Cantik Itu Luka, Pak Calon Bupati!

Cantik itu indah di mata, neraka di jiwa (foto dari pinterest.com)

 1,193 total views,  1 views today


Frumens Arwan | Redaksi

‘Jangan baca koran di pagi hari karena berita-berita buruk hari kemarin akan melemahkan jiwamu yang masih segar.’ Begitu kata seorang dosen kepada saya, yang saya tahu beliau kutip juga dari koran. Konon katanya, hanya para penguasalah yang jiwanya kuat untuk kabar-kabar buruk dari koran pagi hari. Sebab apa lagi yang perlu mereka cemaskan? Harta, tahta dan Anya, eh wanita sudah ada pada mereka, bukan?

Saya teringat sebuah dongeng yang selalu saya dengar dari nenek ketika masih kecil. Dongeng yang menyentil soal Pilkada Manggarai (tengah dan barat), tetapi tak sepanas jargon politik para calon kepala daerah yang tengah bersaing sengit. Makanya, saya selalu ingin menceritakan dongeng ini kepada para calon penguasa tanah Manggarai, baik Manggarai maupun Manggarai Barat. Sekali-kali lah dengar dongeng yang tak pernah mampir ke pop-up notifikasi handphone Anda. Meskipun betapa geli rasanya memperdengarkan dongeng anak-anak ini kepada calon pemimpin seperti Anda, tentu Anda tertarik dengan judulnya yang seksi: ‘Cantik itu Luka!’ mengingatkan para kutu buku pada Eka Kurniawan. Yah, tentu tentang seorang wanita cantik, tepat seperti yang Anda pikirkan. Ini khusus buat para calon pemimpin di tanah tercintaku, Nuca Lale.   

Kata nenek, Manggarai adalah ibarat wanita cantik: molek oleh bebukitan dan lembah yang permai, penuh pesona oleh hutan yang hijau dan pegunungan yang menjulang tinggi, anggun oleh lautan dan langit yang biru dan menggoda oleh bibir pantai yang berwarna cerah. Beratus-ratus tahun lamanya, sebelum Anda lahir, sebelum saya lahir, dan sebelum Anda mengaku diri menjadi bagian darinya, ia  telah tersohor sebagai tepi barat paling indah dari sebuah pulau paling elok yang pernah ada, Pulau Flores.

Batas abadinya Selat Sape di tepi barat dan Wae Mokel di tepi timur. Ia diapiti oleh Laut Sawu di selatan dan Laut Flores di Utara. Ramah penduduknya adalah bagian dari keramahannya yang tersohor. Ada komodo (Varanus komodoensis) menghuni di pulau-pulaunya yang paling barat. Berbondong-bondong orang dari segala penjuru duni datang ingin menyaksikan rekan sezaman dinosaurus ini. Laut utara yang tenang dan laut selatan yang berarus adalah simbol harmoni abadi tanah ini. Cantik, bukan?

Akan tetapi, cantik―sepertinya hal ini berlaku dimana-mana―oleh kebanyakan orang selalu ingin dimiliki sendiri. Orang-orang sebelum Anda, dan barangkali juga Anda sendiri telah memperebutkannya untuk dimiliki seorang diri. Mereka memperkosanya seakan-akan ia tak ada harganya. Anda tentu dengar bukan mengenai sang Komodo kebanggaan kita yang tengah terusik di tanahnya sendiri? Pantai-pantai diprivatisasi. Air laut yang dulu biru kini menjadi hitam. Ikan-ikan di sungai-sungai kita sebentar lagi mesti berbagi tempat dengan kantong-kantong plastik. Tambang, poka puar, tapa satar, pemboman ikan laut dan masih banyak lagi telah merenggut keperawanan Ibu Nuca Lale yang telah dijaga bertahun-tahun sebelum kita.

Memang benar, cantik itu luka! Tubuh Ibu Nuca Lale yang telah tercabik-cabik itu bahkan dibiarkan begitu saja, sebagaimana juga para prostitusi, waria, LGBT dan korban kekerasan seksual dibiarkan begitu saja tanpa rekonsiliasi. Hanya sedikit orang yang tergerak hatinya untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya. Padahal, penjajah kita bahkan mengajarkan kepada kita politik etis. Namun, hal ini tak kita teruskan kepada alam kita. Maaf, sekarang saya harus menyebut kata ‘kita’.  

Maka, ijinkanlah saya bertanya terus terang kepada Anda yang sebentar lagi akan mejadi orang yang akan memutuskan bagi kami apa yang akan dilakukan untuk tanah tercinta ini. Apakah Anda masih akan rajin mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) seperti pendahulu-pendahulu Anda? Apakah Anda lebih tertarik dengan hutan yang gundul dan gersang daripada bebukitan yang hijau? Bagaimana jika Anda rindu mandi di air sungai yang jernih, tetapi sungainya tak ada lagi? Apakah Anda ingin ‘aku ajak ke hutan dan tersesat berdua’, seperti kata Boy Chandra? Atau apakah Anda senang bila saya ajak menerbangkan layangan ke langit yang biru tanpa asap polusi? Atau Anda lebih suka saya ajak mandi dan bermain lumpur di ceruk-ceruk bekas tambang? Apa yang Anda akan ceritakan kepada anak-cucu Anda jika mereka bertanya soal komodo yang melegenda itu dan tahu bahwa ia tak ada lagi? Pertanyaan-pertanyaan yang romantis, tetapi perlu untuk Anda renungkan sebelum beranjak tidur dan menghafal visi-misi di kepala Anda, bukan?

Sayangnya, cantik itu akan tetap luka! Namun, Anda setidaknya punya beberapa hal yang bisa dilakukan bagi Si Cantik Nuca Lale. Tentu juga bagi saya. Pertama, bagian tubuhnya yang masih belum terjarah, janganlah Anda jarah, tetapi sebaiknya Anda jaga. Anda tentu tak mau jadi ‘pemerkosa’ pertama di halaman depan koran yang akan terbit pagi ini, bukan? Kedua, sebagaimana pekerja seks, waria, LGBT dan korban kekerasan seksual, bagian tanah Nuca Lale ini yang telah rusak butuh rekonsiliasi. Caranya adalah dengan memperbaiki apa yang padanya telah rusak dan hilang. Ketiga, pertimbangkanlah kembali pertanyaan-pertanyaan saya di atas tadi. Jika Anda merasa keberatan untuk maju, mundurlah selagi dana kampanye belum banyak terkuras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.