“Cahaya” SMPN Satap Munde: Asa Pembelajaran Daring Untuk Sekolah di Kampung

 634 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi

Selama pandemik berlangsung, kebanyakan aktivitas ikut terhenti. Salah satu yang “terjebak” dalam situasi kemelut ini adalah dunia pendidikan. Dunia yang menjadi “pelita” dalam kegelapan dunia, ibarat tak memiliki cahaya yang benderang. Tiupan angin badai pandemik, seolah-olah membuat cahaya pelita pendidikan  menjadi redup. Sayup-sayup. Karena itu, pelbagai usaha diterapkan, agar cahaya pelita pendidikan tidak redup (bahkan mati). Salah satu adalah menerapkan Study from Home. Sekolah-sekolah—sebagai lembaga utama dan terpercaya pendidikan—menerapkan sekolah online. Kampus-kampus juga sangat gesit mencari solusi.

Kuliah online adalah satu-satunya solusi. Solusi ini yang sedang saya nikmati dan jalani. Itulah, solusi sementara dalam menjaga cahaya pendidikan agar tetap menyala, walaupun angin badai pandemik masih mengguncang.

Akan tetapi, bagaimana nasib sekolah-sekolah di kampung yang tidak memiliki sarana online yang memadai? Yuni Sengkang, salah seorang guru di pelosok Manggarai-NTT, menceritakan bahwa sekolahnya, SMPN Mangpau, libur total. Kebijakan ini diputuskan atas pertimbangan tidak bisa melaksanakan sekolah online karena tidak memiliki sarana yang mendukung. Jangankan pelbagai sarana, jaringan Telkomsel saja belum masuk desa. Dengan demikian, solusi dalam menghentikan penyebaran Covid-19 adalah meliburkan sekolahnya. Libur total tanpa pelajaran daring.

Situasi tersebut tentu sangat memprihatinkan. Para siswa berarti sudah 2 bulan tidak mendapat ilmu yang baru. Mereka mungkin hanya mendapatkan pelajaran “hantu” yang menakutkan, yaitu statistik jumlah kasus dan korban Covid-19 yang semakin meningkat. Angka-angka yang meningkat jelas memantik ketakutan masalah. Alih-alih, mengharapkan sekolah online agar menambah pengetahuan, mengasah pola pikir, dan sebagai bekal di kemudian hari, toh, nasib beberapa sekolah (di kampung), khusunya para murid, hanya menjadi penonton setia dari pelbagai kebijakan “hebat”  sekolah online yang ditampilkan di TV. Akhirnya, solusi akhir “libur total”.

Belajar dari SMPN Satap Munde

Nama SMPN Satap Munde, sebuah sekolah di pelosok Manggarai Timur-NTT, masih belum menggema. Namanya masih tenggelam dari hegemoni sekolah-sekolah terkenal di Manggarai Timur. Pasalnya, sekolah tersebut baru berdiri tahun 2010. Bermodal memboncengi ruang kelas SD Munde, sekolah ini mulai merangkak, berjalan perlahan, hingga mampu berlari mandiri. Maksudnya, sekarang sudah memiliki gedung-gedung sederhana yang mampu memberikan pelayanan ilmu yang kondusif. Serta mencetak pelbagai generasi penerus. Saya sendiri adalah hasilnya. Tulisan ini buah dari ajaran para guru di sana.

(Dokumen Pribadi Robertus Yani)

Dalam “jebakan” pandemik, alih-alih pelbagai sekolah di Manggarai-NTT sibuk menerapkan kebijakan “libur total”, SMP Satap Munde melakukan suatu gebrakan baru dan berbeda. Gebrakan ini saya dapatkan dari kepala sekolah di sana, Robertus Yani, yang mengunggah status Facebook, dengan tulisan “SMPN Satap Munde meminjamkan I-pad kepada kelompok anak-anak untuk mendukung kegiatan pembelajaran daring selama masa pandemi ini, semoga dapat dimanfaatkan dengan baik dan mohon dukungan ortu (orang tua) untuk menjaga dan memerhatikan anaknya selama masa pandemi ini untuk tetap belajar dan kerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah, tabe”

Status ini mendapat tanggapan dan komentar dari banyak pihak, khususnya para perantau, alumni, dan para pencinta dunia pendidikan. Rian Seong, misalnya mengomentari, “Luar biasa, Om Guru…. Seperti ini yang paling dinantikan masyarakat.

Marselinus Enggu, mantan guru angkatan pertama, ikut terlibat, “Mantap ade Kepsek, Robertus Yani. Lebih mantap kalau semua pake masker dan ikuti protokol Covid-19.” Tanggapan ini ditutup oleh anekdot rekan guru SMPN Satap Munde, Janto Sadam (akun FB), “Guru guru dapat juga kah, Bapa Kepsek???” Hahaha. Itulah kebijakan inovatif dalam pandemik.

Merasa termotivasi, saya mencoba menggali lebih dalam informasi seputar kebijakan inovatif tersebut. Informasi detail diperoleh dengan wawancara singkat via Messenger dengan Pak Yanto Anggal, dengan akun Facebook Janto Sadam, salah satu guru SMPN Satap Munde. Dia memberikan informasi bahwa Dana Bos yang dialirkan pemerintah dikhususkan oleh pihak sekolah untuk membeli I-Pad, agar proses belajar para murid tetap berjalan seperti biasanya. Jumlahnya tidak banyak, karena itu para siswa kelas VII dan VII dibagi dalam beberapa kelompok sesuai tempat tinggal.

Sebelum digunakan, para murid diberikan bekal atau edukasi agar menggunakannya dengan baik. Seorang murid dipilih sebagai ketua kelompok dan bertanggung jawab menjaga I-Pad dengan bantuan orang tuanya.

Proses belajar-mengajar diberikan melalui aplikasi WhatsApp (WA) agar lebih mudah dan tetap menerapkan aturan jaga jarak. Memang dalam belajar-mengajar bisa menggunakan aplikasi Zoom, namun WA lebih praktis. Para murid dibuatkan Grup WA sesuai kelas dan nama kelompok. Setelah proses belajar-mengajar selesai, para murid diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran ringan di aplikasi Ruang Guru dan Rumah Belajar. Pelajaran itu berdasarkan jam yang sudah ditentukan bersama, sehingga tidak bisa digunakan secara bebas.

Hal menarik lainnya ialah para guru tetap mengunjungi setiap kelompok sesuai jadwal kunjungan. Kehadiran para guru, selain memotivasi para murid agar tetap semangat dalam belajar, juga mengevaluasi proses yang sudah dilakukan. Dengan demikian, harapan untuk pembelajaran daring yang efektif bisa diwujudkan.

Asa Pembelajaran Daring

Langkah inovatif SMPN Satap Munde patut mendapat apresiasi dari pelbagai pihak. Selain apresiasi, sebenarnya pelbagai pihak, khususnya sekolah lain di Manggarai (bahkan NTT), ikut bercermin. Mencontohi langkah inovatif demi tetap menjaga asa bagi cahaya “pelita” pendidikan, agar cahaya itu tidak redup, apalagi mati.

Lebih jauh, langkah inovatif tersebut sebenarnya suatu sikap peduli kepada nasib para murid, sebagai generasi penerus bangsa. Sebab, hidup dalam “jebakan” pandemik saat ini, sebenarnya tidak menjadi alasan proses belajar-mengajar terhenti.

Alasan “libur total” dari pelbagai sekolah, pada hemat saya, adalah tanda pihak sekolah ikut mengistirahatkan daya kreatif yang ada. Dana Bos bisa dimanfaatkan. Kepala Sekolah dan para guru sebaiknya mencari cara sedemikian rupa—sesuai konteks dan situasi—sehingga proses belajar-mengajar tetap dilaksanakan. Robertus Yani, Yanto Anggap, adalah contoh sederhana untuk melakukan gebrakan tersebut.

Akan tetapi, jika sekolah-sekolah lainnya akan menerapkan langkah yang sama, kebijakan tersebut perlu ada edukasi awal. Para murid diberikan pengetahuan dan penjelasan dalam menggunakan sarana online (gawai) dengan cermat. Selanjutnya, perlu adanya pengawasan yang ketat. Pihak sekolah bisa bekerja sama dengan para orang tua murid. Setelah diakhiri dengan evaluasi yang berlanjut. Setelah menerapkan, perlu melihat apa dampak positif dan negatif, bagaimana perkembangan para murid, dan sebagai. Evaluasi membantu langkah berikutnya menjadi berbeda dan lebih baik dari sebelumnya.

Akhirnya, kisah sederhana dari SMPN Satap Munde, ibarat memberi cahaya sebagai tanda bahwa ada harapan atau asa pendidikan di kampung tetap berjalan, walaupun terjebak dalam situasi pandemik yang kian tak menentu dan berakhir juga jaringan internet yang masih malu-malu masuk kampung. Sekian saja dan selamat belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.