika ini yang terjadi bukankah saya begitu naif dan pada saatnya semua orang berkata: “Om Chairil dan Paman Sapardi yang pandai berpuisi saja tidak segitunya”.

Saya berpuisi hanya untuk menyenangkan hati Alicia semata. Saya ingin dirinya terlarut dalam kata-kata dan pada akhirnya berujar ‘betapa indahnya dikagumi penyair’. Saya sepenuhnya melukiskan cinta dan kekaguman padanya. Bukankah semua penyair sependapat dalam hal ini? Mereka pandai merangkai kata, meluluhkan hati si wanita, tanpa perlu dimiliki wanita yang empunya nama.

Para penyair sibuk dengan mencintai dan merasa memiliki tanpa perlu dicintai, apa lagi dimiliki. Hal ini juga yang terjadi dengan diri saya, perantau asal Manggarai yang berani-beraninya menamakan diri penyair, padahal puisi-puisinya belum tentu dibaca orang. Para pembaca pada kenyataannya hanya menitipkan jempol dibawah status yang dipasang atau seakadar meninggalkan kata “mantap” berwarna kuning pada kolom komentar.

Saya berpuisi sekadar melampiaskan kekaguman pada sahabat, teman, pendengar, yang dikagumi atau “kekasih” yang bukan benar-benar kekasih, yang pasti namanya Alicia. Puisi-puisi yang saya tulis hanya layak dikenang dan diri ini tak pernah mengingini Alicia: mencintainya ia, tetapi ingin memilikinya tidak mugkin bukan? Selain itu, saya juga menulis puluhan puisi, bukan terutama untuk membuat si Alicia ini baper-an lalu memutuskan untuk mengagumiku.

Jika demikian yang terjadi, saya menciptakan sebuah masalah baru sebab baper menurut Henry Manampiring (Penulis Buku Filosofi Teras) adalah akar dari segala masalah. Bayangkan jika Alicia mencintai saya hanya karena membaca puisi yang saya kirim, di sana akhirnya dia kehilangan arti mencintai itu sendiri sebab mencintai selalu megalir dari kedalaman hati, bukannya karena sentilan dari luar.

Ketakutan akan hal ini membuat saya berhati-hati dalam menitipkan puisi pada gadis yang berada di lain tempat dan waktu ini. Saya selalu memilih diksi yang tidak membuatnya mencintai saya apa lagi untuk mengajak saya mengencani malam. Itu semua terjadi bukan karena takut jatuh dalam rasa cinta. Saya hanya takut kalau-kalau saya disamakan dengan keindahan puisi, sehingga apabila ada yang tak sama ia akan segera berpaling.

Mungkin banyak yang bertanya mengenai keistimewaan mengirim puisi pada seseorang. Berikut adalah alasan saya yang peling mendasar. Bagi saya yang tergila-gila dengan puisi, bersurat dalam sebaris sajak sangat bermakna. Sebaris puisi malahan lebih padat dari sebuah surat resmi. Kata-kata puisi kaya akan makna, menimbulkan banyak penafsiran, membuat hati gelisah jika hanya dibaca sekali. Saya juga memilih untuk membahasakan cinta dengan bahasa-bahasa puisi karena saya berharap agar kelak nama saya tetap ada dalam memori gadis ini

Setelah membagikan indahnya bersurat dalam puisi, saya sedikit menyampaikan harapan saya. Semoga Anda semua yang sempat membaca curahan penuh ‘ke-jomel-an’ memiliki sudut pandang yang baru mengenai puisi. Puisi bukanlah kata-kata abstrak tak bermakna, melainkan sebuah kesederhanaan dalam mengungkapkan kenyataan bahwa Anda sebenarnya memiliki alasan untuk berpuisi yakni karena mengagumi sesuatu atau seseorang, seperti halnya saya yang mengagumi Alicia: Gadis Manggarai bermahkotakan beli belo. Akhirnya, salam dari bebukitan pinggiran kota Malang: seorang perantau yang menggelari diri sebagai penyair.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.