Ditanya Kapan Nikah? Santuy Saja

 625 total views,  1 views today


|Penulis: Itok Aman|Redaksi|

Pernikahan bukanlah sebuah perkara yang mudah. Bukan hanya tentang seberapa nikmat orgasme di atas ranjang, bukan hanya tentang berapa anak yang meneruskan keturunan, bukan hanya tentang harta, bukan hanya tentang pasangan yang cantik dan tampan secara tampilan.

Keputusan untuk menikah adalah sebuah keputusan yang besar. Banyak orang yang mempertimbangkan tentang dengan siapa ia harus menikah. Menjadi pasangan yang menemaninya seumur hidup.

Saya selalu menaruh rasa hormat pada orang-orang yang memutuskan untuk menikah. Itu adalah sebuah pencapaian yang besar. Tapi, apakah menikah itu menakutkan? Menyenangkan? Tergantung.

Bagaimana cara Anda membangun relasi dengan orang yang akan menjadi pasangan hidup Anda? Apakah Anda sudah menunjukkan semua baik buruk serta lebih kurang dalam diri dan kehidupan Anda padanya? Apakah dia sudah melakukan sebaliknya pada Anda?

“Saya mencintaimu” adalah sebuah kalimat yang mudah diucap, tapi butuh waktu seumur hidup untuk mempertanggungjawabkannya. Menikah bukan hanya sebatas solusi untuk menghindari pertanyaan “kapan nikah?” dari orang-orang yang tidak akan mempertanggungjawabkan kehidupan Anda setelah menikah. Setelah Anda menikah, Anda juga akan ditanya “kapan punya anak? Kok masih foto berdua terus?” oleh orang-orang yang isi kepalanya hanya memikirkan pernikahan adalah urusan selangkangan.

Setelah beberapa tahun saya menjelajahi beberapa kota di Indonesia. Saya bertemu banyak orang. Orang-orang yang saya kenal sejak lama dan orang-orang baru yang saya jumpa di jalan dan media sosial. Ada yang umurnya di atas saya sudah berpasangan, teman seangkatan, bahkan adik-adik di bawah usia saya. Banyak di antara mereka sudah berkeluarga. Ada yang menikah dulu lalu memiliki anak, dan ada yang memiliki anak dulu lalu menikah. Ada yang menikah karena kecelakaan, ini lain lagi. Main-main indehoi di kos, tahu-tahu Nona hamil. Mau tidak mau harus menikah.

Saya tetap pada posisi sendiri tanpa terpengaruh dengan lingkungan di sekitar saya. Menikah setelah saya benar-benar yakin, usia saya sudah matang dan saya sudah bisa bertanggungjawab untuk gadis yang saya nikahi kelak. Banyak yang iri karena melihat teman-temannya sudah menikah, tetapi banyak orang yang sudah berkeluarga iri melihat yang melajang berjalan bebas ke mana saja sesukanya. Begitulah nasib jadi bujangan, ke mana-mana asalkan suka, tidak ada orang yang melarang, bukan? Nah, jadi ingat lagu lawas nih yeeh…

Banyak jalan untuk mencapai sebuah pernikahan. Bagi yang tidak dan/atau belum mendapat restu dari orangtuanya, jalan keluarnya adalah dede bayi. Ada yang menikah karena sudah terlanjur saling bersetubuh selama berpacaran lalu mempunyai anak. Ada yang menikah bukan karena saling mencintai tetapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur bersetubuh padahal tidak saling sayang, lalu mempunyai anak dan menuntut pertanggungjawaban tetapi sebenarnya belum benar-benar siap untuk menikah.

Saya berkenalan dengan banyak orang, dengan diri yang nyeleneh dan apa adanya ini, banyak istri-istri muda berbagi pengalaman mereka setelah menikah. Tentang kebahagiaan setelah berkeluarga dan tantangan yang lebih banyak menghantam keharmonisan rumah tangga. Perselingkuhan, perselisihan pendapat, ekonomi yang tidak cukup, sikap egois dari pasangan. Rasa bosan dan ingin menikah lagi. Saya rasa, komunikasi adalah hal terpenting dalam berkeluarga. Usia lima tahun setelah pernikahan adalah fase di mana komunikasi antar pasangan makin menurun. Mereka sibuk bekerja dan lupa saling memotivasi satu sama lain menjadi peluang bagi orang ketiga untuk masuk memberi perhatian. Sering terjadi, curhat antara lawan jenis berujung nyaman dan menjalin hubungan diam-diam (jika itu terjadi antara orang yang sudah berpasangan).

Ini adalah sebuah pertimbangan berat yang selalu saya refleksikan. Apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah bisa membuat pasangan yang (akan) saya nikahi kelak bisa betah dengan saya? Apakah persiapan saya secara ekonomi dan wawasan kedewasaan sudah stabil dan tidak lagi labil dalam mengatasi sebuah persoalan?

Saya pernah bertanya kepada seorang istri muda yang suka berselingkuh. Dia menjawab dengan terbuka dan apa adanya. Setiap orang punya hakekat untuk selalu jatuh cinta setiap hari bahkan setiap detik. Yang paling menggairahkan dari perselingkuhan itu sendiri bukan hanya soal hubungan seksual dengan pasangan orang lain, tetapi ketakutan jika ketahuan yang membuat jantung mereka berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia ingin dicintai setiap saat. Apakah Anda sudah yakin bahwa Anda bisa membuat jantung pasangan Anda berdetak tak karuan karena selalu merasa dicintai tanpa pertengkaran yang membuatnya perlahan bosan dengan Anda? Cinta bukan hanya sebatas kata tetapi ia mengandung sifat dan sikap dalam tindakan nyata.

Saat pasangan Anda sakit, Anda menyuruhnya mengonsumsi obat atau membawanya ke dokter l, sedangkan selingkuhannya berkunjung dengan membawa obat lalu membawa makanan kesukaannya secara diam-diam. Mana yang lebih mendebarkan?

Selera humor saya masih sangat rendah. Saya adalah pribadi yang terus belajar menjadi yang humoris kadang berusaha puitis. Ada istri-istri muda yang suka mencari dan saling bertukar kabar dengan saya ketika masalah dalam keluarganya sedang menimpa mereka. Kadang saya diajak untuk berselingkuh dan menidurinya di tempat-tempat tersembunyi. Ini berbahaya dan menakutkan bagi keberadaan saya sendiri. Tahukah Anda? Di luar sana, ada orang-orang yang mengambil keputusan ekstrim yaitu ingin memiliki anak dengan orang yang diidolakannya walaupun itu bukan pasangannya? Ini sering terjadi pada pasangan suami istri yang miskomunikasi dan tidak harmonis karena beberapa hal yang menjadi kekurangan mereka dalam menatah rumah tangga.

Dari mereka saya belajar bahwa setelah menikah, saya tidak selamanya menjadi diri saya sendiri, berusaha melebarkan wawasan untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. Menempatkan posisi bagaimana jika saya di posisi pasangan saya, bagaimana dia jika berada di posisi saya. Atau dari sudut pandang tetangga dan orang-orang luar yang bisa memengaruhi keharmonisan sebuah relasi.

Masa muda merupakan kesempatan yang tidak akan terulang kembali. Pernikahan pun adalah keputusan yang berat untuk sisa-sisa hidup sampai napas tidak lagi berhembus.

Saya berteman akrab dengan banyak perempuan cantik. Demikian adalah cara saya agar mengendalikan nafsu seksual saya. Terbiasa dengan perempuan membuat saya percaya bahwa seks bukan sebuah orientasi dalam sebuah hubungan dengan lawan jenis. Banyak orang yang perlu tahu menempatkan diri di hadapan lawan jenisnya agar mereka betah, nyaman dan tidak menjenuhkan. Begitupun cara saya dalam mencari pasangan hidup yang baik, dengan mengenali banyak pribadi dari sifat dan watak yang selalu beraneka.

Itulah mengapa sampai hari ini, saya masih betah berteman dengan siapa saja perempuan-perempuan yang saya jumpai. Di sana, dalam pertemanan kami, tidak ada orientasi seks walaupun saya acap mengumbar unggahan ala-ala romantis dan mesra, padahal hanya berkawan. Pada titik tertentu, saya menjadi liar dengan cara saya sendiri dalam memilih menjalin hubungan tanpa status agar tidak ada kata putus.

Di dinding media sosial saya, tidak sedikit orang yang melihat dan menganalisa dari jauh tanpa mau berteman dan berkenalan dekat dengan saya, mereka kadang menikmati apa yang saya bagikan tentang asmara, tentang wajah-wajah perempuan-perempuan cantik yang menghiasi unggahan-unggahan saya, mereka berpikir bahwa saya adalah remaja yang suka bermain perempuan (playboy).

Esensi media sosial memang sangat berpengaruh. Mendekatkan yang jauh tanpa harus menjauhkan yang dekat. Saya suka berteman dengan siapa saja. Dengan banyak orang, dengan banyak perempuan tanpa melibatkan percintaan. Mereka nyaman. Itu pun salah satu cara saya belajar, bagaimana saya bisa membuat pasangan saya kelak menjadi perempuan terbaik yang selalu jantungnya berdetak tidak karuan karena jatuh cinta setiap saat. Bagi saya sendiri, ini bagian tersulit dalam mengambil keputusan untuk menikah.

Pada tujuannya pun menikah bukan perkara siapa yang paling cepat tapi siapa yang paling tepat. Termasuk yang tepat dalam mengatasi berbagai persoalan dalam berumah tangga. Bukan soal siapa yang pandai menghindar dari masalah, melainkan dengan siapa yang membuat kita bertahan dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan.

Jadi, jika Anda berhadapan dengan orang-orang yang menanyakan di mana dan siapa kekasih Anda, kapan nikah, kapan punya anak, kapan pesta, kapan undang, lihatlah hidupnya. Apakah dia sudah berpasangan? Jika sudah, apakah dia bisa menjamin hubungan dengan pasangannya benar-benar harmonis? Tapi kalau dia bertanya tentang hal tersebut sedang dia sendiri sering bertengkar dengan pasangannya, pergaulannya dibatasi karena pasangannya, dikekang, dipukul, dicaci maki saat keduanya dalam masalah, di situlah kesempatan Anda untuk tersenyum dan bila perlu tertawa lebar. Siapa yang sebenar-benarnya dijajah oleh hatinya sendiri? Dia yang membanggakan pasangannya tapi tidak harmonis atau Anda yang memilih sendiri tetapi hidup dengan benar-benar menjadi diri Anda sendiri?

Sesungguhnya cinta bukan hanya milik mereka yang sudah berpasangan, tetapi juga milik mereka yang memilih sendiri sebelum benar-benar menemukan orang yang tepat dengan penuh kepastian. Percayalah tentang cinta, semua akan indah pada waktunya. Kalau belum indah, belum waktunya. Hiduplah menjadi diri Anda sendiri tanpa terpengaruh dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengubah pola dan gaya Anda.

Sekian ceramah tidak penting kali ini, sampai jumpa di lain coretan. Salam dari pemuda yang konsisten memilih lebih berpindah kertas menggores tinta daripada berpindah hati menggores luka. Ehmm…!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.