Cerita di Balik Berdirinya Tabeite|Sesi 6

 425 total views,  1 views today


Redaksi

Apek Afres

Jujur, saya tidak tahu dari mana saya memulai menceritakan pengalaman bergabung di redaksi Tabeite.com. lupa-lupa ingat. Itu jujur yang pertama. Mari kita masuk jujur yang kedua. Jalur jujur yang kedua ini situasi di mana saya dijerat oleh rasa kurang PD yang tinggi. Saya tidak punya apa-apa, hanya secuil puisi romantis yang sering saya buat di status efbi. Apakah tuagolo Tabeite.com tertarik gara-gara status alay nan lebay macam itu. Saya juga tidak tahu. Mungkin sang tuagolo memanggil tanpa alasan dan sebab. Mungkin saja.

Sejak awal saya sudah jatuh hati kepada Tabeite.com. Tulisan-tulisan yang ringan, penuh kenangan (pengalaman di Manggarai Timur), dan penuh kemenangan selalu hadir di beranda efbi saya. Saya selalu membacanya. Satu pun tulisan dari tabeite.com tidak terlewatkan begitu saja. Mengintip-intip begini, waoo, tertnyata tidak ada yang ngintip balik, hanya ulasan keren dari tabeite.com yang  menghibur sekali. Menghibur tapi edukatif. Jujur, ini jujur yang ke sekian sudah. Saya jarang sekali membaca tulisan ringan macam begitu. Paling, ya makanan ringan saja.

Rasa penasaran tentang media kecil ini pun kian menjadi-jadi. Saya cari banyak informasi tentang Tabeite.com. Syarat pengiriman karyanya apa, dan rubrik yang tersedia seperti apa. Kebetulan pada waktu itu ada rubrik sastra; puisi dan cerpen. Hobi menulis karya sastra saya waktu itu sedang panas-panasnya. Saking panasnya kiriman tulisan pertama saya di tabeite.com langsung diterima. Puisi berjudul, aaahh, saya sudah lupa judulnya. Sial!! Langsung terbit waktu itu. Betapa bangganya saya. Hati berbunga-bunga. Kiriman selanjutnya pun diterima, tapi bukan terima begitu saja. Tentu, eheemm, kualitasnya itu looo.

Rupanya Tabeite.com mulai jatuh hati dengan saya. Walaupun sejak awal saya duluan jatuh hati. Kejadian miris serentak menyayat hati pun terjadi. Rubrik sastra kesayangan saya ditiadakan. Why? Ingin saya berkata kasar dan langsung melempar tabeite.com dengan 5W + H. Tapi, tak apa-apa. Semua ada alasannya. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk mempertahankan eksistensi tabeite.com. Alasan dari dalam diri selalu lebih kuat, untuk maju maupun untuk mundur sekaligus. Ketika saya lihat sekarang tanpa rubrik sastra  tabeite.com pun tetap dan terlihat keren. Justru lebih asyik. Tidak ada lagi memuat puisi yang belum menjadi puisi. Tidak ada lagi yang menulis cerpen tapi bukan cerpen.

Saya tidak menyerah untuk publikasikan puisi-puisi saya. Setelah rubrik sastra di tabeite.com ditutup, saya mencoba mengirim di beberapa media lokal. Sialnya semuanya tidak terima. Maklum saja temann-teman ee. Hal ini tidak menyurutkan semangat dan niat saya untuk terus menulis. Saya mulai latih menulis artikel. Artikel di koran-koran saya baca tuntas. Status di efbi mode gratis yang panjang-panjang amat juga saya baca tuntas, termasuk artikel-artikel dari tabeite.com saya simak baik-baik. Saya angguk-angguk sendiri. Ragu dan optimis pun sejalan. Apakah saya bisa?

Setelah letih latih menulis artikel saya berjanji untuk mengirimnya di tabeite.com dan optimis harus langsung diterima. Saya buat lebih dari lima ratus kata. Saya kirim di (sulungnya Tabeite.com) Erik Jumpar. Saya berharap artikelnya diterima karena tetangga kampung. Ternyata sama sekali tidak seperti itu teman-teman. Tabeite.com punya visi-misi yang jelas. Tulisan yang kurang jelas langsung di cut. Sekalipun itu bagian redaksi yang tulis. Waktu itu saya mulai menyerah dan berkesimpulan sebagai penikmat dan pembaca saja.

Bulan juni tahun lalu, saya datang merantau di Jogja untuk mengais ilmu pendidikan untuk menerangi jalan menuju masa depan, katanya sih seperti itu. Saya menjalani kehidupan seperti manusia biasanya. Bernapas, makan, mandi, dan berpikir bagaimaan cara mengembangkan potensi diri, khususnya kemampuan menulis saya. Saya berkomitmen untuk terus mengasa, mengasa, dan akan mengasa lagi. Tepat tanggal 3 November 2019, tuagolo Tabeite.com menyuruh saya untuk menulis tentang situasi dan suasana Jogja yang saya rasakan sebagai orang baru di Jogja. Saya terima ini sebagai tantangan. Tantangan yang luar biasa sulit. Naskahnya selesai saya tulis dua hari kemudian dan langsung saya kirim ke tuagolo Tabeite.com. Dua hari setelah saya kirim naskahnya, saya bangun pagi dan melihat hal-hal menarik di efbi, ternyata tidak ada hal yang lebih menarik waktu itu selain tulisan saya sendiri yang diterbitkan di Tabeite.com dengan judul “Hujan Pertama di Jogja dan Rezeki di Angkringan”. Sejak saat itu, tuagolo tabeite.com merekrut saya sebagai anggota redaksi tabeite.com.

Tabeite.com sudah menjadi bagian dalam diri saya. Setelah mengenal sesama tim redaksi, rasa canggung, rasa kurang PD yang tinggi, akhirnya bisa dikendalikan dan lumayan bisa diperobati. Untuk seterusnya saya sadar, Saya tidak hanya bermodalkan status puisi alay nan lebay di efbi saja. Saya mesti memulai yang baru. Belajar banyak hal dan terus menulis. Jujur, ini jujur yang terakhir, saya masih dan akan selalu nyaman kok dengan tabeite.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.