Di Kaki Ranaka, Merindu Air Seperti Emas

569 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Sebagai seorang mahasiswa di tanah rantau, liburan selalu menjadi momen yang saya tunggu-tunggu. Di kaki Gunung Ranaka, terletak sebuah kota kecil nan ramai, tanah tempat saya dibesarkan sejak kurang lebih dua puluh satu tahun silam. Di kaki Gunung Ranaka, gunung berapi dengan ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut yang terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, berjejer perdesaan maju dengan potensi alam dan SDM yang cukup memadai. Itulah mengapa di tanah rantau, sampai hari ini, tempat itu selalu menjadi kerinduan yang membuat bergetar hati saya tak karuan. Rangkaian kampung itu akrab dengan satu nama umum; kota Mano.

Setiap kali pergi berlibur, pemandangan selepas dari  Borong, ibukota Manggarai Timur, menyuguhkan jawaban tentang kerinduan yang bertubi-tubi. Kesejukan hutan Rana Mese yang dilindungi otoritas negara menyebabkan perjalanan panjang dari ujung timur Pulau Flores terasa tidak lagi melelahkan. Yang terjadi justru saya meleleh akibat tidak sanggup membahasakan keindahan alam ciptaan Tuhan itu. Memasuki wilayah Mano, kesejukan itu semakin bertambah oleh pemandangan indah Gunung Ranaka. Dari puncak Gunung itu, sebagian besar wilayah Kabupaten Manggarai dan sebagian kecil bagian Manggarai Timur dapat dijangkau oleh mata telanjang.

Sepintas terlihat, Mano adalah tanah air. Mano adalah tanah yang berlimpah air-nya, sehingga untuk mandi pun saya harus bersusah payah menahan derasnya air. Mano berlimpah air-nya, sehingga tidak ada cerita kekeringan lahan, apalagi cerita tentang penampilan muda-mudi yang kemomos. Berkunjung ke Mano berarti anda akan menjadi pemuda ganteng dan pemudi cantik, karena air yang bersih bisa membereskan setiap titik terkecil yang membuat wajah anda kurang segar.

Tetapi cerita tentang Mano sebagai “tanah air” seperti cerita dari zaman doeloe, waktu empo orang Manggarai dikisahkan mendarat pertama kali di puncak Mandosawu. Sekarang ini, jika anda sempat pergi ke Mano, di jalanan umum akan anda saksikan ende-ende dan anak koe menenteng jerigen-jerigen. Mereka menimba air dari sumber  yang cukup jauh, menunggu tetesan air dari keajaiban alam ciptaan Mori Kraeng. Mereka mandi di kali, minum air yang ditimba dari kali, dan seterusnya (bayangkan sendiri saja…).

Setiap kali berlibur, saya selalu menjadi anak rajin yang membantu orang tua menimba air di tempat yang cukup jauh. Di tempat saya air begitu kurang, tetapi di tempat lain air dibuang-buang. Padahal, semua orang butuh air, selebihnya baru kebutuhan lain yang lebih mewah. Air, sekadarnya, bukan untuk mencuci mobil-mobil mewah, melainkan untuk minum dan bertahan hidup, untuk mandi dan mencapai penampilan rating ganteng seperti anak-anak dari wilayah lain (Mukun, Rana Mese, dst…).

Apa masalahnya? Menurut saya, masalahnya ada di pengelolaan dan distribusi air.

Kita menuntut kejelasan pengelolaan air yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Kita tidak lagi bicara tentang bagaimana mendapat air di wilayah yang sebagian besar terdiri atas hutan dengan pepohonan lebat di dalamnya. Sebab, air sudah ada, berlimpah ruah, bahkan surplus di wilayah tertentu. Sayangnya, distribusi air tidak merata. Dugaan saya, distribusi yang tidak merata ini disebabkan oleh tantangan-tantangan kepemilikan tanah tempat mata air berada, ataupun oleh karena ketidakmahiran secara teknis mengelola sumber daya air itu.

Kita tentu berharap bahwa Mano harus menjadi lumbung air, sebab ia berada tepat di kaki Gunung Ranaka, dengan Poco Ranaka sebagai daerah resapan airnya. Di Poco Ranaka, hutan lebat membentang dari ujung ke ujung, pohon-pohon raksasa menjadikannya liar, buas, asli, sekaligus seram. Menurut ilmunya, hutan lebat menyediakan air yang banyak. Air yang banyak selanjutnya menjamin kehidupan manusia yang ada di sekitarnya.

Dan jaminan terhadap manusia itu, kalau kita bicara tentang manusia sebagai publik, ya, disediakan oleh negara. Dalam hal ini, pemerintah, mulai dari tingkat terendah sampai di level Lehong, harus merasa bertanggung jawab. Tidak akan ada pengelolaan yang adil berbasis masyarakat jika bukan pemerintah yang menanganinya. Kepentingan privat setiap orang atau setiap kampung akan berbahaya bagi semua warga Mano jika air dilihat sebagai barang milik pribadi atau milik kampung.

Mano adalah kota air. Berbagai tanaman berharga tumbuh di sana. Artinya, air yang ada di perut bumi Mano itu berlimpah. Jangan sampai air yang banyak itu hanya menjadi cerita. Jangan sampai Mano kota air hanya menjadi anggapan orang-orang luar yang belum merasakan sakitnya menimba air dan ribetnya mandi di kali. Di kaki Ranaka, mencari air sama sulitnya dengan mencari emas.

Penulis : Anno Susabun|Mahasiswa STFK Ledalero|Tua Panga Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *