Di Kampung Selalu Ada Cerita Yang Menarik

Dokpri Erik Jumpar

 287 total views,  4 views today


Erik Jumpar I Redaksi

Sesekali kau mencicipi indahnya menjadi anak kampung. Kau dapat memilih berbagai hiburan yang mungkin tak kau dapatkan di tempatmu kini berada.

Saban hari kau bisa pergi ke hutan. Kau bisa berjalan tanpa alas kaki. Sesekali kakimu tak perlu dimanja. Bawa juga dengan parang. Kau seperti pahlawan, tampak gagah berani.

Kemudian kau mulai menyusuri hutan. Pepohonan yang rimbun kadang menganggu pandanganmu. Kau terus berjalan dengan tergopoh-gopoh, tanah berlumpur nan licin kadang menyebabkan ayunan langkah cepat lelah, teruslah berjalan tanpa kalah.

Saat sedang berjalan, kau akan bertemu dengan onggokan duri yang menghadang tapak kakimu dalam melangkah. Kau dapat mengambil parang agar membersihkan hambatan yang menghadang.

Tapak kakimu membawa jauh ke tengah hutan. Kau melihat ranumnya buah jambu yang mulai kekuning-kuningan, tanda buahnya sudah matang. Kau dapat beristirahat sejenak, memanjat pohonnya untuk memetik buah yang matang.

Kau dapat memilih duduk di bawah rimbunnya pepohonan. Memakan buah jambu sembari menikmati kicauan burung. Angin sepoi-sepoi bisa saja membuyarkan lamunanmu. Jangan sungkan untuk mengatupkan tangan sejenak, bersyukur atas budi baik dari semesta. Di tengah hutan kau hanyalah debu, bersyukurlah  sejenak.

Saat melanjutkan pengembaraan, sebisa mungkin kau tetap hati-hati. Acap kali orang-orang kampung memasang jerat untuk menangkap hewan liar, misalnya babi hutan. Kau perlu tahu bentuk dari jeratan yang dibuat, tidak enak ceritanya saat kau kena jeratan hewan liar yang dipasang oleh warga. Bisa berabe nasibmu.

Bila ingin pulang ke rumah sempatkan untuk mencari jamur hutan. Konon hutan yang masih alami ditandai dengan pelbagai jamur yang tumbuh liar. Anggap saja jamur yang kau cari sebagai buah tangan untuk orang rumah. Kandungan gizinya tidak diragukan lagi.  Namun kau tetap hati-hati, ada jenis jamur  yang memiliki kandungan beracun, tidak dapat dimakan oleh manusia.

Kalau saja mentari mulai tenggelam, kau bisa kembali ke rumahmu. Seperti sabda dari anak senja, sejauh mana kakimu melangkah, rumah menjadi tempat favorit untuk merebahkan badan, melepas peluh juga sesal sepanjang hari.

Sebelum pulang, kau bisa membasuh badan di air pancuran yang terletak di ujung kampung. Mandi di air pancuran berbeda dengan mandi di kamar mandi. Kelak kau mandi tanpa ada perasaan akan kehabisan air.

Di tanah Nuca Lale ini, sejauh mana kau melangkah di setiap sudutnya, kau akan disambut dengan air pancuran di kampung-kampung. Orang-orang Sigho, sebutan untuk orang Manggarai di bagian tengah oleh etnik Rongga di Kota Komba, menyebutnya Wae Sosor.

Dari hulunya dialirkan dengan menggunakan bambu menuju tempat yang lebih rendah. Air mengalir tanpa henti. Di sini seluruh warga dari berbagai latar belakang dapat memanfaatkannya. Entah untuk mandi maupun mencuci pakaian.

Saat membasuhkan badan, kau bisa saja merasakan perih dari luka akibat tersayat duri di hutan tadi. Kau baru menyadari kalau saja di betis kakimu tersayat duri, sebagian dari durinya masih tertempel di kulitmu. Kau membersihkannya sembari menutup mata, rasanya tentu perih.

Seharian berjalan, kau merasakan campur aduknya perasaan, kadang suka kadang luka. Namanya hidup, roda terus berputar bersama waktu, kadang di atas kadang di bawah.

Itu baru satu, belum lagi hiburan yang lain saat tinggal di kampung. Salam sayang dari tempat di mana ari-arimu dikuburkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.