Don Lako: Hakikat Manusia sebagai Peziarah

130 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Hiro Edison|Kontributor

Pengantar

Don lako (Manggarai: Banyak Berjalan) merupakan terminologi yang sering digunakan oleh masyarakat Manggarai dalam memaknai hidup. Frasa don lako selalu bersanding dengan tiga (3) frasa berikut ini: don ita (Manggarai: Banyak Melihat), don bae (Manggarai: Banyak Mengetahui), dan don pande (Manggarai: Banyak Berbuat). Ketika semua frasa itu digabungkan maka terbentuklah go’et (Manggarai: Ungkapan) berikut: don lako don ita, don ita don bae, don bae don pande. Artinya ialah, semakin banyak berjalan berarti semakin banyak yang dilihat. Semakin banyak yang dilihat berarti semakin banyak yang diketahui. Semakin banyak yang diketahui berarti semakin banyak yang bisa dilakukan (dikerjakan). Dengan demikian, aktivitas lako, ita, bae, dan pande menjadi filosofi pemaknaan hidup orang Manggarai sebagai homo viator (makhluk peziarah).

 Dalam tulisan ini, saya memberikan fokus pada filosofi hidup don lako. Don lako mengungkapkan secara jelas makna hidup sebagai sebuah peziarahan. Ketika hidup dimaknai sebagai sebuah peziarahan maka amat tepat bila manusia melihat kehidupan itu sendiri sebagai sebuah rangkaian perjalanan. Don lako ada dalam domain pemaknaan yang seperti itu.

Hidup: Locus Peziarahan Don Lako

Don lako bagi orang Manggarai tidak hendak mengatakan sebuah perjalanan yang tanpa arah. Ia juga tidak mengatakan sebuah perjalanan wisata. Juga bukan tentang perjalanan seperti yang dimaknai para petualang. Don lako juga bukan perkara pergi ke negeri seberang, apa pun tujuannya. Juga bukan tentang sebuah perjalanan perantauan. Don lako lebih dari pada itu semua. Don lako hendak mengatakan bahwa kehidupan dalam dirinya sendiri adalah rangkaian perjalanan. Singkatnya, bagi orang Manggarai, lako adalah hidupitu sendiri.

Pertanyaannya sekarang ialah, apa dasarnya sehingga bisa dikatakan bahwa lako adalah hidup itu sendiri? Bagi setiap orang yang mampu memaknai hidup secara reflektif, ia akan mampu menemukan bahwa hidup ini bukanlah perkara kebetulan semata. Bagi mereka, hidup adalah sebuah rangkaian perjalanan. Sejak dibentuk dalam rahim ibu, saat dilahirkan ke dunia, ketika berada dalam dunia (dari masa Anak-anak hingga Lanjut usia), dan saat akan beralih dari dunia merupakan rangkaian perjalanan yang bukanlah sebuah kebetulan semata. Dalam setiap tahap dan fase kehidupan, tersimpan jejak-jejak perjalanan dan peralihan. Yang satu menjadi dasar bagi yang lain. Yang satu mendahului yang lain. Semuanya ada dalam rangkaian relasi yang saling berhubungan satu sama lain.

Don lako secara mendasar mengungkapkan cara pandang orang Manggarai tentang hidup. Hidup kemudian tidak dimaknai dalam tataran artifisial semata. Hidup tidak boleh dilalu-lewatkan begitu saja dengan hal-hal yang tidak berguna. Sebab, hidup itu sendiri bukanlah rangkaian tumpukan waktu yang bisa diambil, disimpan, dan digunakan kapan saja. Waktu, jika tidak mampu dimaknai secara mendalam akan berlalu begitu saja dan tidak akan pernah kembali. Meskipun waktu tampaknya berkarakter repititif namun itu tidak berarti kualitas yang dibawanya sama. Waktu terus mengalir, meskipun dalam titik tertentu ada singgungan persamaan atau pengulangannya.

Ketika hidup tidak lagi dilihat sebagai tumpukan waktu maka amat tepatlah bila hidup dimaknai sebagai rangkain perjalanan. Rangkaian perjalanan menunjuk pada aktivitas perjalanan yang terus menerus. Perjalanan dalam dirinya mengandung makna untuk terus mencari arti hidup itu sendiri. Pada poin itulah, don lako mendapatkan tempatnya yang tepat dalam memaknai hidup. Sebab, don lako menunjuk pada aktivitas untuk terus berjalan tanpa henti dalam mengarungi peziarahan hidup ini. Dengan demikian, hidup menjadi locus yang tepat dalam mewujudkan aktivitas peziarahan don lako.

 Hidup sebagai locus peziarahan don lako, mengungkapkan secara jelas cara pandang orang Manggarai tentang kehidupannya masing-masing. Bagi orang Manggarai, kehidupan adalah mbaru bate lejong (Manggarai: Rumah tempat singgah). Karenanya, orang Manggarai menghayati dirinya masing-masing sebagai meka ata lejong (Manggarai: tamu yang sedang singgah). Oleh karena identitas dirinya sebagai meka, maka orang manggarai selalu menghayati hidup selalu dalam aktivitas perjalanan (don lako). Sebab, meka (tamu) selalu memaknai hidupnya dalam sebuah aktivitas perjalanan.

Don Lako: Sebuah Perjalanan Menjadi?

 Ketika hidup dimaknai sebagai sebuah aktivitas lako, maka pertanyaan yang muncul ialah, apa yang hendak dicapai atau diraih dalam lako? Akan ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa diberikan. Setiap orang bahkan dapat memberikan jawabannya masing-masing. Dalam tulisan ini, saya tidak ingin masuk dalam perdebatan jawaban yang beragam itu. Meskipun demikian, saya mencoba untuk menggali secara mendalam makna di balik ungkapan don lako di atas.

Bagi saya, don lako mengungkapkan keyakinan orang Manggarai tentang hakikat kehidupan sebagai sebuah aktivitas ‘menjadi’. ‘Menjadi’ merujuk pada tujuan atau finalitas yang ingin dicapai oleh setiap orang dalam hidupnya. Tujuan atau finalitas itu berkaitan dengan keutamaan-keutamaan manusiawi yang menjadi idealisme dalam hidup. Dalam poin ini, aktivitas don lako mau tidak mau harus dihubungkan kembali dengan 3 aktivitas lainnya yaitu: don ita, don bae, don pande.

Tiga (3) ungkapan terakhir menggambarkan secara jelas makna ‘menjadi’ dari aktivitas don lako. Sebagai sebuah perjalanan, maka tepat bila hidup itu dimaknai sebagai sebuah proses ‘menjadi’. Setiap orang, pasti akan selalu mengingini untuk senantiasa bertumbuh menjadi diri yang semakin baik dan bijaksana dalam peziarahan hidupnya. Setiap manusia juga pasti ingin agar hidupnya menjadi berguna bagi sesama. Akan tetapi, sebelum menjadi berguna bagi sesama, setiap pribadi harus menjadikan diri dan hidupnya lebih bermutu dengan segala keutamaan manusiawi yang ada padanya.

Menjadikan diri lebih bermutu dalam segala keutamaan manusiawi merupakan ungkapan yang nyata dari makna proses ‘menjadi’ dalam peziarahan don lako. Don lako pada gilirannya mengundang setiap orang, khususnya orang Manggarai untuk memaknai hidup selalu dalam proses ‘menjadi’ manusia-manusia unggul yang berkeutamaan. Sebab hakikat manusia sendiri selalu dalam peziarahan (homo viator). Berziarah bagi manusia berarti selalu siap untuk menjadi semakin baik dari waktu ke waktu.

Penutup

Hakikat manusia sebagai makhluk peziarah (homo viator) mengungkapkan dengan tepat identitas manusia yang selalu dalam perjalanan. Sebuah perjalanan untuk selalu ‘menjadi’. Bagi orang Manggarai predikasi homo viator bagi manusia terungkap dengan sangat jelas dalam ungkapan don lako. Don lako menggambarkan dengan sangat jelas hakikat hidup sebagai sebuah medan peziarahan. Sebagai sebuah peziarahan, maka hidup itu harus dimaknai sebagai sebuah aktivitas perjalanan.

Frasa don lako yang dimiliki oleh masyarakat Manggarai bertalian langsung dengan kesadaran akan identitas diri sebagai meka ata lejong. Sebagai meka ata lejong, maka tepat bila dikatakan bahwa hidup itu harus dimaknai sebagai sebuah aktivitas lako. Don lako adalah cara yang tepat untuk merealisakan diri sebagai orang yang dalam perjalanan. Perjalanan itu memiliki makna sebagai sebuah pencarian diri yang sejati agar terus bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan manusiawi yang utuh. Dengan demikian, setiap orang mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang berguna bagi orang lain.

=Selamat menikmati diri sebagai homo viator=

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *