Betapa Gugupnya Berpacaran dengan Seorang ASN

ASN memang istimewa. Foto: Google.com

 2,123 total views,  2 views today


Popin Davianus | Redaksi

Beberapa bulan yang lalu, saya berkenalan dengan seorang perempuan cantik nan anggun. Namanya tidak usah saya sebut. Begitu juga dengan tempat tinggalnya. Saya punya ketakutan, ketika kedua hal tadi saya sebut, Anda akan merayu dan menjadi orang ketiga dalam hubungan percintaan kami.

Hubungan kami berawal dari sebuah perkenalan singkat oleh seorang teman. Sebagai laki-laki jomlo pada saat itu, tawaran untuk berkenalan saya terima dengan penuh percaya diri tanpa keberatan apa pun. Sejak saat itu saya mengantongi nomor whatsapp perempuan cantik nan anggun yang selanjutnya akan menjadi pacar saya.

Pendek kisah perkenalan pun bergeser ke rasa saling suka dan sepakat untuk menjalin hubungan asmara sambil merelakan masa lalu masing-masing.

Setelah resmi berpacaran, jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya, sering berkeringat walau tidak melakukan aktivitas yang berat dan saya juga merasakan gugup yang berlebihan.  Saya tidak mengidap penyakit tertentu, hal tadi disebabkan oleh sebuah informasi yang saya peroleh bahwa saya berpacaran dengan seorang ASN. Orang yang jasanya dipakai negara untuk membantu mengurus kemajuan negara.

Sebagai seorang sarjana yang ijazahnya belum pernah digunakan, saya merasa sudah salah memilih pasangan. Letak kesalahannya bukan disebabkan oleh ketidakcocokan prinsip atau semacamnya, melainkan karena berpacaran dengan seorang wanita karier. Apalah arti seorang penjual barang kios seperti saya di depan seorang perempuan yang masa depannya sudah ditanggung negara?

Tak sampai di situ saja, keringat dingin semakin hari semakin bercucuran ketika melihat kenyataan di masyarakat di mana calon bapa dan mama mantu sangat mengidamkan menantu seorang Aparatur Sipil Negara, atau yang dari awal kita sebut ASN. Pacaran kami seperti tidak berimbang. Persis sebuah judul lagu lawas, Singkong dan Keju. Saya sebagai Singkong dan Pacar saya kejunya.

Hampir saja jantung saya mau copot sebelum teman saya datang memberikan nasihat. Nasihat teman saya ini menjadi motivasi bagi saya yang menganggap diri sebagai Singkong dalam lagu “Singkong dan Keju” milik band Bill Board. Teman saya memberikan dua nasihat yang sedikit waras. Nasihat pertama saya harus mengundurkan diri dari hubungan yang baru dibangun itu. Nasihat kedua tahun depan saya harus mengikuti jejak pacar saya, bahwasannya saya harus mencalonkan diri menjadi ASN. Perkara lolos dan tidaknya, itu urusan belakangan.

Saya akhirnya memutuskan untuk memilih nasihatnya yang kedua. Bagi saya, mengundur diri dari hubungan bersama pacar baru saya itu adalah sebuah keputusan yang tidak berfaedah dan hanya membuat saya kelihatan lemah dan tidak berguna sebagai calon kepala keluarga. Tahun depan adalah ajang yang paling baik untuk menunjukkan diri bahwa saya adalah sarjana yang sanggup bersaing dengan sarjana lainnya di daerah saya, Manggarai Timur. Toh, jika nanti nasihat kedua ini tidak saya jalankan dengan baik, maka mau tidak mau, suka tidak suka saya harus mengambil nasihat yang pertama.

Sambil perlahan-lahan menjalankan nasihat yang kedua, saya juga mengedepankan iman saya sebagai orang Katolik. Setiap malam saya menyerahkan diri di depan patung Tuhan Yesus dan Bunda Maria untuk berdoa novena dan doa rosario, memohon keterlibatan Tuhan dalam masalah asmara anak-Nya.

Jika saja pacar baru saya bukan seorang ASN, maka profesi sebagai pedagang kecil ini akan tetap saya geluti sampai pegawai koperasi harian tidak lagi datang menagih pinjaman saya. Secara ASN adalah pekerjaan yang paling banyak digemari oleh masyarakat di daerah yang lapangan kerjanya terbatas seperti Nusa Tenggara Timur.

3 thoughts on “Betapa Gugupnya Berpacaran dengan Seorang ASN

  1. Tapi kata orang dari cina kalau mau kaya atau lebih mapan itu harus bangun bisnis, kalau mau hidup pas- pasan jadi pegawai negri atau ASN itu tadi dan kalau mau hancur judi
    Apakah pernyataan diatas betul?

  2. Ata mesen lancar wale sida, agu bae adat manggarai, soal profesi antara pedagang dan ASN tidak jadi masalah, toh sama2 menghasilkan uang, kalo ASN kan tunggu tglnya bru gajian, kalo pedagang kan tiap hr dapat uang, tabe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.