Cerita Tentang Tiwu Bakok dan Indahnya Dunia Tanpa Gadget Anak-anak Kampung Ratelalu

490 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Jauh ke bagian tengah negeri ini, ribuan kilo dari pusat ibukota negara adalah sebuah kampung kecil nan asri namanya Ratelalu, Wae Rana. Kampung indah yang takkan kau jumpai di laman mbak google itu menyimpan aneka pesona alam dan kisah para penduduknya yang mempesona.

Jauh dari Jakarta tidak berarti ia bukan bagian dari Indonesia yang (katanya) penduduknya murah senyum sedunia itu. Orang-orangnya yang ramah dan kisah anak-anak yang ceria melewati hidup dalam balutan kesederhanaan memberi makna sendiri bagiku yang pernah lahir dan dibesarkan di sana.

Menyusuri jalan aspal berlubang dan kerikil lepas berserakan ke arah timur, orang-orang merangkak bersama waktu setiap pagi dan senja menenteng cerigen dan perlengkapan mandi ke tempat pemandian umum yang telah disediakan alam namanya Waenuek. Menuruni puluhan petak sawah agak ke lembah dari tempat pemandian itu adalah sebuah sungai mengalir menuju laut sawu. Di salah satu bagian sungai itu terdapat sebuah kolam kecil terbentuk secara alami. Orang-orang terdahulu menyebut kolam itu dengan nama Tiwu Bakok.

Tiwu Bakok dalam dialek setempat (kolor) berarti kolam berwana putih. Wajar saja, kolam berkedalaman hampir 2 meter itu airnya berwana putih kehijauan. Selain itu dinding kolam yang hanya berdiameter 4-5 meter ini seperti terpahat dari batu. Cadas yang mengelilinginya hingga membentuk kolam mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya sekaligus memuji keagungan sang Pencipta yang memberi keindahan diri-Nya melalui daya kreasi seni di alam Tiwu Bakok.

Tiwu Bakok bukan saja menjadi tempat pemandian bagi orang-orang yang suka berenang. Di sana ada cerita tentang bagaimana cara menyegarkan badan, melegakan indra perasa, dan me-reset pola pikir di dunia tanpa gadget. Di lembah antara bukit Tela dan Woko Munde (Gunung Munde) terpatri kisah bela rasa, berbagi watak, dan mengolah emosi.

Biasanya ketika hari menjelang sore saat anak-anak sudah menyelesaikan pekerjaanya di rumah atau di kebun, dengan berlari kecil, melompat seperti kambing muda diantara pematang sawah, mereka bergegas menuju Tiwu Bakok. Tak ketinggalan para orang dewasa ikut nimbrung untuk menikmati segarnya Tiwu Bakok. Beramai-ramai mereka menceburkan diri mereka ke dalam kolam tak peduli tua, muda maupun anak-anak menikmati hadiah alam yang asri.

Sementara sebagian orang sedang asyiknya berenang, menyelam atau sekedar berendam, beberapa orang terutama yang muda dan anak-anak kecil menyiapkan api di pinggir kolam yang dipenuhi batu kali dan batu kapur. Api yang mulai melumat dahan-dahan kering dan bilah bambu tak sekedar untuk berdiang bagi tubuh yang mulai menggigil. Tanpa dikoordinir sebagian dari mereka yang seharian bekerja di kebun datang dengan membawa ubi kayu, ubi jalar, talas, bahkan pisang untuk dibakar dan dinikmati bersama sebelum bubar.

Tak ada yang mempersoalkan itu makanan punya siapa, ketika makanan sudah matang di atas panggangan seseorang akan mengambilnya dan melemparkan ke kolam atau kepada siapa saja yang sekedar duduk-duduk di pinggir kolam. Mereka tak protes lantaran sudah bersusah payah memanggang sedangkan yang lain asyik-asyik saja berenang. Yang ada hanya kenikmatan menikmati sejumput makanan secara bersama.

Di tengah riak air dan gemercik alirannya di antara bebatuan serta riuh suara anak-anak bersorak yang melompat dari tebing-tebing dan dahan-dahan pohon yang menjulur di atas kolam mereka berbagi keceriaan. Ada yang bercerita tentang sebagian isi kebunnya yang lenyap disikat celeng, ada yang bercerita tentang tiga tandan pisangnya yang hilang dipotong orang, ada juga yang hanya berkomentar dan meneriaki anak-anak yang terlampau over aktif melompat ke dalam kolam hingga mengenai temannya yang kemudian meringis kesakitan. Meski cerita yang terkadang cukup serius namun wajah mereka tetap menebar senyum dan sesekali tertawa kecil.

Lebih dari itu di Tiwu Bakok tak ada yang sibuk sendiri. Tak ada selfie, tak ada upload foto lucu bapak-bapak yang berenang pakai kolor bersama anak-anak, tak ada yang sibuk update status alay tentang bahasa kotor dan makian para orang muda memarahi adik-adik yang usia lebih muda darinya, bahkan tak ada yang sibuk jepret sana dan jepret sini. Semua asyik bercengkerama dengan aneka wajah dan cerita. Setiap orang tenggelam dalam kegembiraan yang tak bisa dibeli oleh indahnya foto editan media sosial.

Kala senja mulai merayap, merampas mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, para orang tua mengingatkan anak-anak untuk berpakayan dan kembali ke kampung. Tak ada yang menjadi ketua rombongan tetapi setiap orang saling mengingatkan akan barang-barang bawaan agar tidak lupa membawanya pulang. Setelah semuanya selesai, mereka bergerak perlahan pulang ke kampung untuk melanjutkan kisah yang belum selesai bersama keluarga mereka masing-masing.

Ketika orang-orang di kampung mengarungi malam asyik bercengkerama, memberi warna dan pesona pada kampung kecil nan permai, Tiwu Bakok kembali menjernihkan dirinya sendiri. Melewati malam dengan gemerciknya diantara pasir dan bebatuan sungai ia mengalirkan limbah tubuh dan sabun menuju Laut Sawu yang menunggu sepanjang waktu. Dengan sabar dan setia ia menanti kembalinya orang-orang kampung untuk menikmati jernih dan segarnya di hari-hari selanjutnya.

Tahun berlalu, lama setelah tak kudengar lagi kisah tentang Tiwu Bakok, setahun lalu aku pun kembali. Kusempatkan diri datang ke Tiwu Bakok seperti seorang kawan lama hendak menyapa. Di tepi kolam Tiwu Bakok aku duduk dan menangis kecil.  Tak ada lagi sisa-sisa bara panggangan yang biasanya menghitam di setiap sisi kolam. Tak ada lagi dahan dan sulur yang menjulur di atas kolam.

Air yang putih kehijauan seakan menyapaku dengan lesu. Aliran air diantara bebatuan tak seindah dulu, ada curahan kesepian dari gemerciknya. Bebatuan sungai mulai memenuhi hampir seluruh kolam dan daun-daun kering yang jatuh terhempas angin mengubah warna kolam menjadi kecoklatan. “Mereka sudah lama pergi dan aku ditinggal sendiri” rintihnya perih.

Penulis: Dedi Sujono|Meka Tabeite|

1 thought on “Cerita Tentang Tiwu Bakok dan Indahnya Dunia Tanpa Gadget Anak-anak Kampung Ratelalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *