Covid-19 itu Takut Orang Manggarai, Kah?

Apakah virus corona pontang-panting melihat hiruk-pikuk orang Manggarai? (Foto; dari Google)

 215 total views,  1 views today


Frumens Arwan || Redaksi

Bila virus SARS-CoV-2 yang menjadi biang pandemi covid-19 ini bisa bicara kepada kita (orang Manggarai) yang masih tersisa saat ini, barangkali ia akan mengatakan, “Kalian semua banyak omong kosongnya.” Kita ingat beberapa bulan lalu, saat kasus pertama penyebaran virus corona dilaporkan di Indonesia, kita semua panik, was-was dilanda cemas. Virus yang katanya hanya mentok di Cina akhirnya nongol juga di Indonesia. Berangsur-angsur pelosok-pelosok negeri, termasuk Manggarai, kena dampaknya.  

Waktu itu beragam opini murahan dan bahkan pantas disebut sampah bermunculan, menyebar dengan cepat secepat wabah itu sendiri. Katanya Covid-19 itu hukuman buat Cina yang terlalu kafir. Kita lalu beramai-ramai membenci Cina, termasuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air keturunan Cina yang bahkan sudah berpuluh-puluh generasi lamanya terputus dari nenek moyangnya di Cina sana. Bahkan dimana-mana produk-produk impor dari Cina mulai ditinggalkan, padahal nyata-nyatanya kita ini bangsa tukang impor. Lantas, karena katanya virus ini cuma hukuman buat Cina, kita meremehkan bahwa virus ini tidak akan sampai di Indonesia. Lagipula katanya virus corona itu tidak tahan dengan iklim tropis di Nusantara. Sampai di sini, tidak ada yang terbukti benar, kan?  

Diperparah lagi oleh pernyataan-pernyataan aneh berkedok agama. Tuhan dibawa-bawa untuk membenarkan sikap bandel orang-orang yang sebenarnya keras kepala. Katanya “suara azan” bisa mematikan virus. Katanya kekuatan doa jauh lebih dahsyat dari kemampuan virus menyebar. Berkumpul dilarang, kecuali katanya berkumpul di gereja, tempat yang diyakini dengan sangat bahwa virus tak menyebar di sana. Lah, jelas-jelas doa itu kan harus dibarengi perbuatan. Ibadat itu harus diselaraskan dengan tindakan. Bagaimana mau aman dari penyebaran virus kalau hanya berdoa, tetapi tidak mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah?

Sekarang, di Manggarai, virus corona sepertinya sementara berdiam diri atau barangkali kita yang menganggapnya demikian. Kita menganggapnya biasa-biasa saja, padahal jelas-jelas korban telah berjatuhan di mana-mana. Setiap saat radio, televisi, dan surat kabar melaporkan bertambahnya baik jumlah korban terpapar virus maupun korban yang meninggal akibat virus ini. Kita pura-pura tidak dengar saja, mematikan televisi dan radio atau menanggalkan koran di tempat penyimpanannya, lalu asik menonton vlog Atta Halilintar. Orang-orang mulai berargumen, Ya sudahlah. Nasib kita memang ketemu virus ini. Nanti hilang sendiri kok.

Di beberapa tempat, orang-orang masih berkumpul dan beraktivitas seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bising soal politik, judi, pesta pora mengalihkan kita dari isu soal hidup dan mati kita, yakni bahaya virus corona. Kegiatan perkuliahan di salah satu kampus mulai dilakukan seperti biasa, padahal sudah ada warga kampus yang dilaporkan terpapar virus corona itu. Beberapa bulan lalu hingga hari ini, kampanye politik Pilkada Manggarai masih dilakukan tanpa menjaga jarak. (Katakanlah demikian, meskipun akan ada yang membantahnya). Belum disebut acara-acara (adat) yang adanya hampir setiap hari: pesta sekolah, pesta nikah, pesta sambut baru, dan lain sebagainya masih dilakukan tanpa memperhatikan standar kesehatan yang dianjurkan oleh lembaga kesehatan.

Saya jadi ingat kejadian pelantikan Uskup Ruteng yang dilakukan di masa awal penyebaran virus corona di Indonesia. Yang hadir pada saat itu adalah tokoh-tokoh adat, agama dan pemimpin masyarakat. Meskipun berbagai pembelaan diberikan, jelas-jelas itu tindakan yang salah. Ikan busuk dari kepalanya, seperti kata orang. Makanya masyarakat biasa juga jadi jauh lebih keras kepala dari pemimpin-pemimpinnya. Memangnya virus corona akan mengistimewakan kita? Tidak, kan?

Saya jadi bertanya-tanya. Ingin berlelucon sebenarnya. Apa sistem kekebalan tubuh orang Manggarai itu berbeda yah dari sistem kekebalan tubuh orang-orang di Jakarta, Surabaya, New York, Paris atau di tempat-tempat lain? Apa virus corona lupa yah kalau ada daerah di pelosok timur Indonesia bernama Manggarai?

Apa yang salah? Kita ini terlalu terkungkung oleh cara berpikir kita sehari-hari. Cara berpikir yang tidak berdasar, melainkan hanya seturut keinginan kita, seenak jidat kita. Kita menciptakan opini yang mendukung hasrat-hasrat kita: hasrat untuk berpesta, berpariwisata, bersenang-senang, berkumpul, dan lain sebagainya. Lantas, kita menciptakan argumen-argumen yang melanggengkan kita untuk memenuhi hasrat-hasrat tadi: virus corona itu biasa saja, virus corona itu takkan menimpa kita, virus corona itu tidak menginfeksi orang-orang beriman, dan seterusnya.

Opini-opini di atas berbahaya karena sederhana saja, virus corona telah membunuh jutaan manusia di dunia, dan tidak terkecuali kita.  Bagi saya, sekarang waktunya kita menanggalkan cara berpikir demikian. Jelas-jelas virus corona itu berbahaya kok. Adanya terbukti secara ilmiah dan empiris, bukan konspirasi semata seperti yang dikatakan banyak orang.

Hasrat-hasrat bisa kita ganti dengan hal-hal lain yang bisa dilakukan dari rumah, semisal membaca, menamam sayur, berternak atau melihat jauh ke dalam diri kita. Sudah waktunya lahan-lahan tempat kita menyambung hidup kita bangun sebisa mungkin dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Jadi, kita tetap ikuti protokol kesehatan dari pemerintah dengan menjaga kesehatan, menjaga jarak, mencuci tangan, dan mengenakan masker. Nyawa nomor satu, hasrat bisa diganti.

1 thought on “Covid-19 itu Takut Orang Manggarai, Kah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.