Curahan Hati Gondrong Desa

904 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Gondrong merupakan sebutan untuk rambut laki-laki yang terurai panjang. Istilah ini tentu sangat akrab di telinga, lebih familiar dari akronim bucin untuk budak cinta seperti kamu, Binus. Perihal kapan dan siapa yang pertama kali menggagas istilah ini saya kurang paham, bahkan mungkin Mbah Sudjiwo Tedjo, gondrong senior itu juga belum mencari tahu siapa yang mula-mula berambut gondrong.

Pada beberapa daerah di Indonesia Timur, khusunya Flores, menjadi gondrong merupakan suatu hal yang tabu. Perbandingannya kira-kira sebelas dua belas dengan bapak-bapak brewokan pakai bikini sambil menenteng keranjang sayur di pasar, ya toh kes? Namun meski demikian tidak bisa dipungkiri kalau sebagian besar anak laki-laki di (Flores) sana punya hasrat menjadi gondrongers, termasuk saya.

Punya rambut gondrong sudah jadi impian sejak kecil. Sejak kelas 4-5 Sekolah Dasar saya suka sekali memerhatikan rambut Om Theo, paman saya yang kebetulan waktu itu tergabung dalam paguyuban gondrong desa (gondes). Setelah tamat SMA, pendidikan Om Theo sedikit mandek atau dalam istilah rakat disebut selet karena faktor biaya, jadi untuk mengisi waktu luang, beliau bergabung dengan gondes.

Sejak saat itulah saya mulai jatuh cinta dengan gondrong. Punya rambut gondrong seperti Om Theo hemat saya bisa bikin penampilan sedikit lebih kece karena berbeda dengan laki-laki rakat pada umumnya. Rambut hitam nan panjang miliknya, menjadikan paman saya ini sepintas terlihat mirip Azis MS, teman Krisyanto di group band Jamrud yang hampir tiap malam saya lihat di televisi masa itu. Ya hanya saat malam. Di kampung saya (sampai sekarang) PLN belum masuk. Di sana hanya ada genset (generator set) yang dihidupkan pada malam hari. Untuk menonton televisi, harus menunggu matahari terbenam dahulu, itupun nonton di rumah tetangga dengan bea seikat kayu bakar. Maklum, di Elar sana genset dan televisi adalah barang mewah yang hanya bisa kita temukan di rumah orang-orang kaya seperti Baba Yoseph dan Pak Ernus, mantan anggota DPRD. Sementara di rumah puncing milik kami, mana ada.

Lanjut ke SMP, niat saya untuk gondrong belum sirna walaupun Om Theo telah memangkas rambutnya dengan gaya ABRI, lantaran mau ordik di STKIP. Pada masa putih biru ini juga saya nyaris tidak pernah nonton Jamrud lagi, sebab Baba Yoseph sudah pindah ke Borong. Satu-satunya referensi gondrong yang saya punya adalah potret hitam-putih sekelompok pria bertuliskan Lynyrd Skynyrd (saya pikir itu adalah nama kelompok tersebut), kenang-kenangan dari anak bungsu Bapa Yoseph, teman sepermainan saya sebelum mereka pindah. Gambar kecil itu kemudian saya lekatkan menggunakan sedikit butiran nasi untuk ditempel di dinding kamar, sebagai objek khayalan tiap malam sebelum tidur. Tidak peduli siapa saja anggota Lynyrd Skynyrd ini, dari mana asalnya, pokoknya nanti kalau sudah tamat SMA, sa pu rambut harus gondrong macam dorang!

Masa SMP berakhir, saya lanjutkan pendidikan ke SMA. Ketika di SMA saya hampir tidak pernah potong rambut kalau belum ada razia di sekolah. Ya, saya selalu jadi salah satu tersangka razia tersebut. Sekolah-sekolah di Flores memang enggan mengizinkan siswanya untuk gondrong, padahal kalau dipikir-pikir, prestasi akademik maupun non akademik seseorang tidak dipengaruhi oleh seberapa pendek rambut di kepalanya, kan? Buktinya, setelah razia pun nilai saya tidak langsung bagus, masih jelek juga. Ao le aikn a, itu urusan mereka yang rambutnya cepak, bukan gondrong kumal macam saya ini.

Setelah tamat SMA yang katanya adalah masa terindah dalam hidup itu, seperti ka’e-ka’e ata Flores lainnya, saya memutuskan untuk merantau sambil hura-hura, menghabiskan uang orangtua. Denpasar, tempat saya merantau merupakan awal dari cerita saya menjadi salah satu bagian dari gondrongers. Perjalanan saya membiarkan rambut untuk gondrong dimulai ketika saya memasuki semester dua pada salah satu perguruan tinggi di Denpasar. Waktu itu sampe sekarang saya belum punya pacar, jadi tidak ada yang melarang saya untuk melakukan apapun termasuk memelihara rambut. Motivasi saya menjadi gondrong sudah bergeser, dari sekadar untuk keren-kerenan menjadi sesuatu yang lebih filosofis.

Menurut saya gondrong adalah bentuk perlawanan terhadap praktik kekuasaan yang membungkam kreasi dan kebebasan sesorang untuk mengekspresikan diri, tanpa harus turun ke jalan untuk bakar ban, teriak teriak pakai mic dengan bendera organisasi di bahu, lalu selfie, unggah ke Facebook dengan caption yang dijiplak dari quotes Bung Karno biar kelihatan nasionalis. Cukup menjadi gondrong, hal di atas sudah terwakilkan. 

Saat pertama kali gondrong, saya tidak sabaran untuk segera pulang ke kampung biar bisa makan puji. Tiap pekan saya habiskan dengan menghitung mundur tanggal dimulainya liburan. Saya tidak sabar untuk memamerkan mahkota baru ini di hadapan Om Theo dan handai taulan lainnya.

Hari demi hari berlalu, tibalah saya di penghujung semester, dan hitungan mundur telah sampai pada titik nol yang artinya waktu liburan sudah dimulai. Saya pulang kampung dengan semangat yang membara. Rasa rindu keluarga dan ego yang haus akan pujian, hantarkan saya kembali ke rumah.

Dua minggu pertama selama liburan Mama saya cuek mati punya. Tidak pernah saya dibuatkan kopi atau dirangkul seperti biasanya. Mamtua jengkel lihat saya yang urak-urakan, macam orang gila katanya. Sedangkan Om Theo yang sudah menjabat kepala desa, setelah perjumpaan pertama kami di hari ke empat liburan itu, jangankan bangga dengan rambut saya, ia bahkan enggan menemui saya lagi kalau mahkota yang saya banggakan ini belum dicukur. Belum lagi respon tetangga yang membakar telinga; “Hais ini anak pasti tidak kuliah mah, su kena narkoba pasti ni ko, Ole kasihan betul dia punya bapa mama eh“. Seketika saya langsung berpikir, Tuhan e, sehancur itukah imej seorang gondrong di kampung? Perasaan dulu Om Theo dan teman teman gondes-nya baik baik saja”.

Sebulan di kampung sendiri rasanya seperti 31 hari di neraka. Hal-hal yang terjadi di sana berbanding terbalik dengan ekspektasi saat menjelang liburan. Saya dicerca habis-habisan oleh keluarga, teman dan tetangga. Saya rasa orang-orang di kampung memang belum sepenuhnya lepas dari pola pikir anti gondrong di era orde baru. Bahkan mantan pacar saya yang sebelumnya sudah sepakat untuk balikan, langsung membatalkan kesepakatan. “Nana, itu hari yang nana chat ajak balikan tu, itu sap teman yang balas e bukan saya. Saya belum mau pacaran lagi, masih fokus latihan menenun songke“, katanya. Dari sekian banyak makhluk hidup yang ada di sana, hanya ada seorang teman yang mendukung, itu pun karena dia juga gondrong. Sialan!!

Meskipun begitu, tekad saya untuk menjadi gondrongers sejati tidak lantas surut. Saya bicarakan baik-baik dengan Mama sampai beliau merestui kegondrongan ini. Saya pikir, persetan saja dengan orang lain yang tidak suka, selama saya mendapat izin dari seseorang yang kakinya adalah surga bagi saya, saya akan joss terus seperti Pak Viktor. Eh, tapi Pak Vik kan botak e. Ah, sudahlah.

Sekarang, dua tahun setelah liburan itu, saya tetap gagah dengan rambut panjang di kepala. Biar saja orang bilang ini sarang kutu, persetan dengan om-om gojek yang kadang panggil saya Mbak, saya tidak peduli. Bagi saya gondrong adalah jalan hidup. Tidak ada yang bisa seenaknya menyuruh saya cukur rambut selain mamtua dan peraturan wisuda. Menurut saya, semua pria pernah muda tetapi hanya orang-orang terpilih yang menikmati masa mudanya dengan rambut panjang terurai. (Berbanggalah, Ndrongs). Entah sampai kapan rambut panjang akan menemani petualangan ini, saya tidak tahu. Satu hal yang tak bisa dipungkiri, kalau kalian melihat pejabat yang korup, penampilan mereka nyaris rapi, bahkan rambut mereka ditata klimis. Lalu, mana yang kausuka? Saya yang rambut panjang dengan penampilan yang bisa kau bilang semrawut atau pejabat yang mencuri uang rakyat namun rapi dari ujung kuku sampai ujung rambut?

Tetap jaga solidaritas, bersikap rendah hati dan jangan kau kantongi shampo temanmu, Ndrongs!

Penulis: Krisan Roman|Lawa Tabeite|

5 thoughts on “Curahan Hati Gondrong Desa

  1. Mantap tulisanya tuang
    Sukses utk karia2mu selanjutnya ande
    (Anak nakal dari elar )katanya 😁😁👍👍💪☕☕

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *