Curhat Seorang Pastor Dari Paroki Susah Sinyal

 634 total views,  1 views today


Sanor Antony|Kontributor

Pasti engkau akan tertawa bahak bila kau tahu saya sekarang sedang ada di atas sebuah batu besar di Tengkel Noran. Tempat yang orang di sini namakan batu signal. Dan hari ini saya berhasil membuat sebuah rekor untuk diri sendiri, menulis pesan ukuran panjang selama saya mengenal dunia digital. Saya sengaja menulis pesan panjang ini sebagai balasan atas permintaanmu sepekan lalu.


Bila kau mau datang minggu depan, sebaiknya kau pikir-pikir dulu. Bukannya saya mau menolak kedatanganmu. Tidak juga ragu dengan kondisi kesehatanmu. Engkau pasti bisa temukan sendiri berbagai alasan mengapa saya berani sampaikan keberatan untuk rencana yang kau kirimkan via pesan singkat minggu lalu.

Saya tidak ingin ketika engkau tiba, kau langsung menghardik dengan berbagai cerita tentang ketatnya penjagaan di sepanjang jalan menuju ke sini. Walau tempatmu masih berstatus hijau dan engkau masih percaya diri sehat walafiat, engkau pasti akan dicurigai, diasingkan dan harus mengikuti masa karantina minimal secara mandiri. Tentunya juga kau tidak mau seperti itu kan?


Selain itu kau juga akan rasakan dampak dari kondisi jalan ke tempat kami yang parah akibat hujan panjang dari Desember tahun lalu. Belum dibereskan hingga sekarang. Saya tahu kondisi demikian tak pernah dialami oleh orang-orang yang tinggal di kota sepertimu. Butuh tenaga dan nyali ekstra melintasi wilayah kami.


Oh ya, saya minta maaf karena beberapa kali tidak membalas pesanmu. Bukannya cuek. Bukan juga karena tidak ada pulsa. Di sini pulsa dan paket data selalu berlimpah di akhir masa aktifnya. Di sini sms, telpon atau online tidak bisa hanya dari ruang tamu apalagi dari tempat tidur. Apalagi dengan kondisi sekarang, di tengah tegasnya instruksi stay at home, kontak dengan orang luar jelas akan makin sulit.


Saya sangat paham setelah lama tak bersua, rindu itu tentu kian membuncah. Semakin lama bisa saja meledak. Di sini saya bukannya tak seperti itu. Malah, mungkin lebih menggebu. Saya hanya melepaskan segalanya dalam kesibukan yang bagi banyak orang mungkin tidak perlu.

Memang, dalam jarak rindu akan bekerja lebih keras. Itu juga berlaku bila tak ada perjumpaan dalam jangka yang lama. Saya harap kau selalu percaya: jauh di mata dekat di hati. Dan untuk kali ini, biar kita telan dulu itu rindu e.. Saya sengaja tidak pakai kata ‘pendam’ biar ada ‘deleng’nya, orang Manggarai bilang.


Bila kau mau datang, entah kapan saja itu, pastikan dulu cuaca di sini kondusif dan sebaiknya setelah kurun ‘karantina’ karena wabah ini berakhir. Mungkin sebaiknya di Juni atau Juli. Biasanya di bulan itu cuacanya bagus dan kita pasti telah bebas dari masa karantina bersama.

Saat itu juga kami pasti libur jeda semester. Satu yang tidak boleh kau lupa kalau kau datang, buah tangan. Kau pasti tahu, apa yang paling saya gandrungi, juga yang kami di kampung inginkan.

Saat ini kami agak sulit ke kota untuk berbelanja. Tiga oto kol (bis kayu) yang biasa ke sini sudah seminggu ini, entah sampai kapan, tidak lagi ke kota. Semuanya menjadi serba sulit.


Kau masih ingat gadis kecil yang mengantar kau ke kost saya semester lalu ketika kau datang ke sini? Dia sekarang kelas satu. Namun dia kini mengalami goncangan hebat di usianya yang masih belia. Ayahnya meninggal, tepat seminggu setelah kau pulang. Beberapa minggu setelahnya ibunya juga pergi ke tanah rantau.

Ia kini tinggal dengan neneknya yang juga seorang diri. Di semester lalu ia dapat rangking tiga di kelasnya. Ia datang pada saya setelah pengumuman hasil ujian. Dengan gembira ia menunjukkan nilainya. Saya pun memberi hadiah apa adanya waktu itu. Dia senang sekali dan berjanji di semester depan akan lebih giat belajar dan harus juara satu atau minimal peringkat dua.

Saya juga telah menjanjikan hadiah besar untuknya di semester berikut. Beberapa kali, ketika mengunjungi rumahnya ia tampak tekun mengerjakan tugas yang diberikan gurunya selama masa learning from home.


Waktu itu, ia juga bertanya tentang kabarmu dan mengharapkan engkau untuk datang lagi ke sini. Saya hanya bilang kalau kau baik-baik saja. Dan tentunya makin cantik. Ia tertawa ketika mendengar kau makin cantik. Kalau boleh, bila engkau datang nanti, bawakan juga hadiah untuknya, entah juara berapa saja dia. Semoga ini juga menjadi satu alasan untuk kau bisa ke sini.


Sudah mulai banyak orang di sini e. Mereka juga datang dengan maksud seperti saya. Dan batu tempat saya duduk ini adalah tempat strategis milik bersama. Tidak enak kalau hari ini saya memonopolinya. Oh ya, jangan cemas tentang saya. Saya baik-baik saja. Semoga kau juga tetap seperti yang kau kabarkan minggu lalu. Jaga diri e, jaga jarak dan jaga kebersihan.

Hahahaha…salam ke bapak dan mama saudari cantik yang gagal berkunjung ke paroki saudaranya.

2 thoughts on “Curhat Seorang Pastor Dari Paroki Susah Sinyal

  1. Terimakasih batu signal, ketika dia berpijak diatasa’Mu, ketika itu pula rindu dan harapan’Nya tersampaikan. Dan saat ini saya merindukan cerita dari mu selepas wabah, selepas musim kering dan penjagaan di stiap posko. 😂😂😂

  2. Batu signal menjadi batu penjuru. Mengirim pesan ke seluruh pelosok. Tak terhiraukan, seberapa sering engkau diinjak injak oleh kekesalan di tengah pandemi ini. Kini ku kabarkan dari atas batu signal ini, bahwa aku dan hati ini masih mampu menjaga jarak dengan org di sekitar. Jaga jarak, dan jaga hatimu di sana. Biar tdk terpapar virus wela mata…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.