Bus Agogo, Kendaraan Legendaris di Flores

846 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Di masa lalu, sebelum moda transportasi darat di Flores berkembang seperti sekarang, ada angkutan antarkota dalam provinsi di Flores yang jadi andalan. Boleh dibilang, bus tersebut begitu melegenda. Transportasi andalan saat pergi ke kota lain di daratan Flores.

Namanya  Agogo. Busnya berwarna merah. Desain bus Agogo sangat khas dengan kaca lengkung di depan mirip dengan pesawat. Bentuk moncongnya dipadu dengan jendela penumpang yang super lebar. Berkat bentuk busnya yang moncong, kala kami kecil sering menyebutnya sebagai “oto moncong”. Aissss, Agogo membantu imajinasi masa kecil kami tentang mobil yang keren di masa itu.

Bus ini seperti Kopaja di Jakarta, namun sekilas tampilan luarnya berbeda dengan Kopaja. Di dalam bus tersedia kipas angin sebagai penawar gerah. Syukur jika berfungsi, terkadang kipas angin yang ada di dalamnya hanya jadi pajangan semata. Tidak berfungsi sama sekali, yang disebabkan termakan usia. Aksesoris di dalamnya minimalis. Beda jauh dengan bus sekarang di Flores yang dipenuhi dengan berbagai hiasan yang glamor, musik yang keras serta sangat nyaman untuk penumpang.

Pada masanya, bus Agogo seperti “anak emas” bagi orang Flores saat pergi ke kota lain. Rute yang dilayani oleh Agogo dari Ende ke Ruteng. Saat tiba di Ruteng, keesokan harinya akan kembali ke Ende dengan jadwal keberangkatan yang sama pula. Itupun kalau tidak molor dalam mencari penumpang. Jika molor, bisa saja jam keberangkatan akan tertunda berdasarkan banyak dan tidaknya penumpang yang ada.

Tiba di musim liburan, Agogo akan disesaki oleh pelajar yang hendak berlibur ke daerah lain dari kota Ende. Maklum, Kota Ende yang dijuluki sebagai Kota Pancasila itu termasuk salah satu kota pelajar di daratan Flores. Jangan heran di masa liburan Agogo ketiban rezeki. Bus Agogo juga akan ditumpangi oleh pelajar dari Kota Kupang yang pulang ke daerah lain di Pulau Flores melalui Pelabuhan Ende.

Usai liburan, pelajar yang hendak kembali ke tempat tujuannya akan kembali menumpang bus Agogo. Perjalanan pulang tentu lebih sesak, sebab barang bawaan dari kampung halaman sesaki seisi bus. Jangan heran akan ada penumpang yang rela mati-matian untuk berdiri di bagian pintu masuk ataupun duduk di bagasi pada bagian atap mobil. Eitss, tenang saja kaks, bus di Flores memiliki bagasi di bagian atap mobil yang dirancang senyaman mungkin. Bukan hanya untuk menyimpan barang, tetapi sesekali sebagai tempat duduk penumpang yang diakibatan oleh banyaknya penumpang di dalam bus.

Bagasi di bagian atas mobil juga kerap kali ditempati oleh konjak untuk istirahat sejenak melepas rasa lelah. Tahu konjak? Jika tidak, saya jelaskan. Konjak merupakan akronim dari kondektur Jakarta. Entah apa alasannya hingga di Flores digunakan istilah konjak untuk menyebut kondektur. Padahal tidak semua kondektur berasal dari Jakarta, seharusnya di Flores dipakai istilah Konflo. Konflo itu artinya kondektur Flores. Ya sudah, berhubung kita sudah lama memakai istilah konjak, kita pakai itu saja, kaka.

Di zaman itu, bus Agogo biasanya tiba di Golo Mongkok, kecamatan Rana Mese, kabupaten Manggarai Timur, di kisaran pukul 15.00 WITA. Agogo akan disambut dengan ceria oleh anak-anak kecil di pinggir jalan trans Flores. Kami biasanya bersahut-sahutan sembari melambaikan tangan dengan om sopir, konjak, dan penumpang. Padahal, kalau dipikir-pikir, Om sopir tidak kenal sama sekali dengan kami yang nota bene berdaki, ingusan dan jarang mandi. Hadeh!

Sembari melambaikan tangan, kami bersahut-sahutan menyebut kalimat “anting goyang-goyang”. Jadi begini, di masa kecil kami dulu, Agogo menurut kami merupakan akronim dari anting goyang-goyang. Entah siapa yang mengarangnya kala itu, intinya dalam artikel ini juga, saya ucapkan terima kasih juga untuk orang yang telah mengarang bahwa Agogo itu adalah anting goyang-goyang.

Sungguh bus Agogo sudah membantu imajinasi masa kecil kami. Agogo telah mengajarkan kami bahwa untuk menumpang Agogo hanya orang-orang yang punya kepentingan untuk berangkat ke kota lain di Pulau Flores, karena menumpang bus Agogo tidak semua orang.  Menjadi pelajar yang menuntut ilmu di kota lain di Pulau Flores adalah kesempatan satu-satunya untuk bisa merasakan sensasi menumpang bus Agogo.

Kini, bus Agogo tinggal kenangan. Cerita tentangnya abadi di dalam kepala-kepala orang Flores yang pernah tiba dengan selamat sampai tempat tujuan saat pergi ke kota lain di daratan Pulau Flores yang eksotis itu. Syukurlah di beranda media sosial, fotonya pernah bertebaran. Saya pun mencopotnya untuk kepentingan artikel ini. Dan, di puncak artikel ini, saya ucapkan terima kasih kepada pemilik bus Agogo. Sebab berkatnya, masa kecil kami sedikit terbantu untuk tertawa riang melupakan garangnya hidup di dunia yang fana ini. Hormat bos bus Agogo. Salam anting goyang-goyang.  Smile!

Penulis:Erik Jumpar|Tu’a Panga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *