Econ Lebih ‘Jentel’ dari Kamu yang Katanya Berjuang tetapi Modal Chat Doang

Foto Econ terbaru.

 8,603 total views,  1 views today


Frumens Arwan | Tua Golo

Rasa-rasanya saya tidak bisa diam saja menyaksikan apa yang sedang geger di laman media sosial orang Manggarai. Apa dan siapa lagi kalau bukan kisah cinta seorang lelaki asal Manggarai bernama Econ. Kini ia menjadi buah bibir baik di Facebook, Instagram, TikTok maupun di WhatsApp. Bahkan, di beberapa media online lokal, kisah asmara lelaki ini menjadi clickbait yang cukup menggiurkan.

Pada era di mana apa saja dengan mudah direkam dan dibagikan, beberapa potong video yang mempertontonkan Econ dan kekasihnya menyebar bak virus. Tampak di video itu Econ berusaha membujuk kekasihnya di sebuah pelabuan di Kota Labuan Bajo.

Kita tahu, kisahnya kandas kendati dengan sekuat hati dan tenaga lelaki itu membujuk wanita pujaan hatinya untuk tidak pergi. Apalah daya, Kapal Tilongkabila membawa wanita itu pergi jauh. Sungguh sebuah adegan yang mencekam. Di sana terjadi perpisahan, air mata, penyesalan, bujuk rayu, semuanya membaur menjadi satu. Saya saja sedih melihatnya.

Atas kegemparan inilah, saya memilih menulis catatan ini. Sekadar lelucon lah. Tidak usah terlalu dibawa serius. Lagi pula kenapa kita mesti berantem juga kayak Econ dan kekasihnya itu?

Dari kejadian ini, rasa-rasanya ada satu hal yang terus-menerus mengganjal di benak saya: apakah tepat untuk sepenuhnya menyalahkan Econ? Setidaknya dari sebagian besar postingan Facebook dan WhatsApp yang saya baca, kebanyakan orang menuduh Econ sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ada yang bilang bahwa ia adalah cerminan lelaki yang tidak tahu bersyukur. Pinginnya yang enak-enak saja. Sebagian lagi malah mengatakan bahwa Econ mempermalukan kaum laki-laki. Walah, ada-ada saja Anda.

Memang, berdasarkan video yang beredar di situ jelas dikatakan bahwa Econ tidak bertanggung jawab. Entah apa persisnya yang lelaki malang itu telah lakukan, tetapi ketika kekasihnya itu menghilang (katanya begitu) ia bahkan tak mencarinya. “Menghilang”? Hufft, terkadang “menghilang” dan “menghilang supaya dicari” ini juga sukar dibedakan dan mudah dipermainkan.

Sekali lagi, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah apakah Econ seburuk yang orang-orang anggap itu? Bagi saya, Econ adalah sebuah kompleksitas. Tidak semudah itu menjatuhkan penilaian pada sosok ganteng dan berbadan kekar ini. Jadi, saya ingin mengomentari dua hal yang setidaknya telah luput dari penilaian orang.  

Pertama, sebagian besar penilaian terlalu tergesa-gesa untuk berhenti pada anggapan bahwa Econ salah. Econ berengsek. Kesimpulan lain kemudian akan segera menyusul: semua laki-laki sama saja. Sama-sama berengsek. Lagi-lagi laki-laki disalahkan.

Celakanya, dalam kisah perpisahan atau pertikaian semacam ini laki-laki adalah kaum yang sering dipojokkan. Entah sejak kapan dan karena alasan apa, biasanya hanya ada dua penilaian yang dijatuhkan, yakni antara salah dan sangat salah. Tidak lebih dari itu.

Lihat saja kalau ada yang melaporkan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kandasnya hubungan asmara, ataupun perselingkuhan, penilaian pertama orang-orang pasti: “Hmm, pasti biang keroknya adalah si lelaki sialan itu.”

Orang-orang akan dengan mudah percaya pada cerita perempuan ketimbang pada cerita laki-laki. Yakali ada lelaki yang dipukul istrinya. Yakali ada lelaki yang diperkosa kekasihnya. Begitulah orang-orang dengan cepat menjatuhkan penilaiannya.

Itulah kenapa  laki-laki adalah kaum yang sering disalahkan. Citra mereka adalah yang paling buruk. Apa-apa adalah salah mereka. Jaringan Telk*msel bermasalah, merekalah yang salah. Air PAM macet, merekalah yang salah. Makanya ada lirik lagu: “Orang yang naksir sa, ko tuduh sa.” Pencipta lagu ini kemungkinan besar adalah laki-laki.

Di lain pihak, tanpa bermaksud menyalahkan perempuan dan membuat sebuah generalisasi yang rancu, dalam kisah pertikaian semacam ini, kaum perempuan sering dianggap sebagai korban. Cerita mereka dengan mudah dipercaya, disebarkan dan dibela. Mereka dianggap sebagai korban dari semua hal buruk yang datangnya dari kaum laki-laki. Baidewai, cukup sampai di situ. Saya tak ingin gara-gara tulisan ini saya diputusi pacar yang cantik itu. Tidak kan, Enu?

Sebaliknya, saya ingin mengatakan bahwa tidak selamanya laki-laki itu salah dan juga tidak selamanya perempuan itu benar. Sebaliknya juga demikian. Tidak ada kodrat bahwa perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah.

Ingat kisah Amber Heard dan Johnny Depp? Itu adalah contoh terbaik untuk apa yang hendak saya katakan. Bahkan sampai di pengadilan yang dia tahu akan merugikan dirinya sampai triliunan rupiah pun perempuan bernama Amber Heard itu tak mau mengakui kesalahannya. Malahan laki-laki bernama Johnny Depp itu yang jadi korban. Apes sekali dah kau Joni!   

Maka, menganggap Econ berengsek dan semua laki-laki berengsek tanpa bukti apa-apa bisa jadi adalah kesalahan logika paling fatal di abad 21 ini. Setidaknya perempuan harus mencoba semua lelaki terlebih dahulu baru bisa mengatakan bahwa semua lelaki itu sama saja. Itu mustahil.

Kedua, bagi saya, Econ adalah cerminan lelaki yang pantang menyerah dan mau berjuang. Ia bukan lelaki sembarangan sebagaimana anggapan orang. Ia tidak menyerah begitu saja ketika kekasihnya itu meminta diri pergi.

Terlepas dari apakah ia salah atau tidak, setidaknya ia menunjukkan gelagat seorang lelaki baik. Dari video itu tampak bahwa ia berusaha menjelaskan segala sesuatunya secara baik-baik. Toh, meskipun pada akhirnya kandas, Econ setidaknya sudah berjuang semampunya. Bangga saya sama kamu, Con! Baidewai, katanya setelah kejadian ini beliau sudah menyandang status jomlo lagi. Ngeri-ngeri sedap!

Bagi Econ, mencari dan mempertahankan seorang wanita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang untuk menaklukkan hati seorang wanita, seorang lelaki perlu jungkir balik, berkelahi dengan waktu, masuk angin, kejang-kejang, dibentak mertua, bahkan dicaci-maki tetangga rumahnya.

Econ pun demikian. Ia tidak peduli dengan orang banyak itu. Ia tidak peduli dengan lelaki tegap berseragam tentara itu.

Terkadang juga akal sehat berbanding terbalik dengan level cinta seorang lelaki. Semakin dalam seorang lelaki jatuh cinta, semakin ia kehilangan akal sehatnya. Hmm, soal ini jangan sampai kamu gagal paham. Intinya, lelaki akan melakukan hal-hal tidak terduga semisal rela hujan-hujanan hanya demi mengantar kekasihnya ke suatu tempat yang jauh. Padahal, ketika bapak atau ibunya memintanya untuk sekadar ke dapur, malasnya bukan main.

Nahasnya, perkara berjuang itu sudah sering disalahartikan oleh sebagian besar lelaki. Modal chat doang (nanya udah makan apa belum, ingatin buat ibadah, ingatin buat mandi) katanya berjuang. Alarm juga bisa kalee. Modal sleep call doang katanya berjuang. Berjuang darimana, Bambang? Ini nih kenapa lelaki yang nemenin dia chatan setiap hari akan kalah sama lelaki yang jadi ojek dia setiap hari. Sudahlah, jadi ojek saja!

Nah, bagi saya, meskipun tilong telah memisahkan Econ dan kekasih cantiknya itu, setidaknya dia adalah lelaki yang jauh lebih jentel dari kamu-kamu yang katanya berjuang tapi modal chat doang. Cinta Econ mungkin kandas di pelabuhan, tetapi teladannya sebagai lelaki sejati takkan pernah lekang oleh waktu. Proud of  you kuat-kuat, Con!

11 thoughts on “Econ Lebih ‘Jentel’ dari Kamu yang Katanya Berjuang tetapi Modal Chat Doang

  1. Econ berjuang mmpertahankan wanita yg dicintainya, itu sangat bagus!
    Yg harus dikupas lagi adalah MENGAPA PUJAAN HATINYA ingin meninggalkanya??
    Itu artinya ada sesuatu yg “tidak baik” dari seorang Econ. Dan akhirnya si wanita memilih untuk pergi.

    1. Mungkin pujaan hatinya ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi , tidak mungkin kalau hanya datang cari kerja di Bali*

      1. Untuk kae Econ,banyak² bersabar mungkin si enu bukan jodoh kae,kalau memang jodoh pasti akan bertemu lagi dilain waktu,…saya salut dengan kae econ yang berjuang membujuk si enu untuk batal ke bali walaupun sia-sia*

        “Cinta Kae Econ Kandas di Ujung Dermaga”

  2. Econ berjuang mmpertahankan wanita yg dicintainya, itu sangat bagus!
    Yg harus dikupas lagi adalah MENGAPA PUJAAN HATINYA ingin meninggalkanya??
    Itu artinya ada sesuatu yg “tidak baik” dari seorang Econ. Dan akhirnya si wanita memilih untuk pergi.

  3. Diksi yg sangat sangat bagus kae… Ini pelajaran buat kita kita… Jangan menilai seseorang dari keterangan sepihak sj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.