Di Wae Musur, Kami Menoreh Banyak Kenangan

Sumber Foto: Regional Kompas

336 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini


Di tengah riuh politik lokal, Wae Musur selalu berhasil mencuri perhatian berbagai pihak. Ibarat gadis cantik berparas ayu, Wae Musur memantik anak muda memandangnya lebih lama dari biasanya. Berawal dari obrolan lepas tepi sungai Wae Musur dari mulut para petani yang sedang mengais mimpi di balik pematang sawah, hingga pada meja anak-anak muda yang peduli dengan berjuang dan terlibat melihat masalah yang melilit  tanah kelahiran. Wae Musur tetap jadi ikon untuk didiskusikan.

Saking seksinya isu pembangunan sebelah Wae Musur, ada intelektual lokal yang rela mati-matian meluangkan waktunya untuk menulis tentang pilihan politik masyarakat sebelah Wae Musur. Sebagai anak muda yang punya kedekatan emosional dengan Wae Musur, sungguh saya menaruh hormat pada anak muda yang peduli dengan pilihan politik masyarakat kita.

Selain itu, anak muda yang lahir dan besar di sebelah sungai Wae Musur memilih tak ketinggalan untuk berjuang. Mereka membentuk organisasi kepemudaan bernama Gerakan Pemuda Wae Musur Bersatu (GARDA MUTU).

Dalam perjalanan organisatoris, GARDA MUTU dijadikan sebagai ruang konsolidasi gagasan masyarakat sebelah sungai Wae Musur. Di dalamnya terjadi pertengkaran ide untuk membicarakan lebih serius tentang penyebab mandeknya pembangunan sebelah sungai Wae Musur.

Namun untuk kali ini, saya tidak ingin melibatkan diri terlebih jauh dalam narasi-narasi yang menempatkan pemangku kebijakan sebagai pemicu persoalan ketertinggalan pembangunan sebelah sungai Wae Musur, sebab saya hendak menarasi ragam kenangan masa kecil yang terjadi di sungai Wae Musur.

Derasnya sungai Wae Musur  tidak hanya menghidupkan biota pada sungai yang garang saat banjir itu, selebihnya ia turut menghidupkan kenangan masa kecil kami. Ada cerita yang terjadi bersama senja yang hendak kembali ke peraduan, tentang anak-anak dari Golo Mongkok desa Watu Mori kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur dengan ragam ekspresi merayakan masa kecil-merayakan masa depan.

Di Wae Musur, tepatnya pada belasan tahun lalu, orang-orang dari Golo Mongkok berlarian bersama senja untuk menimba air bersih. Persediaan air bersih yang kurang di kala kami kecil dulu menuntun masa kecil kami berjibaku dengan waktu. Hari turut diisi  dengan membantu orangtua menimba air di sungai.

Wae Musur sering dijadikan pelampiasan akan kesukaran hidup yang kami hadapi dulu. Sebelum mentari kembali ke peraduan, anak-anak desa tumpah ruah mandi di sungai. Ekspresi bahagia melepas beban selama seharian penuh terlihat. Bukti akan adanya cinta terhadap diri ditunjukkan dengan mandi di sungai demi membersihkan badan dan menimba air bersih untuk persediaan rumah tangga. Engko pasti tahu, Mama-mama Timur akan beraksi saat apa yang disuruh tidak dilayani sama sekali oleh kita anaknya.

Lazimnya anak-anak desa yang hendak mandi di sungai datang bergerombol. Sepanjang jalan akan diisi dengan candaan yang menggelitik, saling mengejek satu sama lain. Tak ada gab antara anak yang satu dengan anak yang lain. Semua berbaur dalam cangkir kebersamaan.

Tak sekadar mandi untuk membersihkan badan, kebiasaan yang dilakukan sebelum mandi didahului dengan berlarian ke sana kemari untuk mengejar satu sama lain. Sebagian anak-anak yang lain bersahut-sahut kegirangan.  Anak-anak yang lain menyelam sembari menyembunyikan batu di sungai.  Sementara teman-teman yang lainnya bertugas untuk menemukan batu yang disembunyikan tadi.

Usai membersihkan badan, akan ada satu dan dua anak lainnya yang telah menyiapkan tempat perapian. Dinginnya sungai Wae Musur turut mendorong mereka menyiapkan tempat untuk memanaskan badan. Orang Manggarai menyebutnya sarap api. Setelah api dinyalakan, seketika tempat sarap api tadi akan dikeremuni oleh anak-anak yang letih usai berenang.

Sembari sarap api di tepi kali sesekali diisi dengan lelucon yang mengocok perut. Anak-anak desa memiliki segudang cerita yang siap dibagikan pada teman-teman sebayanya. Cerita-cerita konyol disimpan untuk sesekali menertawakan hidup yang adakalanya kelampau keras. Waktu pun berlalu begitu saja, masa kecil berjalan indah saat dilalui dengan teman-teman masa kecil tentunya.   

Wae Musur juga sering dijadikan sebagai tempat untuk berburu biota bawah air. Teman-teman masa kecil yang lihai untuk menangkap ikan, belut dan katak biasanya habiskan hari di kala liburan dengan menyelam di sungai. Kebiasaan ini dilakukan oleh anak-anak yang tentunya memiliki kemampuan khusus. Ada kebahagiaan tersendiri ketika tangan-tangan mungil mereka mendapatkan hasil buruan. Senyum sumringah terpancar dari hasil tangkapan yang didapati pada hari itu.

Sementara  anak-anak lain yang tidak bisa menyelam dan menembak, hanya bisa menunggu sembari berharap agar perburuan hari itu tidak berujung sia-sia. Anak yang menunggu di tepi sungai lumrahnya ditugaskan sebagai orang yang menyiapkan api untuk memanggang hasil tangkapan. Ada harapan yang didaraskan dari anak yang menunggu di tepian kali, ada doa yang dipanjatkan untuk merayakan kebahagian bersama dengan sahabat kecilnya. 

Seluruh hasil yang didapati akan  disantap bersama. Nuansa persaudaraan terlihat dalam jamuan sederhana khas anak desa. Entah banyak atau sedikit hasil tangkapan, pada intinya dirayakan dalam warna kekeluargaan yang kental. Sungguh sebuah perayaan yang berharga dan istimewa bagi anak desa yang hidup ala kadarnya.

Kala itu, ekspresi bahagia terpancar dari raut wajah anak-anak desa yang belum tersentuh jauh oleh modernitas. Bermain di sungai menjadi aktivitas yang paling istimewa untuk anak desa di masa kami saat itu. Ada kerinduan ketika melihat waktu kini semakin membawa kita melaju untuk maju, usia yang merangkak tua pun menuntun kita untuk tak bisa merayakannya sekali lagi, meski sekadar untuk mengulangnya lagi.

Melihat anak-anak desa di masa kini yang habiskan hari dengan ugal-ugalan di jalan raya, fokus dengan ponsel pintarnya, serta dihabiskan dengan bermain PS, tentu berbanding terbalik dengan masa kecil kami dulu. Tangan mungil sebagai anak desa yang jago memburu biota sungai kini jarang terlihat. Anak-anak desa lebih fokus dengan urusan yang tak jauh dari ponsel pintar dalam genggamannya, sebab dalam genggamannya dunia dipersempit dengan suguhan informasi yang begitu masif.

Kini Wae Musur jarang didatangi. Setelah persediaan air bersih di Golo Mongkok terpenuhi, di mana berasal dari air PDAM dan air irigasi, Wae Musur tidak riuh seperti dulu lagi. Hanya terlihat beberapa warga yang sedang mencari keberuntungan dengan menyetrum  biota sungai yang tersisa.

Obrolan tentang Sungai Wae Musur juga hanya masif saat menjelang kontestasi politik lokal. Selebihnya tidak sama sekali. Entah motifnya karena politik atau bukan. Intinya, tidak ada kawan yang abadi dalam politik, selain kepentingan itu sendiri.

Pada akhirnya, Sungai Wae Musur tetap ada sampai kapanpun jua. Aliran sungainya abadi. Ia abadi seperti catatan ini, ia abadi seperti tabeite.com yang akan selalu ada mendukung geliat literasi di tanah Manggarai Timur.  Sampai nanti, sampai mati. Tentu, tak hanya menunggu pertarungan politik lokal yang penuh intrik dan tipu-tapu itu. Begitu! 

Penulis: Erik Jumpar|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *