Desahan Pertama Setelah Hari Raya Paskah

 632 total views,  1 views today


Osth Junas|Redaksi

Paskah baru saja berlalu. Bekas lelehan lilin masih utuh dan mulai membatu pada beberapa bagian kursi kayu yang kosong di kapelan. Di depan altar. Sejak hari Minggu Palma, hari di mana umat Kristiani akan segera merayakan perayaan tri hari suci, Gereja kembali dibanjiri umat Kristiani yang hendak menggelar doa bersama. Hampir setiap sudut Gereja diisi manusia.

Wangi-wangian parfum melekat di mana-mana, seakan ikut terbang bersama angin malam Kamis Putih, pun warna pakaian yang dikenakan umat yang mengikuti ibadah hari itu juga beragam. Seisi Gereja seakan diperbarui kembali. Ini adalah perayaan hari besar. 

Warga Kampung Ujung ramai datang ke tempat ini. Dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.

Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci dan berakhir pada hari minggu sebagai puncak hari besar keagamaan. Mereka menyebutnya Minggu Paskah. Setelah ibadah usai, warga kampung kembali ke rumah masing-masing dengan membawa kabar sukacita atas peristiwa kebangkitan raja mereka, Yesus Kristus.

Namun, kabar sukacita itu tidak berlaku bagi seorang perempuan yang tinggal menunggu hitungan waktu untuk segera melahirkan bayi pertamanya. Perempuan itu tidak terlibat dalam ibadah bersama. Sebab ia kini dianggap sebagai perempuan pendosa, najis dan tidak terhormat.

Belakangan ini, warga kampung selalu dibayang-bayangi kabar tentang perempuan yang tengah mengandung itu. 

“…siapa ayah dari anak yang tengah ia kandung?”demikian pertanyaan orang kampung.

“Bayinya tak punya ayah. Dia hanya seorang perempuan malam. Hasil hubungan dengan pria hidung belang.” lain lagi menyumbang suara, seperti tidak ingin ketinggalan meski suara itu tidak terlalu dibutuhkan di musim yang bukan pemilu ini.

Tidak ada cara lain baginya selain mengurung diri di dalam rumah. Ia tinggal seorang diri. Tak seorang pun warga kampung yang mau bertamu ke rumah itu setelah mendengar kabar tentangnya yang mengandung di luar nikah. 

Setiap hari ia selalu dibayang-bayangi masalah besar dan dihantui perasaan bersalah. Tentu saja ia tertekan dan mengalami depresi berat. Sesekali ia berpikir untuk segera mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sedang saban hari, rasa sakit pada dinding rahim terus mengusik ketenangannya, gerakan itu seakan memberi kabar sukacita agar ia tetap bertahan hidup hingga anak itu lahir.

Suatu malam menjelang subuh. Setelah berdoa, ia menangis. Di luar sedang hujan. Tangisannya pecah setelah mengingat orang-orang dekat yang dulu menerima ia apa adanya. Tentu saja orangtua dan keluarga. Baginya tidak ada cinta yang lebih tulus selain cinta dari kedua orangtua.

“Andaikan Ine1 dan Ame2 masih ada. Saya tidak mungkin menghadapi situasi buruk ini seorang diri.”

Sejak Om Sam, adik kandung Ine Marta, yang nomor dua, pergi ke Malaysia beberapa tahun silam, perempuan ini tinggal bersama Ende3 Idu, seorang yang sangat mencintainya selain Ine Marta, ibunya. Dari Ende Idu ia memperoleh cerita tentang kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kedua orangtuanya. 

Ine dan Ame-mu meninggal setelah mengalami kecelakaan mobil di Bok Pandang menuju Puskesmas Benteng Jawa. Hari itu hujan lebat dan angin kencang mengguyur sebagian wilayah Lamba Leda membuat jalan bebatuan licin sehingga mobil yang mereka tumpangi lari mundur dan masuk ke dalam jurang,” cerita Ende Idu, suatu sore di pematang sawah.

“Saya pikir mereka selamat setelah mengalami koma berjam-jam lamanya. Karena keterbatasan alat-alat kesehatan, Ame akhirnya dilarikan ke rumah sakit Ruteng, namun nasib berkata lain. Dia pergi dengan puluhan jahitan di kepala bagian kiri, sedang Ine yang tengah mengandung kamu masih bertahan beberapa hari dan berhasil melahirkan bayi perempuan di puskesmas Benteng Jawa. Kami semua senang menerima kabar baik itu.

Waktu itu bulan Desember. Bulan yang dinantikan seluruh umat kristiani. Bulan yang indah, selain karena bulan terakhir yang menjadi penutup cerita selama setahun, desember juga penuh dengan kehangatan dan cerita tentang cinta dan kehidupan. Sang Emanuel, Allah berserta kita, lahir. Itulah mengapa sebelum pergi, Ine sempat menulis sesuatu pada sebuah lembar kertas kecil, yang sekarang menjadi nama panggilanmu. Emanuela. Sejak itu, panggilanmu Nuela, sebab kamu lahir di pertengahan Desember, orang-orang biasanya saling berjabat tangan dengan sangat mesra di bulan ini,” lanjut Ende Idu, kemudian beranjak menuju pondok.

Sedang padi sudah mulai menguning, sebentar lagi panen raya. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ende Idu kemudian menyusul Ine dan Ame. Lantas usianya yang tidak lagi muda membuat Ende Idu sering sakit-sakitan. Dan akhirnya pergi.

***

Hari semakin subuh. Dingin kian menusuk. Tidak ada suara yang terdengar selain suara jangkrik dan lolongan anjing di rumah-rumah tetangga. Kampung itu sunyi. Rumah-rumah warga hanya dihiasi cahaya pelita yang jika persediaan minyak tanah habis maka tidak akan ada cahaya dari gulungan kapas yang terpasang selain api yang menyala di tungku.

Perempuan yang hidup dari cerita masa lalu tentang namanya yang indah terus mengelus perutnya dengan lembut. Sesekali tendangan keras datang menghantam sisi sebelah kanan dinding rahim. Sakitnya mengagetkan Nuela. Seperti tergores pisau.  

“Kelak anak itu tumbuh menjadi sosok periang.” Perempuan itu ingat Ende Idu yang pernah berkata demikian suatu waktu ketika Ine-nya mengeluh kesakitan sebelum matahari menampakan diri dari belahan bumi bagian timur.

Hingga pukul tiga dini hari, ia tak lagi mampu menahan sakit. Beberapa kali ia menyebut nama Ine dalam desahannya, tetapi selalu saja gagal. Tidak ada yang datang ketika suara parau itu terus berteriak dalam paksa menahan sakit.

Baginya, sakit dan cacian dari orang kampung merupakan ujian yang harus ditanggung atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Desahan juga keringat yang bercucuran pada tubuh mengantar seorang bayi manusia melihat dunia luar itu tidak mudah.

“Ine… Ine…ine…!!!” Suara perempuan itu pecah yang kemudian disusul dengan tangisan bayi. Anak pertamanya lahir setelah hari raya Paskah. 

Dengan lembut ia mengusap wajah anak itu, mengelap darah di sekujur tubuhnya dengan kain seadanya. Bayi lucu, sayu mata yang lugu, lahir di tengah keluarga yang tidak utuh.

Paskah baginya melawan cacian dengan sabar dan tetap bertahan hidup hingga janji penyelamatan itu datang dengan membawa kabar gembira. Ia selalu menyimpan makna tentang kehidupan bahwa tidak semua kita bersih.

Inikah salib yang ia tanggung dalam hidupnya? Ia tahu, setiap orang baik punya masa lalu yang buruk, setiap orang yang berdosa punya masa depan yang baik. Asal bagaimana mau berbenah. Namun, masih layak dan pantaskah manusia menghakimi satu sama lain? Bukankah penghakiman atas dosa dan suci itu hanya milikNya? Entah seperti apa nasib anaknya kelak? Nuela membesarkannya dengan cinta. Selesai!

***

  1. Ibu dalam dialek Manggarai Barat, Flores, NTT
  2. Ayah dalam dialek Manggarai Barat, Flores, NTT
  3. Nenek dalam dialek Manggarai Timur, Flores, NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.