Bisakah Kau MengkhianatiNya?

281 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


(Salahkah bila aku berharap di masa depan kamu memilih aku, bukan Dia?)

***

Waktu itu aku duduk di SMA kelas dua. Tepatnya waktu liburan kenaikan kelas, aku liburan di rumah mama tuaku,mama tua Susan kakak kandungnya mama. Mama tua Susan pemilik kos-kosan sukses di kota Labuan Bajo. Aku tidak pernah menyangka, keputusanku mengunjungi Labuan Bajo adalah pintu gerbang menuju dosa termanisku. Ruteng – Labuan Bajo, dalam perjalananku waktu itu tujuannku hanya ingin melepas kangen dengan mama tua dan bapa tua. Mereka juga pasti merindukanku dan siap menyambut putri kesayangan mereka (aku sudah dianggap sebagai anak sendiri, karena mereka belum dikarunia buah hati).  Selebihnya juga, aku ingin menikmati indahnya keindahan alam yang selalu disajikan Labuan Bajo setiap aku berkunjung. Sekali lagi, tidak pernah kuduga Tuhan memiliki rencana lain mengenai kunjunganku kali ini. Ada bonus yang disiapkan Labuan Bajo selain keindahannya.

***

“Enu, saya biasa dipanggil Ican..”. Bersama semilir angin  Pantai Pede, suaranya pecah di tellingaku mengalahkan debur ombak yang menghantam bibir pantai. Bukannya kesakitan, gendang telingaku seperti sedang dimanjakan oleh alunan  instrument alami. “Saya Oca..” balasku malu-malu sambil memainkan ujung rambutku. Perkenalan singkat itu harus segera diakhiri karena senja akan segera berlalu. Ah.. senja kali ini terlalu cepat beranjak pergi. Aku akan lebih mengutuk senja hari itu seandainya aku tidak berhasil membuat nomor WA tersimpan di handphonenya. Untungnya… Sebelum aku lenyap dari hadapannya ” Oca.. minta nomor WAmu boleh?”. Oh senja, oh laut, oh angin….. seolah mengerti apa mauku.

Senja berlalu, meninggalkan rona merah dipipiku. Saat aku melangkah pulang, aku yakin matanya masih menatap punggungku. Aku merasakannya. Kalaupun itu tidak kau lakukan, aku terlanjur percaya pada harapku.

“Mama tua, bapa tua, minggu depan baru Saya balik ke Ruteng”.

***

“P”. Pukul 20.14 WITA pesan masuk via WA, nomor baru. Dengan semangat kubalas “P”. ” Hai Oca, ini nomornya Saya. Ican”. Oh Tuhan, suhu udara mendadak menjadi kolaborasi antara dinginnya Ruteng dan panasnya Labuan Bajo. Dinginnya Ruteng kemudian disentuh oleh panasnya Labuan Bajo menimbulkan sensasi kehangatan yang aku paham saat itu cuma aku yang mengalaminya. Aku mulai menyentuh layar handphoneku, ibu jariku menari-nari merangkai huruf membentuk kata demi kata. Malam itu berjam-jam kami mengobrol. Walupun mengobrol lewat chat, bagiku seperti nyata. Kami seperti sedang berhadap-dapan. Aroma tubuhnya tertanam kuat pada rongga hidungku, sedangkan senyumnya tidak pernah berhenti menari pada mataku. Sama persis,  kami mengulang adegan  di pantai sebelum senja tadi. “Selamat malam Oca…, Selamat tidur mimpi indah ya.. jangan lupa besok ya..” Pukul  23.45 dia menutup obrolan denganku. Sekali lagi, aku membaca pesan terakhirnya itu. Aku memencet tombol mengunci layar handphoneku, meletakkannya di samping bantalku. Selanjutnya, aku mencoba menutup mata. Mataku tertutup, namun otakku masih mencerna kembali semua tentang dia. Ican umurnya 19 tahun, dua tahun lebih tua dariku. Dia putra asli Labuan Bajo. Seharusnya dia sudah kuliah, namun katanya tahun depan baru dia melanjutkan kuliah. Sudah, cukup sampai di saja aku mengorek-ngorek  tentang dia. Aku menikmati rasa penasaranku. Biarlah sedikit demi sedikit aku mengenalmu. Perihal pesonamu, aku tidak akan melahapnya sekaligus, agar porsi rinduku tidak cepat habis.  Ah… Ican,  aku jatuh pada rasa yang terlalu takut untuk kudefinisikan sebagai “cinta”. ( “Jangan lupa besok ya…”. ) Oke, tunggu aku besok sore di pantai. Sebelum senja menyapa, aku pasti sudah di sana. Pasti.

***

 Keesokan harinya. Saat membuka mataku, pikiranku sudah tertuju pada sore. Aku mengabaikan mentari pagi, bahkan aku tidak peduli seindah apakah sunrise di pagi itu?.  Aku tidak begitu menikmati Kopi dan rebok yang disajikan mama tua. Siangnya aku menderita amnesia, aku lupa saat makan siang makanan apa yang aku santap. Aku terus melirik jam dinding, sangat lama perputaran jarumnya. Seolah-olah tidak percaya dengan jam dinding, aku melirik jam tanganku. Oh Tuhan, apakah hari ini 1 menit bukan 60 detik lagi? Mungkinkah sudah dirubah menjadi 120 detik? Atau lebih? Entahlah, perguliran waktu dari pagi hingga sore sangat terasa lamanya. Memang benar kata orang, waktu akan terasa sangat lama jika Kita sedang menunggu.

Akhirnya, pergolakan antara aku dan waktu berakhir, saat kulihat jarum panjang tepat di angka 12 dan jarum pendeknya di angka 3.  Aku menyambar tas dan handphoneku. “Ma tua, saya pamit.” Oops.. belum sempat mama tua menyahutku, aku menyadari sesuatu. Oh Tuhan, aku masih mengenakan baju rumahku, bersandal jepit, rambut kugulung seadanya belum tersentuh sisir, wajahku apalagi. Terakhir aku berjumpa dengan air adalah pagi tadi, saat mandi pagi. Sial!. Sambil terus mengutuk diriku sendiri dan penuh penyesalan aku berlari ke kamar mandi. Byurr .. tiga gayung air mengguyur badanku, kusabuni, kuguyuri lagi, selesai. Gila!  aku baru saja memecahkan rekor mandi tersingkat.

Aku memilih baju kaos putih polos yang  kupadukan dengan celana jeans tiga per empat.  Kupolesi wajahku dengan bedak tipis dan lipgloss merah muda di bibirku. Menyisir rambut hitam lurusku yang panjangnya sebahu. Rambutku kubiarkan tergerai indah.  Selesai. Benar-benar penampilan yang sangat sederhana untuk seorang gadis yang hendak menemui si pencuri hati. Tidak penting penampilan sekarang, toh aku ke pantai bukan untuk fashion show, tetapi Ican. Bagaimana kalau dia telah lama menunggu? Bagaimana kalau dia tidak sabar menunggu? Bagaimana kalau dia menanggapku sebagai gadis pembohong?

***

“Maaf e, sudah lama kah?”. Dia menoleh, beberapa detik menatapku lalu sambil tersenyum ” eh, tidak Ca. Kita kan janjiannya jam 4, masih 5 menit lagi ca.” Katanya sambil melihat jam tangannya.

“Oh iya ya.. ” aku terkekeh. Oh Tuhan, untung aku tidak datang jam 3 tadi, karena aku benar-benar  lupa soal jam berapa kami janjian. Ah, seharusnya aku mengecek isi chat kami lagi. “Kamu kenapa berdiri disitu? Ayo duduk di sini”. Uh… Dia tahu tidak ya? Aku sedang terserang penyakit sindrom kegugupan stadium akhir. Kami mulai duduk berdampingan beralaskan pasir. Setelah memecah kebekuan Lima menit pertama, selanjutnya kami bersenda gurau dengan santai. Walaupun hatiku kadang tidak sesantai itu. Sekali-sekali kembang api meletup-letup di dadaku. Kadang-kadang aku mendengar alunan lagu cinta di kepalaku. Ah… Ican pesonamu sore ini mengalahkan suguhan eksotis menjelang senja di Pantai Pede. Tidak banyak kata-kata yang bisa kugunakan  untuk menggambarkan tentang( penampilan, senyum, wajah, rambut, suara)nya. Entah. Kata-kata mendadak sirna, yang tersisa hanya suatu rasa yang juga aku tidak mampu melukiskan dengan kata-kata.

“Oe Bro…!” Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyapanya. Sepertinya itu adalah temannya. Seperti kebiasaan manusia normal pada umumnya aku dikenalkan dengan temannya. Beberapa menit kemudian, saat matahari kemerah-merahan perlahan turun di ujung lautan,

aku berulah lagi, tiba-tiba aku membalikkan badanku. Berlari menjauhi mereka, dadaku bergemuruh. Mataku panas. Sekuat tenaga aku menahan air mataku. Aku menjadi tuli ataukah alam sedang membisu? Dalam pelarianku itu aku tidak mendengar apa-apa. Tidak ada suara ombak, tidak ada suara burung, suara angin, bahkan suara Ican memanggilku tidak pernah kudengar. Aku menyeret kakiku pada pasir-pasir di pinggir pantai. Berlari secepat mungkin. Aku harus pulang.

 “Masih lama liburnya kah Frater?”. Kata terakhir pada kalimat tanya yang keluar dari mulut temannya, terus terngiang-ngiang di telingaku. Frater? Oh sainganku  bukan manusia, tetapi Dia. Hatiku patah. Labuan Bajo mendadak semakin panas.

***

“Terima kasih telah menemukanku. Maaf, karena aku mencintaimu. Sampaikan permintaan maafku padaNya”

Aku mengirim pesan kepadanya malam sebelum aku pulang ke Ruteng. Dua centang berwarna biru. Namun tidak pernah ada balasannya.

***

Dua tahun telah berlalu, tidak pernah ada kabar darinya. Tidak pernah ada kabar tentangnya. Kotaku (Ruteng) semakin dingin, sedangkan kotanya (Labuan Bajo)? Aku tidak pernah mengenalnya lagi. Sejak kejadian itu aku tidak pernah ke Labuan Bajo lagi. Aku mengalahkan Labuan Bajo yang telah mempertemukan kami. Bersama dinginnya kota Ruteng aku masih terjebak dalam kebekuan. Sejak kepulanganku  dua tahun lalu dari Labuan Bajo hingga saat ini aku masih terjebak dalam keserakahan hati. Keserakahan ingin memilikinya.  Dalam benakku, aku berharap dia mengkhianatiNya dan datang menjemputku. Dalam doaku aku meminta agar saat kita bertemu lagi jangan lagi ada kata “Frater”. Ah… Doa macam apa itu? Aku sadar aku sedang meminta izin pada Kekasihmu untuk merebutmu. Gila Kan?. Semoga Dia rela, karena aku belum mengenalmu Ican. Aku mau kamu yang lain, bukan “Frater Ican”.

Oleh: Im Kartini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *