Bertanya Tentang Cinta Kepada Aristoteles

 437 total views,  1 views today


Arsy Tendor –Kontributor

Aristoteles? Saya berharap Anda tidak merasa ini rumit setelah melihat nama beliau. Tenang saja. Ini ringan. Dipastikan kita mudah membacanya. Memang tulisannya juga tak seberapa.

Tentang cinta. Ada aneka cara untuk mengungkapkannya. Ada kalanya diungkapkan dengan bahasa-bahasa metafora, dengan kata-kata bergaya puitis, kadang-kadang juga terkesan terlalu bombastis. Di sisi lain, orang juga sering curhat tentang cinta segitiga, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta pertama, cinta satu malam, cinta monyet, cinta buta, atau bucin, kata anak-anak indie.

Ada pula yang berkata, cinta itu kadang-kadang rumit, berbelit-belit, dan kadang susah untuk dipahami. Benarkah?

Mengapa Menggunakan Frasa “Jatuh Cinta”


Akhir-akhir ini kami seringkali berbincang-bincang tentang frasa “jatuh cinta”. Kami tidak membahas tentang bagaimana harus mencintai. Kami hendak mencari jawaban mengapa orang menggunakan frasa “jatuh cinta” dan mengapa tidak menggunakan kata mencintai.  


Perhatikan ketika mendengar orang berbicara, “saya sedang jatuh cinta”. Atau kita melihat tulisan seperti ini, “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Yang kami bahas adalah kenapa di depan kata cinta itu, ada kata jatuh. Seolah-olah cinta itu jatuh. Kita mungkin membela dengan berkata, jangan menafsir kalimat secara harfiah. Tetapi, bukankah setiap kata itu memiliki arti?


Kita juga mendengar orang mengucapkan kalimat ini, “dia sedang jatuh hati.” Seolah-olah hati kita terjatuh, padahal organ manusia tidak pernah jatuh kecuali ada alasan medis. Pertanyaan kami adalah, kenapa orang tidak mengatakan kalimat ini, “saya sedang mencintai” tetap orang lebih tertarik dengan kalimat “saya sedang jatuh cinta”.


Pertanyaan kami barangkali aneh. Terkesan mengada-ada. Ya, begitulah. Percakapan santai yang sepintas tak berfaedah, tetapi bila ditelaah lebih dalam sebenarnya ada makna yang mendalam. Yang mendalam itu tersembunyi. Yang tersembunyi itulah yang perlu digali. Tidak membutuhkan tenaga yang menguras banyak energi tetapi cukup dengan situasi yang ditemani secangkir kopi.

Kembali ke frasa “jatuh cinta”. Selama ini, mungkin kita sering menggunakannya. Saking sering, kita lupa memikirkannya. Entahlah kapan kita menggunakannya. Coba kita bertanya kepada filsuf. Filsuf siapa? Ini dia!

Aristoteles dan Dua Ekstrem Mencintai
        

Beliau tidak berbicara tentang jatuh cinta secara konkret. Beliau berbicara tentang keutamaan sebagai jalan tengah. Tentunya maksud pemikirannya bukan berarti keutamaan itu sebagai sikap setengah-setengah. Maksud konsep keutamaan sebagai jalan tengah adalah sebuah tindakan itu menjadi baik ketika orang menghindari dua ekstrem. Dua ekstrem itu adalah tindakan yang terlalu kurang dan tindakan yang berlebih-lebihan. Kita mungkin biasa menyebutnya balance.

Misalnya keutamaan keberanian adalah jalan tengah di antara sifat pengecut dan gegabah. Keutamaan murah hati adalah jalan tengah di antara sikap boros dan kikir. Sifat kikir adalah sifat yang kurang dalam memberi dan sifat boros adalah sifat yang berlebih-lebihan dalam memberi sehingga jalan tengahnya adalah murah hati.
        

Atau keutamaan kontrol diri yang berada di dua ekstrem. Dua ekstrem itu adalah sifat yang terlalu emosional seperti sembrono atau pemarah dan orang yang terlalu sedikit emosi seperti orang-orang yang apatis. Emosional adalah sikap yang berlebihan dan apatis adalah sikap yang kurang sehingga jalan tengahnya adalah kontrol diri.


 Lalu, apa keutamaan sebagai jalan tengah dari sikap mencintai? Tentu yang dimaksud bukan berarti sikap setengah-setengah dalam mencintai. Yang ingin disampaikan adalah mencintai sesuai dengan porsinya. Mencintai yang berlebihan akan terkesan manja. Manja tentunya berbahaya untuk sesuatu hubungan dan perkembangan mental. Mencintai yang kurang juga terkesan cuek dan berbahaya pula untuk suatu relasi. Ujung-ujungnya relasi bisa pupus karena komunikasi terputus. Lalu, bagaimana harus mencintai?
        

Kita sekarang mungkin sedang merajut kisah. Entahlah, dengan pacar, teman, anak, orangtua, atau sahabat. Sikap mencintai berlebihan atau lebih tepatnya manja yang berlebihan bisa membawa candu bagi orang yang dimanja. Ketika kita menghilang atau tiba-tiba berubah sikap, orang yang biasa dimanja akan gelisah, galau, mungkin juga kecewa. Sikap kita telah membuat dia candu dengan manja, akibatnya muncul kata bucin untuk konteks anak zaman sekarang. Sikap cuek yang berlebihan juga bisa meruntuhkan suatu hubungan. Orang menjadi tidak nyaman dan ujung-ujungnya hubungan kandas sebelum beranjak ke pelaminan. Karena itu, mencintailah sesuai dengan porsi mencintai. Saya berpikir kita paham dan bisa memilih jalan tengah dalam konteks ini

Bertanya Lebih Jauh


Sampai di sini, kita harus berani melontarkan kritik. Satu yang mungkin dilupakan dalam mencintai yaitu rasio kadang dikendalikan oleh kehendak. Kita tidak lagi berpikir panjang. Kita tidak mempertimbangkan jalan tengah sebagaimana dijelaskan tadi soal mencintai. Rasa kita spontan dan sikap kita juga mengalir begitu saja. Orang kadang lupa mempertimbangkan begini harus bersikap dalam mencintai. Orang terbawa dalam perasaanya.
        

Logika dikendalikan oleh rasa. Sikap mencintai menutup mata bagaimana bersikap yang tepat. Lihat saja berapa kasus bunuh diri karena cinta seseorang kandas sebelum ke pelaminan. Beberapa orang menjadi stres karena cintanya pupus di tengah jalan. Di sini tidak ada lagi pertimbangan-pertimbangan rasional karena seperti orang katakan “cinta itu membutakan”. Nah, Barangkali ini yang memunculkan kata “jatuh cinta”. Cinta itu membuat kita terjatuh. Benarkah demikian?

Cinta yang Memiliki Dua Sisi


Jangan salah. Di satu sisi, cinta mungkin membuat kita terjatuh. Tetapi di sisi lain, cinta itulah yang membuat kita merasa ada setiap waktu. Cinta membuat kita bersemangat setiap hari. Untuk saya yang hidup di tanah perantauan, betapa semangatnya bila mendengar suara dari keluarga meskipun via telepon. Itu hanya “via suara.” Di sini saya merasa dicintai.
        

Atau untuk kita yang memiliki dia yang menjadi teman cerita setiap hari. Sebutan tepatnya mungkin pujaan hati. Betapa semangatnya bila kita mendapatkan sesuatu darinya. Walaupun mungkin sekadar ucapan selamat tidur, diminta jaga kesehatan, jaga diri, mungkin juga jaga hati. Kita menjadi lebih semangat dalam beraktifitas. Di sini, cinta itu memiliki kekuatan. Cinta mengantar orang pada suasana batin yang makin membara. Akibatnya, aura semangat itu tumbuh dan terwujud dalam energi yang ditumpahkan dalam kegiatan sehari-hari.
       

Namun, cinta  tak hanya seindah itu. Cinta juga bisa melumpuhkan. Lumpuh dalam konteks ini tentunya bukan hanya lumpuh secara fisik. Hidup seseorang tidak lagi dikendalikan oleh rasio tetapi oleh rasa yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ketika kita sedang mencintai, mungkin kita lupa dengan pertimbangan rasional. Termasuk saya. Ya, begitulah. Rasio tidak bekerja di sana.
        

Perhatikan saja, orang rela tidur larut malam hanya untuk bercakap-cakap dengan pacarnya via telepon. Walaupun hanya via suara, orang rela berkorban. Tak peduli, besoknya mungkin akan telat ke tempat kerja. Atau mungkin orang berkelahi karena ada orang ketiga dibalik sebuah hubungan. Bahkan ada yang baku bunuh. Ada pula ancaman untuk bunuh diri karena kekasihnya pergi tanpa ada kabar yang pasti. Cinta itu kejam, bukan? Tak salah lagi, cinta memiliki dua sisi yang berbeda, menghidupkan dan mematikan.


Jawaban Tentang Frasa “Jatuh Cinta”
        

Kembali ke kata “Jatuh Cinta”. Dalam bahasa Inggris, ada kalimat “falling in love”. Fallen berarti terjatuh. Secara harfiah bisa diartikan sebagai jatuh ke dalam cinta. Atau mungkin cinta membuat kita terjatuh. Jika dipahami seperti ini, bisa dimaklumi. Tetapi adakah sesuatu yang ingin disampaikan dari kata “jatuh cinta”, ini?

Cinta dan Pengorbanan


Jatuh itu mengindikasikan pengorbanan. Ketika kita terjatuh, ada sesuatu yang dikorbankan di sana. Entahlah. Mungkin harga diri, luka fisik, luka batin, keluarga, orang terdekat, atau teman. Begitulah jika jatuh cinta, siap-siap ada yang dikorbankan dari diri kita. Siap-siap disakiti atau mungkin dilukai. Namanya saja “jatuh cinta.” Cinta itu membuat kita jatuh. Dan justru disinilah unsur pengorbanannya. Orang rela jatuh karena cinta sehingga muncul kata “jatuh cinta”. Orang pun menggunakan kalimat “saya sedang jatuh cinta”, bukan “saya sedang mencintai.” Ini sekedar tafsiran lain tentang jatuh cinta.


Dalam ajaran Kristen, Yesus jatuh beberapa kali sebelum disalibkan karena cinta kepada manusia. Yesus sedang jatuh cinta. Mungkin kita juga pernah jatuh karena cinta. Jatuh di sini memiliki arti yang luas. Tetapi jatuh yang saya maksudkan di sini adalah pengalaman sakit karena cinta. Karena itu, bila kita jatuh cinta, berarti kita siap-untuk sakit. Di sinilah sisi pengorbanannya. Di sini baru saya paham mengapa orang tidak menggunakan kalimat, “saya sedang mencintai”. Dalam kalimat ini ada unsur pengorbanan.
        

Cinta yang sesungguhnya adalah berkorban. Jika kamu belum berkorban dalam suatu hubungan, berarti kamu belum “jatuh cinta”.  Lalu, apakah berkorban merupakan jalan tengah dalam mencintai? Setiap orang pasti paham tentang situasi dan konteks. Kapan kita berkorban dalam mencintai, semua orang tentu tahu. Ketika kita paham tentang situasi dan konteks, disitulah letak jalan tengahnya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Aristoteles. Semoga tetap “jatuh cinta”.
        
 
 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.