Cuncang Salu, Air Terjun Seribu Pesona

 494 total views,  1 views today


Mita Barung|Mantan Redaktur

Beberapa waktu lalu, dalam mengisi waktu kosong yang membuat jenuh akibat pandemi yang berkepanjangan, kakak mengajak untuk mengunjungi sebuah air terjun yang lumayan jauh dari perkampungan.

Karena baru pertama kali memasuki kawasan hutan lebat dengan kondisi jalanan yang cukup ekstrim, tentu menjadi sebuah pengalaman baru yang menantang. Bayangkan saja, kita harus melewati jalan setapak yang licin berlembab, suhu udara yang sangat dingin, harus menghindari diri dari lintah yang menempel di dedaunan dan tanah yang basah( Saya adalah seseorang yang fobia terhadap lintah), dan menghindari diri dari sejenis tumbuhan hutan yang sangat berbahaya jika tak sengaja disentuh.


Air terjun yang kami datangi tersebut diberi nama Cuncang Salu oleh masyarakat sekitar. Berada tepat di bawah kaki pegunungan Poco Nembu (salah salah satu pegunungan yang terletak di bagian paling Utara Mukun dan merupakan pegunungan dengan hutan yang dilindungi di Manggarai Timur). Memiliki ketinggian tebing kurang lebih dua puluhan meter dan debit air yang lumayan deras.( Jika musim kemarau debit airnya agak berkurang).

Suhu udara di sekitar air terjun sangatlah dingin, karena berada tepat di tengah hutan lebat. Jadi, ketika ingin ke sana jangan pernah mencoba untuk memakai pakaian tipis, kecuali kalau kalian memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap suhu dingin.

Di dasar air terjun terdapat sebuah kolam kecil yang tidak terlalu dalam, hanya sebatas lutut orang dewasa. Dikelilingi bebatuan dengan berbagai ukuran dan sangat cocok untuk dijadikan tempat pemandian bagi semua umur. Dan satu lagi, suasana di sekitar air terjun sangatlah mendamaikan, dengan suasana khas hutan dan dikelilingi pepohonan besar yang cukup tinggi dan rerumputan liar dengan berbagai jenis.


Bagi kalian yang memang menginginkan sebuah tempat untuk menemukan ketenangan, saya sarankan untuk sesekali mengunjungi air terjun ini.
Salah satu yang menarik juga di tempat ini adalah adanya gua kecil di sisi kanan air terjun.

Gua kecil ini berada di ketinggian kurang lebih 5 meter, merupakan tempat tinggal dari kumpulan kelelawar. Gua tersebut tidak biasa dimasuki manusia, karena ukuran pintunya sangat kecil. Jika ada yang ingin menangkap kelelawar, mereka hanya menggunakan cara tradisional dengan memasukkan ujung kayu panjang ke dalam gua lalu menggoyang-goyangkannya agar kelelawar terbang keluar, lalu beberapa orang di sekitarnya memukul dengan ranting ranting pohon.


Selain air terjun dan gua kecil, hal yang menarik lainnya adalah suasana dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan.Bagi yang tidak memiliki hobi menjelajahi hutan pasti bukanlah hal yang menarik, tetapi bagian kalian yang menyukai hutan ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan perjalanan.


Dari Rangga Po (sebuah kampung kecil di ujung Utara Mukun) kita akan memasuki jalan setapak di tengah perkebunan warga. Di sini sudah tersaji panorama alam yang sangat indah, karena kita bisa melihat dengan sangat jelas bentangan perbukitan di daerah bagian timur Mukun (di perbukitan ini juga banyak sekali tempat tempat keren yang pastinya suatu hari akan saya jelajahi).

Perbukitan ini didominasi oleh padang yang sangat luas dan perkebunan masyarakat sekitar. Kita juga bisa melihat bentangan alam bagian selatan Sampai barat Mukun yang didominasi oleh area persawahan dan beberapa perkebunan serta pegunungan dengan hutan yang lebat.


Sekitar beberapa ratus meter, kita akan masuk wilayah hutan. Dengan pepohonan besar yang tinggi dengan berbagai jenis. Nah, di sini kita harus mulai berhati-hati. Karena jalanan mulai licin dengan kondisi yang berlembap. Rerumputan liar menutupi sebagian jalan dan beberapa di antaranya dihinggapi lintah yang sewaktu waktu akan menempel di tubuh kita andai tidak berhati hati. Belum lagi kita harus waspada dengan salah satu jenis tumbuhan liar yang orang Mukun sebut Latong. Tumbuhan ini sangat berbahaya bagi kulit kita karena bisa menyebabkan ruam dan bintik bintik bernanah jika tidak sengaja tersentuh.

Kita juga harus melewati daerah aliran air yang sumbernya berasal dari air terjun dan harus melewati bebeberapa tanjakan licin. Walaupun jalanan dalam hutan cukup menantang, tetapi mata kita akan tetap dimanjakan oleh panorama hijaunya hutan dan kicauan burung yang menenangkan. Bahkan kita juga bisa menikmati beberapa jenis tumbuhan hutan yang bisa dimakan. Salah satunya Lungar. Tumbuhan ini rasanya agak asam dan sepat di mulut. Selain itu, bisa juga dijadikan sebagai pengganti asam untuk olahan rumah.


Setelah hampir ratusan meter kita akan memasuki area air terjun. Rasa lelah kita, ketakutan kita akan hutan akan terbayar oleh dingin dan indahnya air terjun dan panorama sekitarnya. Ketenangan akan kita dapati dan rasa penasaran kita akan terobati.


Selama perjalanan, ada beberapa hal yang juga sangat disayangkan ketika memasuki kawasan hutan.
Sekitar beberapa ratus meter dari air terjun, beberapa wilayah yang sebenarnya masih termasuk area hutan telah dijadikan kebun. Beberapa jenis pohon sengaja ditebang.
Mungkin saja, beberapa tahun lagi area hutan dan air terjun ini akan hilang. Tergerus oleh keserakahan dan ketamakan kita. Pepohonan dan rerumputan akan berhenti bernafas, tanah tak lagi melahirkan kesuburan. Dan kita, anak anak kita, di masa mendatang hanya akan hidup dalam kesengsaraan.

1 thought on “Cuncang Salu, Air Terjun Seribu Pesona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.