Bully Membunuh Sulli

181 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Kabar meninggalnya Choi Jin-ri alias Sulli, aktris dan penyanyi Korea Selatan, yang juga merupakan mantan personel girl band f(x), sungguh mengejutkan. Seketika para penggemar industri budaya Korea Selatan atau yang disebut sebagai K-popers tersentak. Pasalnya, Sulli menambah panjang deretan entertainer Korea Selatan yang meregang nyawa dengan cara bunuh diri. Ya, nama Sulli mengekor beberapa pesohor lainnya, semisal Jang Ja-Yeon, Lee Eun-Ju, Ahn So-Jin, dan Kim Jong-Hyun, dan lain-lain.

Sulli, perempuan berusia 25 tahun itu tewas dengan cara yang (tentu saja) tidak pernah diharapkan siapapun. Memang tak lagi menjadi rahasia pribadi bahwa tendensi bunuh diri di Korea Selatan cukup tinggi. Pelbagai faktor bisa menjadi pemantiknya, termasuk menyoal tentang Sulli, yang dalam beberapa pemberitaan menyebutkan bahwa ia menderita mental illness, yakni panic disorder dan social phobia.

Pengidap mental illness kerap mengalami dilema yang tidak bisa dipahami secara awam. Di satu sisi, para survivor harus berjuang melawan belenggu mental disorder yang menyerang mereka, namun di sisi lain, mereka pun harus “tunduk” pada standar sosial tertentu demi bisa memasuki suatu fase yang dinamakan “penerimaan sosial”, toh siapa yang bangga mendapatkan penolakan sosial?

Sadar atau tidak, kita sering kali menjadi penyebab “keputusasaan” orang lain yang berujung pada keputusan untuk mengakhiri kehidupan. Teori di atas kertas bisa saja mengatakan bahwa “kekokohan diri menjadi kunci”, namun tidak bagi penderita mental illness. Di luar, mereka mungkin terlihat kuat dan tegar, kendati di balik semuanya itu, ada luka dan beban maha berat yang mereka coba untuk sembunyikan, sekali lagi lantaran ketakutan akan penolakan sosial.

Well, mental disorder tidak datang secara tiba-tiba. Kadang, sebelum adanya “penolakan sosial” yang besar, ada penolakan kecil-kecilan yang acap kali dianggap remeh dan disepelekan. Ada trauma yang berkepanjangan. Ada luka yang tertambat. Ada sakit yang tak tertahankan. Ia menggunduk di dalam hati dan pikiran para penderita mental illness. Bagai balon karet yang diisi akan pecah jika tekanan angin melebihi kapasitas balon tersebut.

Menghadapi tendensi bunuh diri bukanlah hal yang mudah. Kadangkala, self-harming menjadi pelampiasan tatkala tak ada telinga dan hati yang bisa menerima segala rasa, hingga batas menyongsong. Siapa yang betah duduk berjam-jam sambil menangis, bahkan histeris karena tekanan sosial? Dibully, dilecehkan, ditolak, dibuang, disingkirkan, – bukankah semua itu memang sudah menjadi pemantik pembunuhan karakter?

Orang-orang dengan mental illness sangat tahu rasanya: Bagaimana eksistensi mereka disangkal, bahkan diabaikan. But, how can they tell people about that? Apakah orang-orang ‘normal’ akan percaya dan membantu mereka untuk keluar dari ‘zona kesakitan’ itu, atau justru malah memerparah keadaan, semisal dengan semakin membully dan menyudutkan si survivor?

Sulli adalah representasi dari orang-orang yang sudah mencapai “batas”. Perundungan online yang sering diterimanya menjadi gerbang bagi kelamnya lorong kehidupan, yang mengantarkannya pada maut. Mungkin memang benar, kita butuh jeda. Kita butuh #detoksdigital untuk lebih arif dalam bermedia sosial. Kita tidak pernah tahu apakah sasaran komentar kita memiliki “sesuatu yang tersembunyi”, sebab para pengidap mental disorder lebih banyak diam dan enggan membuka identitas mereka.

Sulli, perempuan cantik bertalenta dan kaya raya itu meninggal bukan karena bunuh diri, tetapi karena keseringan di-bully dan dilucuti di media sosial, sehingga perempuan yang responsif terhadap sentuhan media yang berkaitan dengan dirinya itu tidak sanggup menahan setiap komentar-komentar buruk yang menimpa dirinya. Bunuh diri adalah pilihan akhir bagi Sulli untuk mengajarkan kepada kita semua yang disebut netizen dan masyarakat sosial yang melek dengan gosip-gosip seputar selebritis dan publik figur lainnya lewat dunia internet agar tidak terlalu sibuk mendiskreditkan profesi dan karya orang lain tetapi patut menjadikan mereka sebagai motivasi dan pelajaran hidup yang lebih baik.

Saatnya kita berhenti untuk melucuti ‘ketahanan’ orang lain. Tidak semua orang sehat secara mental. Jangan sampai jari kita jadi pembunuh orang lain.

Sulli, saya bersamamu.

Pilihanmu mungkin membawa duka buat dunia. Semoga kami yang tersisa tidak lagi menjadi ‘TOXIC’ buat sesama, pun kami yang harus berjuang dan survive dari segala tekanan ini, tidak kehabisan cara untuk terus bertahan, kendati pertahanan kian mengikis.

Selamat jalan, Sulli.

Penulis: Katarina Kewa Sabon Lamablawa|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *