Cerita Indonesia: Ibarat Kapal Tua dan Para Nakhoda

sumber foto: Google

 475 total views,  1 views today


Nando Sengkang|redaksi

INDONESIA, dalam perspektif Abdur Arsyad—komedian kebanggaan rakyat NTT, seperti Kapal Tua yang sedang berlayar. Kapal itu tidak berlayar karena terseret arus Pantai Selatan, tetapi berlayar tenang karena dipimpin oleh nakhoda-nakhoda  yang “Super Hebat”. Nakhodanya silih berganti; mulai dari proklamator kemerdekaan yang “meledak-ledak” kala berpidato, hingga nakhoda yang ngomong medok, namun meledak saat bekerja. Bommmm! Setiap nakhoda juga punya prestasi tersendiri saat menjadi pemimpin. Prestasi perdana tentunya si nakhoda pertama yang berjasa membawa Kapal Tua ke laut lepas, setelah berada dalam cengkeraman penjajah. Kebebasan itu dibarengi prestasi berharga, Pancasila. Pancasila adalah prestasinya yang gemilang dan berharga hingga saat ini. Tanpa Pancasila, mungkin saja Kapal Tua telah tenggelam akibat politik identitas dan homo homini lupus.

 Setelah itu, muncul Nakhoda kedua yang memimpin cukup lama, 32 tahun, hingga tumbang akibat bumerang keserakahan berkuasa. Gaya Demokrasi Pancasila ala Orde Baru berbalut rapi dalam selimut kediktatoran. Prestasinya cukup gemilang, salah satunya Kapal Tua berlayar dalam laut yang tenang. Tak ada badai yang namanya ‘kriminalitas’; angin media hanya bertiup sepoi-sepoi basah, juga gelombang kritik bersuara di arus yang tenang. Semuanya aman terkendali. Nakhoda tersenyum lebar, piye kabare, enak jamanku toh? Itulah kebanggaannya.Dan Kapal Tua itu diberi nama keren “Orde Baru”.  Sayangnya, (mungkin) karena karma nafsu kekuasaan, nakhoda diturun paksa oleh para penumpang “Era Reformasi”. Reformasi terjadi. Indonesia, Si Kapal Tua, merdeka dari bayang-bayangkediktatoran. Suara dari  para kaum tak bersuara akhirnya bersuara.

Lalu muncul Nakhoda “cerdas” asal Pulau Celebes yang menimba ilmu di Negara Panzer, Jerman. Segenap penumpang (bangsa) menaruh harapan Kapal Tua akan berlabuh di Pulau Kemajuan, namun kepemimpinan demikian singkat. Hanya Jerman yang menikmati hasil-hasil kerja kerasnya, sedangkan Indonesia, Si Kapal Tua hanya menikmati kebesaran namanya dan “antrean panjang nonton filmnya (Habibie dan Ainun)” kata Abdur. Beruntung, “Angin” Demokrasi, buah Era Reformasi mulai, bertiup kencang. Suara dari kaum tak bersuara akhirnya menggema.

Kepemimpinan singkat tersebut diganti oleh Sang Kiai yang terpilih menjadi nakhoda. Walau kemampuan melihat hanya setengah, mirip Si Bajak Laut, namun dia mampu melampaui keterbatasan itu; melihat ada “Cahaya Toleransi” yang menyinari perjalanan Kapal Tua. Kaum-kaum minoritas, khususnya etnis Tionghoa mendapat tempat di dalam Kapal Tua. Para Agamawan yang berbeda hidup saling merangkul, tanpa harus berkoar-koar di jalan untuk “Membela Tuhan”—agar terlihat keren dan sok suci. Baginya, “Tuhan tak perlu dibela”, dan sebenarnya itulah jawaban terhadap isu agama yang tetek-bengek saat ini. Bila perlu, kita hanya perlu tertawa—“Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang” kata Gus Dur.

Dua tahun adalah kuota singkat untuk Sang Kiai menikmati kepemimpinan Kapal Tua. Kehilangan ”  Pemersatu” diganti oleh Nakhoda wanita pertama. Semua wanita di dalam Kapal Tua tentunya bersorak gembira—walau kadang lupa menyusui dan bersolek pakai me up murahan. Prestasinya dalam memberantas “bau-bau” KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) hasil Orde Baru patut diacungi jempol. Tak lupa pula Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri pada zamannya—walau praktik korupsi sudah terjadi pada abad sebelumnya di bawah Pohon Beringin.

Korupsi adalah misteri dan di dalam sebuah misteri ada praktik korupsi berserat koruptor yang berkeliaran liar. Artinya, korupsi itu sulit dibersihkan jika akar-akarnya belum dipotong. Pembentukan KPK  adalah upaya memotong akar-akar Korupsi. Namun, cita-cita “Mbak Mega” untuk memberantas korupsi masih menjadi wacana utopia. Kehadiran nakhoda baru, Sang Jendral TNI dan profesor gagah pujangga, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipercaya akan “merakyat” karena dia dipilih oleh rakyat itu sendiri (pemilu). Prestasinya luar biasa, krisis moneter 2008 hanya sedikit mengguncangkan Kapal Tua yang tetap tenang dalam berlayar, utang-utang IMF bernilai triliunan rupiah lunas (total). Sayangnya, di penghujung masanya yang hebat,  gema “Katakan TIDAK pada korupsi” ibaratnya berubah menjadi katakan “YA”. Jajaran pengurus Demokrat, partai sejatinya, justru terjerat kasus Korupsi. Semboyan “Anti Korupsi” hanyalah pengisi iklan di TV, yang diselingi iklan pembalut dan makan-makan bergizi ala Energen. Rakyat yang melihat dijadikan bisu dan tuli oleh Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang secara politis merupakan strategi untuk melanggengkan kekuasaannya. Sepertinya, banyak rakyat yang kerjanya TIDUR, toh, akhir bulan ada BLT. Hahaha

Setelah Sang Jendral yang gagah perkasa, kini nakhoda kita diganti oleh Tukang Kayu yang kurus kerempeng. Penampilannya sangat kontras dengan sang jenderal, sehingga Kehadirannya penuh hujan kritik dan cemoohan  ”ndeso”. Dia bernama “Jokowi”. Kebanyakan rakyat atau penumpang Kapal Tua itu jatuh cinta dan optimis dengan keahlian nakhoda ini. Jatuh Cinta, salah satunya karena gaya kepemimpinannya suka blusukan ke pelbagai tempat yang tak tersentuh sebelumnya. Kapal Tua akhirnya berlabuh ke Papua sempat yang dianggap ”Anak Tiri” dan “Boneka Milik Amerika”. Daerah-daerah di Timur Indonesia kini dirangkul dalam pelukan mesra “Anak Kandung” yang menyimpan “Surga Kecil”. Daerah-daerah pelosok negeri menjadi perhatian utama. Pelbagai inovasi pembangunan infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) terus dilakukan. Alhasil, pelbagai prestasi dan hasil kerja keras mampu dicicipi oleh seluruh rakyat (penghuni Kapal Tua). Kenikmatan yang utama adalah “Keadilan”. Rasa Optimis, adalah keyakinan dari segenap rakyat bahwa “Indonesia Maju” bukanlah nyanyian utopia di kala kampanye, melainkan akan menjadi real di waktu yang tepat.Inilah optimisme segenap penghuni Kapal Tua (masyarakat Indonesia) akan nakhoda Jokowi-Amin.

Saat ini, Kapal Tua itu sedang dilanda badai virus korona. Ribuan jiwa tanpa dosa menjadi korban keganasan badai tersebut. Para ABK (pemerintah) masih berjuang memutuskan tali penyebarannya. Covid-19.go.id melaporkan bahwa tanggal 17 Agustus 2020, jumlah Positif: 141.370, Sembuh: 94.458, Meninggal: 6.207. Jumlah ini tentu akan meningkat dalam jangka waktu ke depan. Jika sikap disiplin mengikuti protokol kesehatan dan budaya malu (jika melanggar) menjadi prioritas utama, maka dalam waktu dekat badai ini pasti berlalu. Percayalah!

Mengenang Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75,

Pondok Bambu-Jakarta Timur,

17 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.