Dukun: dari “Wara-Wiri” Hingga Penyebab Konflik Mentalitas Orang Desa

Tuhan adalah dukun terbaik. (Foto: dari Google)

 339 total views,  1 views today


 Yofan Bosko|Kontributor

Percaya terhadap dukun untuk menyembuhkan penyakit masih menjadi sebuah pilihan bagi sebagian orang desa. Dengan hanya menerka-nerka, sang dukun mencoba untuk mencari tahu apa penyebab dari sakit yang diderita sang pasien. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, terkadang hal ini justru menimbulkan berbagai prasangka yang kian menghantui. Jika prasangka yang mengerucut itu benar, mungkin bisa diselesaikan dengan baik-baik. Namun jika prasangka itu salah, siapa yang mau tanggung jawab?

Alkisah, ada orang sakit  di sebuah dusun yang termasuk dalam salah satu desa. Sakitnya memang sulit terdeteksi. Memang mendeteksi sakit itu mudah? Apalagi penyakit yang menyerang organ dalam. Sudah dibawa ke Rumah Sakit, dengan pertimbangan kemampuan keuangan tentunya, tidak juga memberikan tanda kesembuhan. Membawa ke dukun merupakan pilihan kedua, tentunya karena masyarakat yang masih memegang persepsi kuno ini memang menganggap dukun adalah solusi.

Bahkan ketika sakit sejak awal juga sudah pergi ke dukun. Tidak sembuh. Hanya dikasih kertas berisi huruf “kluwer-kluwer” di mana, kata dukunnya, kertas ini disuruh simpan di bawah bantal tempat tidur. Juga dikasih gula yang katanya sudah mengandung do’a dan mantra, lalu sesampai di rumah meminumkannya kepada sii sakit.

Sudah empat bulan ternyata sakit tidak kunjung sembuh. Akhirnya sudah empat dukun yang didatangi. Celakanya, dari keempat dukun, diagnosanya berbeda-beda. Sebenarnya bukan diagnosa, karena istilah “diagnosa” adalah istilah untuk menggambarkan tindakan menganalisa penyakit dengan metode ilmiah. Mulut keempat dukun, saya yakin, hanya asal “jiplak”.

Dukun yang satu bilang, katanya tanah yang ditempati rumah si sakit itu tanah yang jelek, sehingga jika ditempati penghuninya akan sengsara, jauh dari rejeki, dan mungkin juga sakit-sakitan. Padahal, dukunnya sendiri yang tempatnya jauh dari rumah keluarga yang sakit juga tidak pernah tahu tanah yang dimaksud.

Dukun kedua tidak bilang apa-apa. Ia tipe dukun yang agak menjauhi analisa spekulatif. Dia hanya memberikan mantra dan garam yang sudah “dijapani,” lalu menyarankan agar si sakit sering diberi minuman dari Kunyit dan Madu. Sebelum pihak keluarga pulang, ia juga menyarankan untuk rajinlah berdoa dan baca buku suci di rumah.

Dukun ketiga memberikan solusi yang agak unik. Ia menyuruh agar rumah penghuni yang sakit ditebari bunga tujuh rupa. Tentunya ia juga memberi gula yang sudah mengandung do’a di kamar kecil tempat ia praktik.

Yang paling parah adalah dukun keempat. Entah bagaimana ia bisa mengatakan bahwa penyebab sakit itu karena jengkel atau disebabkan oleh orang lain yang tidak suka atau benci. Bagaimana cara membuatnya sakit? Sudahlah, orang-orang sudah tahu soal mistik. Bagaimana mistik bekerja? Ya tidak tahu, tidak bisa menjelaskan.

Oleh karena itu, dengan gampangnya si dukun keempat ini memvonis bahwa sakit yang tidak sembuh itu dibuat oleh tetangganya. Tetangga yang mana? Kan banyak? Ada ratusan orang yang hidup di kampung Si sakit. Dukun ngawur itu sok kasih  kunci jawaban “Yang menyebabkan kamu sakit ini adalah tetanggamu, rumahnya menghadap ke utara!”

Coba ditanya, siapa yang dimaksud? Mengapa hanya dikasih tahu bahwa yang dimaksud adalah yang rumahnya menghadap ke utara. Di sinilah, si keluarga pasien yang datang ke dukun itu pulang dengan pertanyaan (menduga-duga). Dia pulang membawa tebakan bersama keluarganya, mulai  berimajinasi bersama mencari siapa kira-kira orang yang telah berbuat jahat kepada keluarganya hingga anggota keluarganya sakit parah.

Dukun keempat inilah yang telah menjadi penyebab munculnya rasa benci yang dicari-carikan alamat untuk menumpahkan kebencian. Prasangka-prasangka berkembang. Akhirnya, prasangka langsung mengerucut pada satu orang. Dengan kasak-kusuk ia mulai menyebarkan isu bahwa keluarganya dijahati oleh orang yang sudah diidentifikasi itu.

Tradisi barbar, kuno, tua, ini menjadi fenomena masyarakat kita. Menilai tanpa bukti dan data. Mengembangkan asumsi untuk menghibur dari rasa susah karena penderitaan yang tak tertangani. Bahkan mencari musuh untuk membangun solidaritas keluarga yang sedang mengalami derita hanya dari dasar prasangka dan masukan dukun bejat. Dukun yang hanya ala kadarnya menilai tanpa bukti. Ini modern cuiii, segala hal butuh fakta.

Ini sebenarnya satu kebiasaan buruk yang tanpa kita sadari menjadi karakter masyarakat kita, khusunya masyarakat di desaku yang peradabannya rusak atau jadi berubah entah karena apa. Karena gerak historis yang cacat dari bentukan sejarah yang panjang akibat penindasan elit feodal dan dominasi ideologi mistiknya, atau karena penindasan imperialisme yang merusak karakter dan mental.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati hidup di masyarakat yang penuh penilaian tidak objektif, kadang banyak gosip, dan seringkali tidak suka akan kejelasan dan kepastian atau yang suka mencari solusi dari spekulasi ngawur. Dukun adalah orang yang eksis karena dipandang punya otoritas, tapi otoritas yang dimilikinya sama sekali lahir bukan dari kemampuannya memberikan rekomendasi-rekomendasi ilmiah. Justru ia adalah orang-orang yang merusak peradaban dengan membuat dirinya dipuja oleh orang-orang yang punya masalah dan tidak bisa berpikir ilmiah.

Bahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah saja, soal di sekolah (ilmu pengetahuan), banyak orang yang pergi ke dukun. Si orangtua yang anaknya mau tes ujian nasional pergi ke dukun agar anaknya bisa mengerjakan soal ujian. Lucunya lagi, anaknya yang nakal juga dibawa ke dukun. Padahal penyebabnya karena orangtua tidak bisa mendidik dan lingkungannya tidak kondusif bagi perkembangan anak.

Akhirnya, kita tidak perlu takut. Yang perlu kita lakukan hati-hati dalam menjalani hidup dalam masyarakat sejenis ini. Karena bisa jadi, salah ucap atau salah bertindak, kita bisa disebut sebagai orang yang menjadi penyebab sakit atau penderitaan tetanggamu karena dikira mendatangi dukun dan minta dukun itu untuk membuat derita bagi orang lain. Sekian dan percaya Tuhan.

17 thoughts on “Dukun: dari “Wara-Wiri” Hingga Penyebab Konflik Mentalitas Orang Desa

  1. whoah this blog is fantastic i like studying your posts. Stay up the great work! You know, a lot of individuals are looking around for this information, you can help them greatly. |

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.