Cerita di Balik Berdirinya Tabeite|Sesi 1

SELAMAT ULANG TAHUN KE-1 TABEITE.COM

 765 total views,  1 views today


Redaksi

Erik Jumpar

______________________________________________________________________________

Setahun yang lalu, kala bintang-gemintang menghiasi langit malam di bumi Sikerei, tepatnya di tanggal 24 Maret 2019, saat-saat disibukkan dengan rutinitas menyiapkan pembelajaran untuk keesokan harinya, saya menerima pesan we-a dari Bang Marsel Gunas. Ia senior saya dari rahim yang sama, PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus. Sebelum bergabung di PMKRI, saya mengenalnya sebagai anak dari Bapak Pius Gunas, bapak asrama kami waktu SMA di Golo Karot, Borong.  

Isi pesannya meminta saya untuk menghimpun blogger asal Manggarai Timur. Saya tentu menyetujui tawarannya. Lagian tak ada salahnya menyetujui ide baik untuk tanah kelahiran, juga sebagai jalan untuk menebus dosa  masa lalu sebagai anak asrama. Misalnya untuk menebus kekhilafan saat mencuri buah-buahan di belakang asrama. Upsss, maafkan kami, Kaks!

Enggan membutuhkan pertimbangan yang menguras energi, ide untuk menjaring teman-teman blogger via media sosial terlaksana. Blogger yang diajak untuk bergabung merupakan orang-orang yang selama ini terus menulis. Mereka yang menoreh jejak pena dengan menulis di blog masing-masing, mereka yang menulis tentang tanah kebanggan kami, tanah Manggarai Timur tercinta.

Proses penjaringan teman-teman blogger berjalan dengan lancar. Media sosial membantu saya menemukan jejak digital dari para penulis. Beruntung dalam proses penjaringan teman-teman blogger, mereka menyambut dengan antusias. Saya tentu senang bukan main, bahkan membuat saya koprol sebanyak jumlah jari tangan dan jari kaki dari mantan-mantan saya. Bayangkan!  

Nomor hape dari blogger seperti Popind Davianus sebagai pemilik kopipait.com, Antonius Rahu sebagai pemilik Congkasae.com, Itok Aman sebagai pemilik rutiratit.blogspot.co.id, juga beberapa teman-teman jurnalis asal Manggarai Timur jadi target utama.    

Setelah nomor we-a didapati, kami lalu bersua di grup we-a Blogger Manggarai Timur. Dengan mengusung spirit berbagi ilmu dan pengalaman sebagai sesama blogger yang selama ini bergerak secara sporadis, juga jembatan untuk memperkenalkan tanah kelahiran di mesin pencarian, kami berjumpa dan berbagi pengalaman di ruang maya.

Ruang temu berjalan dengan saling sapa dan berbagi satu sama lain. Seluruh blogger sepakat untuk mulai menulis destinasi wisata yang ada di Manggarai Timur, bahwa catatan-catatan tentang destinasi wisata Manggarai Timur di mesin pencarian amat minim, kalah jauh dari Labuan Bajo. Padahal Manggarai Timur tak kalah keren dengan Labuan Bajo. Sumpah! Kami punya tanah kelahiran ini keren matipunya.

Dalam grup tersebut, proses pengenalan karya mulai berjalan. Semangat untuk berkarya kembali dipompa, geliat menulis dari masing-masing blogger terlihat dalam artikel-artikel yang dibagikan di grup. Tulisan-tulisan yang sudah ditulis tentang tanah kelahiran mulai dibagikan, dibicarakan lebih detail, juga disentil titik lemahnya di dalam grup. Tampilan blog juga jadi salah satu agenda diskusi. Sebagai admin grup, pada saat itu, saya terlampau pede dengan kerja-kerja baik yang sedang kami lakukan.

Kalau mau dibilang sombong, grup we-a Blogger Manggarai Timur seperti oase di tengah geliat menulis yang mulai pudar. Semakin jauh berproses di dalam grup, ide-ide baik mulai berkeliaran. Bang Marsel Gunas sebagai salah satu blogger senior menawarkan ide untuk membentuk website komunitas. Baginya, dengan website komunitas, akan mempermudah mengenalkan catatan-catatan dari masing-masing blogger. Sayang, ide ini kandas di tengah jalan.

Menariknya dalam proses diskusi di dalam grup sempat terjadi pertengkaran ide yang cukup serius. Polemiknya diakibatkan oleh salah satu catatan dari Popind Davianus yang dishare oleh banyak orang tanpa mencantumkan nama penulis. Sontak saja catatan yang cukup menukik itu dibicarakan oleh seluruh blogger, sebagiannya menyesali perbuatan tak terpuji itu, sebagiannya lagi sepakat bahwa polemik itu justru melambungkan nama sebagai salah satu blogger handal.

Pertengkaran ide di dalam grup terus berjalan. Beberapa anggota grup di antaranya memilih hengkang dari grup, saya salah satunya. Kami lalu sepakat untuk membuat grup baru. Nama-nama perintis Tabeite seperti Popind Davianus, Itok Aman, dan saya sendiri memilih untuk membuat grup we-a yang baru.

Perbincangan untuk membentuk media baru di dalam grup lebih masif. Nama-nama seperti Antonius Rahu dan Rosis Adir sempat diajak untuk bergabung di grup yang baru. Mereka turut memberikan sumbangsih gagasan dalam upaya melahirkan media kami yang baru.  

Waktu terus bergulir, perbincangan dengan tema utama melahirkan media baru semakin intens. Dengan berbagai pertimbangan yang kurang ajar, kami memilih untuk membentuk grup baru. Beberapa anggota di grup yang lama tak lagi bergabung. Kami lalu memutuskan suatu langkah besar; ide harus diejawantahkan dalam tindakan nyata.

Di dalam grup yang baru, kami mulai membicarakan nama media yang kami kembangkan. Pemilihan nama media dianjurkan untuk memasukkan unsur ke-manggarai-an, sebab mimpinya media kreatif yang kelak dikembangkan harus menjadi corong memperkenalkan tanah kelahiran.

“Saya usulkan mejeng.co,” tulis Itok Aman.

“Saya memilih gegalime.com,” tulis saya dalam percakapan di dalam grup.

“Saya tawarkan limelima.com,” tanggap Popind Davianus. Popind memilih limelima.com, sama seperti nama blog yang dulunya pernah ia rintis. Sayang pemilihan nama ini tak bisa dieksekusi oleh pihak Jastraweb.  

Tarik ulur pemberian nama yang tak menemukan kata sepakat membuat perbincangan kami bertiga semakin serius. Popind Davianus, Tua Golo kami yang kurus itu, secara diam-diam memilih nama Tabeite. Setelah final memilih nama Tabeite, ia lalu menginformasikan dengan kami terkait nama yang telah dipilih. Tanpa membutuhkan perdebatan yang lebih jauh, kami sepakat dengan nama yang dipilih.

Semakin jauh  mengayunkan langkah, kami tiba di perbincangan untuk pemberian nama kanal yang dikembangkan. Lagi-lagi, pada situasi ini, diskusi alot warnai percakapan kami. Usul dan saran terkait rubrik yang dikembangkan sebisa mungkin tetap mempertahankan idiom lokal. Rubrik seperti jomel, atadite, mu’uluju, lakolako, mulok dan nunduk pun dipilih.  

Proses yang cukup pelik berlalu, Tabeite resmi dilaunching pada 7 April 2019. Dalam percakapan di we-a, Popind meminta saya untuk mendeskripsikan Tabeite untuk dimasukkan pada kanal Tentang Kami. Dengan berbagai pertimbangan, spirit yang diemban Tabeite dilandasi oleh kepedulian yang dituangkan melalui narasi yang sifatnya santai, tidak berbelit-belit, kelakar, kadang tidak penting.

Resmi dilaunching bukan berarti fondasi sudah kokoh. Perbincangan di dalam grup untuk membicarakan kelangsungan media kami ini terus berlanjut.

“Kita kekurangan personil,” tulis Popind membuka obrolan di suatu sore.

“Komposisi redaksi kita harus lebih kuat,” tambah saya.

“Saya ada kenalan yang bisa kita ajak untuk bergabung,” tanggap Itok Aman. Penyair muda asal Kota Komba ini memang punya banyak kenalan. Gelar pemuda tampan yang tidak tampan-tampan amat, ditambah dengan kelihaiannya dalam merangkai kata yang romantis berhasil membius siapa saja yang berteman dengannya di media sosial.

“Kita ajak Doni Djematu,” sambung Itok Aman.

“Di Surabaya sini ada Osth Junas. Nanti saya konfirmasi.” Tambah Popind Davianus.

“Teman-teman Ledalero juga bisa diajak. Saya siap ajak Fr. Anno Susabun dan Fr. Ican Priyatno untuk bergabung” Tulis Itok Aman.

“Ada juga Mita Barung dari Mukun. Nanti saya ajak untuk bergabung,” tambah Itok Aman.

Puji Tuhan sekali, komposisi redaksi terpenuhi. Langkah kaki di awal perjalanan memang terasa berat, namun lebih berat lagi jika enggan memilih untuk mengayunkan langkah. Tabeite pun hadir dengan tema-tema yang ringan, tidak penting bahkan berbelit-belit.

Hambatan terus terjadi sepanjang perjalanan membesarkan Tabeite. Pengalaman jatuh, lalu bangkit lagi, terus mewarnai jalan panjang selama satu tahun. Utak-atik redaktur pun tak bisa dihindari. Ada yang datang, ada yang pergi. Seperti hati, ada saatnya membuatmu nyaman, ada masanya membuatmu tak lagi nyaman. Pilihannya ada dalam genggamanmu, antara bertahan atau memilih untuk hengkang menuju rumah yang lain. Ada juga yang memutuskan pergi saat lagi sayang-sayangnya.

Pada masa sekarang, sebelum menuju usia satu tahun, kami memilih untuk membukakan diri. Kalau dulu di awal perjalanan, Tabeite dikhususkan untuk anak muda Manggarai Timur, sekarang kami melebarkan sayap dengan menggandeng anak muda dari daerah lain di bumi Flobamora ini. Ada redaktur yang dari Kota Kupang, ada juga dari Nagekeo. Beribu respek untuk kalian yang bergabung di rumah yang tak mewah ini.

Tabeite belum tiba di puncak, beban masih menumpuk di pundak. Usia satu tahun belum apa-apa, masih seumur jagung, pencapaian belum seberapa. Namun tak ada salahnya untuk mengatupkan tangan, memanjatkan madah syukur atas seluruh pencapaian, dengan terus berharap agar langkah kaki semakin panjang. Sampai sejauh mungkin, sampai seribu tahun lagi.

Selamat ulang tahun, Tabeite. Panjang umur literasi. Peluk sayang dari kami untuk seluruh pihak yang telah mendukung langkah kaki kami. Hormat!  

1 thought on “Cerita di Balik Berdirinya Tabeite|Sesi 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.