Di Perempatan Cancar, Saya Tertunduk dan Hampir Menangis

 1,196 total views,  1 views today


Popind Davianus|Tuagolo

Siang itu saya mampir ke rumah teman saya, Saferyan. Rumahnya terletak di Nterlango, Paroki Santu Klaus. Sama seperti Saferyan, orangtuanya ramah dan baik hati. Keluarga Saferyan membenarkan adagium “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Kedatangan saya bertepatan dengan waktu makan siang. Daging babi yang dicampur saung daeng menjadi jamuan spesial untuk seorang tamu yang datang jauh dari Manggarai sebelah Timur. Menu makan siang ini nampaknya menggugah nafsu makan. Tanpa sadar saya tambah nasi sebanyak 3 kali.

Sebelum nasi dipiring habis, terdengar gemercik air dari periuk menuju cerek, disusul wewangian kopi yang begitu menyengat di hidung. Sebelum sendok nasi terakhir, ase Apol menyodorkan beberapa gelas kopi buat kami di ruang tamu.

Memang, Manggarai Timur terkenal dengan petani kopinya. Tapi kopi di Nterlango tidak bisa ditipu kenikmatannya. Selain nikmat, kopi tersebut sangat cocok memusnahkan lemak daging babi yang telah kami santap.

Sehabis makan siang, saya mengajak Saferyan dan Kristo menuju Rentung. Perjalanan ke Rentung kami tempuh menggunakan Strada Triton, mobil offroad keluaran Mitsubishi. Mobil yang dibeli untuk menaklukan medan berat di Manggarai Timur. Siang itu mobil tersebut bernasib baik, setidaknya bisa berjalan di jalan negara yang begitu mulus dari kota Ruteng hingga perempatan Cancar.

Saferyan memberi aba-aba untuk segera berangkat dengan menghidupkan mesin mobil yang diparkir di depan rumah mereka. Saya yang sedang menikmati kepulan asap surya 12 pun buru-buru menuju halaman rumah dan langsung berangkat.  

Dalam perjalanan ke Rentung, kami bagi-bagi tugas. Saferyan mengemudi mobil, Kristo sebagai tukang setel musik dari youtube, sedangkan saya bertugas memberi kabar kepada seseorang di Rentung yang sedang kangen-kangennya.

Lalu lintas menuju Rentung lengang. Saferyan pun menekan pedal gas tanpa kompromi.

Mobil melaju dengan cepat. Saya yang sedang asyik berkabar dengan seseorang di Rentung tidak menyadari bahwa Saferyan sudah membawa kami hingga pertamina, Langkas.

“Bos isi solar ge”

Saferyan mengalihkan pandangan saya dari HP di genggaman. Perjalanan dari Manggarai Timur mengharuskan bahan bakar mobil tersebut diisi ulang.

Saya harus mengakui bahwa Manggarai sudah bergegas menuju sebuah kemajuan. Pertamina Langkas merupakan pertamina yang baru dibangun. Menyadari jumlah kendaraan yang semakin bertambah banyak, pemerintah yang bekerjasama dengan investor mendukung dengan menambah jumlah pertamina. Salut!!!

Kami sampai juga di Rentung. Kampung yang begitu indah di bawah kaki bukit. Kampung yang terkenal dengan lapangan sepak bola tanah merahnya. Kampung yang bersentuhan langsung dengan tepi persawahan Lodok Cancar. Kampung yang walaupun sepi, tapi menyenangkan. Di Rentung ada seorang wanita yang telah menunggu kedatangan kami.

Namanya Yeni. Wanita yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di Jogja. Atas dasar jalinan asmara dengan Yeni maka Rentung menjadi salah satu tempat tujuan saya berkunjung. Tidak lupa membawa serta ajudan saya, Saferyan dan Kristo.wkwkwkw

—-

Orangtua Yeni menyambut kami hangat. Setelah menghabiskan kopi, kami dipersilahkan menangkap ikan di tambak milik mereka. Tidak lama setelah diberi izin, kami bergegas menuju tambak dan melancarkan aksi penangkapan ikan. Hasilnya pun cukup memuaskan. Ikan tangkapan kami banyak.

Malam itu di Rentung, kami makan ikan tawar. Enak sekali rasanya. Dalam hidup, saya jarang memakan ikan tawar, ikan tangkapan sendiri apalagi.

Sambutan hangat keluarga Yeni malam itu sangat berkesan. Dalam hidup, ini adalah kali pertama mengunjungi rumah pacar dan bertemu orangtuanya.

Pengalaman pertama yang tidak akan mudah untuk lenyap dari ingatan. Tidak sekadar senyum, kopi, ikan tawar dan makan malam. Papanya Yeni menguji kelaki-lakian kami dengan membelikan sebotol sopi. Gelas pertama, kami masih malu-malu. Gelas ke dua, juga masih malu-malu. Gelas ketiga, Saferyan mulai mengajak berdebat. Dan gelas kelima, kedua teman saya ini malu-maluin.

Walau kami agak brengsek sehabis menelan sopi, keluarga Yeni masih tetap hangat dan murah senyum. Mereka sudah menganggap kami bagian dari keluarga mereka, padahal baru kali itu bertemu.

Setelah kenyang dan kepala merasa sedikit pusing, kami pun pamit untuk kembali menuju Nterlanggo. Di jalan yang amat sempit dari Rentung menuju Cancar, saya mengemudi mobil penuh hati-hati. Hingga sampai di perempatan Cancar kami bertiga turun membeli tambahan rokok sebagai teman begadang.

Dari kejauhan samar terlihat lampu dari kampung Rentung. Sambil menunggu Kristo keluar dari kios, saya membayangkan kembali kehangatan keluarganya Yeni. Orangtuanya yang murah senyum dan Yeni yang semakin cantik.

Saya kemudian tertunduk dan hampir menangis. Saya tersadar, ikan yang kami sembunyikan untuk dibawa ke rumahnya Saferyan yang rencananya akan dipanggang itu, ketinggalan di samping rumah. Mau kembali ke Rentung dan mengambilnya, malu. Masa calon menantu main sembunyi-sembunyi. Sialan!!

Entah bagaimana kabar ikan tersebut sekarang. Yeni, pacar saya itu, juga tidak tahu. Mungkin lenyap dimakan kucing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.