Dilema Mantan Aktivis Kampus; Menetap di Kota atau Kembali ke Desa?

237 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Menulis tentang aktivis kampus adalah suatu hal yang sangat menarik dan butuh puluhan bahkan mungkin ratusan halaman kertas untuk menggambarkannya secara detail.

Mulai dari penampilan sosok aktivis kampus yang selalu meyakinkan, gaya bicara dan berorasi bak seorang orator ulung, kemampuan menyampaikan gagasan yang kritis, solutif dan inovatif dalam berbagai kesempatan sampai pada kelihaian membangun relasi dengan para pejabat tingkat daerah maupun nasional.

Kita akui dan sepakat bahwa mereka adalah kelompok mahasiswa yang ditakdirkan memiliki kelebihan dan sekaligus memiliki tanggung jawab untuk turut andil dalam menyelesaikan permasalahan yang menyangkut kepentingan bersama.

Kita patut bersyukur karena di antara ribuan jumlah mahasiswa yang ada di setiap kampus, masih ada “sebagian kecil” yang siap mendedikasikan diri menjadi aktivis kampus.

Meskipun di beberapa kesempatan tidak jarang para aktivis kampus selalu direndahkan oleh segelintir orang yang mengistilahkan bahwa Aktivis adalah “Asosiasi Kantong Tipis”. Tapi hal ini tidak sedikitpun menyurutkan semangat perjuangan dan pergerakan bagi para aktivis kampus.

Masih berbicara dalam tatanan idealisme, aktivis kampus boleh dikatakan sebagai cikal bakal pemimpin yang memang dipersiapkan untuk melanjutkan kepemimpinan di masa yang akan datang. Bahkan doktrinisasi kalimat “setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya” selalu menjadi bagian dalam setiap pergerakan mereka.

Menimba ilmu di perguruan tinggi yang dibarengi dengan kemampuan berorganisasi adalah sebuah nilai plus yang patut untuk dihargai. Faktanya tidak sedikit mereka yang mendedikasikan diri sebagai aktivis kampus berhasil menyelesaikan pendidikan dengan predikat “cum laude”.(Bahasa Elar) hahaha.

Bahkan tidak jarang para aktivis kampus melanjutkan studi di luar negeri dengan kemampuan yang mereka miliki sehingga menjadi orang-orang hebat secara akademis dan keilmuan yang dipelajari. Alhasil gelar Profesor, Doktor, ahli ini, ahli itu, penghargaan di sana, penghargaan di sini dan bla..bla..bla melekat sampai akhir hayat.

Sampai di sini saya ¬†mengajak kita untuk melihat secara objektif dan lebih sederhana lagi terkait mantan aktivis kampus. Sebelumnya izinkan saya menggunakan kata “mantan” karena lebih enak disebut dan didengar jika disandingkan dengan kalimat “aktivis kampus”.

Mengapa para mantan aktivis kampus yang secara kapasitas dan kapabilitasnya tidak diragukan lagi enggan untuk berbondong-bondong pulang ke desa di mana tempat ia lahir dan dibesarkan setelah menyelesaikan studi?

Memang tidak salah menuntut ilmu setinggi-tingginya sampai ke luar negeri sekalipun selama masih memiliki kesempatan. Tapi jangan lupa, tugas mereka sebagai orang pilihan adalah melakukan perubahan terutama di desa yang merupakan ujung tombak pembangunan di negeri ini.

Akan tetapi faktanya hari ini begitu banyak putra-putri desa yang potensial menuntut ilmu di luar kota maupun luar negeri sekalipun kemudian menjadi aktivis kampus akan tetapi setelah selesai studi lebih memilih untuk mencari “posisi aman” dengan dalih keilmuan dan beban moral akan panjangnya gelar yang diperoleh.

Ya, memang sangat manusiawi, akan tetapi hal ini menurut saya tidak sepenuhnya berlaku buat para mantan aktivis kampus. Orang-orang pilihan yang konon katanya siap melakukan gerakan perubahan selama itu untuk kepentingan nusa dan bangsa.

Mari sejenak kita menyegarkan ingatan terkait beberapa hal yang mudah-mudahan tidak dianggap sebagai kegiatan merendahkan para mantan aktivis kampus.

Apa gunanya ketika dahulu engkau berteriak lantang, selalu menuntut perubahan akan tetapi kenyataannya hari ini engkau masih memiliki pemikiran yang terpatri dengan kokohnya untuk menjadi orang-orang yang dipandang hebat secara keilmuan lantas duduk manis di ruang ber-AC sembari membolak balik data di atas meja dengan dalih akan melakukan penelitian dan kajian terhadap berbagai fenomena  yang ada.

Kemudian dengan polosnya engkau ajukan proposal untuk melakukan penelitian dengan objek di desa-desa yang konon perlu kajian ilmiah agar menjadi desa yang maju.

Entah sadar atau tidak atau pura-pura lupa pelaksanaan kajian-kajian yang kononnya ilmiah tadi terlepas dari tujuan dan hasil yang ingin didapatkan, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kegiatan ini adalah bagian dari strategi memanfaatkan peluang untuk mendapatkan kucuran anggaran negara melalui pos pendidikan.

Kemudian dengan gagahnya engkau berkemeja rapi dilengkapi dasi siap mempresentasikan hasil penelitian di gedung-gedung mewah sedangkan yang menjadi pendengar entah siapa. Alhasil tidak lebih hanya sebatas rekomendasi yang eksekusinya belum tentu pasti direalisasikan. Faktanya jutaan hasil kajian dan penelitian yang ada hanya sebatas dijadikan bahan diskusi saja.

Kita pun sangat memaklumi, merencanakan dan melaksanakan penelitian saja butuh dana apalagi harus melaksanakan hasil penelitian. Kalau boleh meminjam plesetan Nenek saya, “LOGIKA TANPA LOGISTIK HASILNYA NIHIL”. Inilah fakta yang terjadi saat ini.

Apakah budaya dan sistem pemikiran seperti ini yang terus dipertahankan dari zaman ke zaman. Kalaulah begini adanya sampai kapanpun Indonesia sulit untuk maju, karena orang-orang hebat Khususnya mereka para mantan aktivis kampus akan “mandul” dan secara perlahan akan tenggelam digilas oleh sistem.

Lagi-lagi Saya ingin bertanya apakah hanya sebatas ini gerakan perubahan yang seharusnya dilakukan para mantan aktivis kampus?

Apa gunanya dahulu engkau berteriak keras mengkritisi setiap kebijakan pemerintah pusat sampai pada pemerintah desa, sementara hari ini engkau sangat alergi untuk pulang ke kampung halaman apalagi ikut andil dalam menyumbang ide dan gagasan.

Perlu digaris bawahi buat para mantan aktivis kampus bahwa tugas pemerintah desa saat ini tidak hanya sebatas mendata sensus penduduk dan melaksanakan gotong royong layaknya era orde lama. Akan tetapi hari ini dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah mengembalikan sekaligus mengakui secara utuh keberadaan desa sebagai bagian terpenting dalam bingkai NKRI.

Artinya dengan segala hak dan kewajiban yang melekat pada desa secara tidak langsung desa membutuhkan orang-orang hebat seperti mereka para mantan aktivis kampus untuk menjalankan roda pemerintahan desa kearah yang lebih baik. Mulai dari kebijakan mengelola anggaran yang relatif besar sampai dengan seni untuk mempertahankan adat istiadat dan kebudayaan yang menjadi ciri khas masing-masing desa.

Bukankah dahulu dalam setiap kesempatan engkau selalu mengatakan apa yang telah diucapkan Nenek Moyang Kita, “Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran, aku salah seorang di antaranya, jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku tetap di antaranya, jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu dan jika ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.”

Apakah kalimat ini sudah engkau lupakan begitu saja. Bukankah engkau selalu meneriakkan agar generasi ini harus selalu “merawat ingatan” dan mengupayakan untuk “menolak lupa”. Apa gunanya dahulu engkau berada di barisan paling depan dalam setiap konsolidasi dan aksi yang selalu menuntut pemerintah untuk membuat kebijakan yang nyata tidak sekedar retorika belaka.

Tapi faktanya hari ini engkau masih disibukkan dalam tataran “diskusi” tanpa “aksi” di sana-sini tidak lebih hanya sebatas untuk menambah koleksi foto-foto “selfie” agar terkesan selalu eksistensi melalui akun media sosial. Padahal di luar sana dalam kapasitas yang lebih luas lagi mereka-mereka di desa sangat membutuhkan ide dan aksi nyata yang kiranya dapat mempercepat pembangunan yang dicita-citakan.

Penulis : Ibex Rimba|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *