Elar Selalu Bahagia Meski Malam Hanya Berteman Pelita dan Sundaya

 1,265 total views,  1 views today


Krisan Roman|Redaksi

“…Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini... Kira-kira demikian penggalan lirik dalam reffrein lagu bertajuk Rumah Kita yang dipopulerkan oleh grup band legendaris kenamaan Indonesia, God Bless. Penggalan lirik tersebut rasanya cocok sekali bagi saya, anak muda tamfan maksimal yang mencintai Elar, –kampung yang terseok-seok, merangkak lamban di tengah kemajuan dunia yang serba cepat– sebagai rumah yang paling nyaman untuk ditempati sampai kapan pun. Kalau boleh meminjam kalimat rakat hits, “Itu lagu macam kek sangaja God Bless buat untuk sa. Itu lagu sa sekali e!” begitu.

Elar merupakan salah satu kecamatan tertua di Kabupaten Manggarai Timur, bahkan keseluruhan Manggarai Raya. Berpusat di Lengko Elar, kecamatan yang sudah memekarkan wilayahnya sebanyak dua kali ini (Kecamatan Sambi Rampas dan Elar Selatan) adalah rumah yang menyimpan banyak kenangan dan kenyamanan bagi saya.

Menyandang status kecamatan tua nyatanya tidak serta merta membuat Elar lebih maju dibanding kecamatan lainnya di tanah Lawe Lujang. Meski telah memperoleh status kecamatan sesaat setelah berakhirnya zaman kerajaan atau Dalu, rasa-rasanya tanah leluhur saya ini masih kalah maju dari kecamatan-kecamatan lain; terkesan dianaktirikan pemerintah, bahkan bisa dibilang menjadi kecamatan terbelakang secara pembangunan. Yang lebih menyedihkan, tahun 2019 lalu beberapa bidang wilayah kecamatan yang merupakan warisan leluhur Manggarai Raya ini malah dilepas begitu saja oleh ‘ehem-ehem’ ke kabupaten tetangga; Ngada. Huuffft.

Salah satu yang paling mencolok adalah soal listrik. Sampai tahun 2012, Elar menjadi satu-satunya kecamatan di Manggarai Timur yang belum mendapatkan fasilitas berupa pelayanan listrik dari negara. Baru setelah tahun tersebut, puji syukur kepada Tuhan, Kecamatan Elar Selatan yang dimekarkan pada tahun yang sama, lahir sekaligus menemani Elar, kakanda tercintanya pada predikat tanpa listrik ini. Hiya hiya hiya.

Saya paham bahwasannya tidak semua kecamatan di Manggarai Timur, wilayahnya 100% dialiri PLN. Tapi paling kurang di kecamatan lain ada desa atau kelurahan tertentu yang sudah dijamah fasilitas negara tersebut. Sederhananya, di kecamatan lain ada desa dan kelurahan yang mewakili lah ya. Sedangkan di Elar? Thydack adhaa shama skaley, Papa Dede! Thydack adhaa!

Di zaman yang serba maju seperti sekarang ini, listrik menjadi salah satu aspek vital dalam kehidupan manusia. Segala sesuatu tiap harinya memerlukan listrik sebagai fondasi. Mengisi daya pada handphone misalnya, menonton televisi, atau untuk menghidupkan kipas angin kalau-kalau sudah kepanasan mendengar ocehan tetangga, semua butuh listrik. Iya toh, Kes? mana mungkin kau cas hape di batang pisang peh. Atas dasar itu, kami sangat merindukan kehadiran PLN di Elar. Saya pikir sah-sah saja kalau saya bilang menjadi orang Elar yang “tanpa listrik” di zaman ini, tidak keren. Tidak bisa online setiap waktu karena lowbat, atau tidak bisa bebas main play station saya pikir adalah dua dari beberapa ciri ke-tidak keren-an kaum muda zaman now.

Lepas dari perkara keren atau tidak, yang paling dirasakan sebagai dampak ketiadaan listrik ini adalah minimnya penerangan pada malam hari. Beda dengan pusat kecamatan lainnya, Elar hingga kini masih gelap gulita saat malam. Dahulu, sekitar awal tahun 2000-an, ada satu jenis lampu yang biasa digunakan pada tiap-tiap rumah di Elar yakni Lampu Patromax atau yang lebih dikenal dengan Lampu Gas. Lampu yang biasa mas-mas penjual nasi goreng di Jawa pake tuh kah, Kes, tapi bedanya kalau orang Jawa yang pake, lampu ini nyala dari gas, sedangkan di Manggarai umumnya dan Elar khususnya lampu ini dapat digunakan apabila stok minyak tanah cukup. Konon, mereka yang punya lampu gas hanya orang-orang yang ekonominya lumayan baik, jadi tidak semua rumah punya lampu gas. Kami yang tidak punya benda ini, mau tidak mau harus bertahan dengan lampu pelita dan listrik tenaga surya yang biasa kami sebut dengan nama Sundaya. Itupun sundaya baru masuk sekitar tahun 2012. Sebelum itu, pelita adalah satu-satunya tumpuan harapan kami selain Cahaya Kristus.

Golongan pemakai lampu gas saat ini mulai berkurang drastis karena mereka sudah membeli generator set sebagai gantinya. Seperti di zaman lampu gas, generator set akan menyala sekitar pukul 17:30 kemudian dimatikan paling lambat pada pukul 00:00. Maklum biaya bahan bakar dan perawatan yang ditanggung sendiri oleh pemiliknya seolah mengharuskan mereka untuk menghemat sejumlah pengeluaran, termasuk membatasi durasi waktu lamanya generator set digunakan dalam sehari. Setelah generator set dimatikan, cahaya pelita dan sundaya-lah yang menemani hingga pagi. Oh ya, mereka yang memikiki generator set, tetap menyimpan sundaya dan pelita di rumahnya. Jadi bisa disimpulkan kalau semua golongan di Elar sebenarnya lebih akrab dengan cahaya pelita dan sundaya.

Gelap-gelapan saat malam sudah biasa bagi kami. Tertawa bahagia bersama keluarga walau hanya diterangi cahaya sundaya, adalah hal lumrah yang teramat menyenangkan. Kami bisa punya lebih banyak waktu obrol bersama keluarga di malam hari, tidak seperti orang-orang di luar sana yang justru sibuk menonton televisi. Bangun tidur dengan bekas hitam asap pelita yang menempel di sekitar lubang hidung adalah pemandangan lucu yang wajib bagi kami setiap paginya. Kau belum pernah rasakan sensasinya, toh? Sesekali main dan menginaplah di Elar!

Pun karena minimnya penerangan, situasi seolah memaksa kami mengembangkan bakat yang tidak dimiliki banyak orang. Kami jadi bisa memisahkan tulang ikan kering dari dagingnya meskipun gelap. Kami pandai memastikan air yang dituangkan dari teko ke dalam gelas tidak tumpah ke luar karena terlalu penuh, walau saat gelap juga. Dengan keadaan pasrah, kami tetap bersyukur karena tidak gampang termakan hoaks atau berita palsu. Ya, karena kami sudah bosan dengan janji. Hampir setiap tahun kami mendengar kabar bahwa di tahun berikutnya PLN akan masuk ke sini. Setiap tahun begitu; tahun ini janjinya tahun depan, tahun depan janji tahun depannya lagi, begitu terus sampai matahari terbit dari selatan. Setiap ada yang berjanji, kami hanya pura-pura percaya saja agar orang tersebut senang. Tapi bo’ong! Hahaha. Biar kami sama-sama kena bo’ong. Dia bo’ong kami, kami bo’ong dia. Rasa su dia tuh! Biar dia ju tau kah bemana sakitnya dibo’ongi.

Namun, walau kami merindukan kehadiran listrik negara, jangan pernah berpikir bahwa kami tidak bahagia. Kami sangat menikmati kehidupan yang menyenangkan di Elar dan sedikit punya rasa tidak peduli kalau-kalau situasi seperti ini akan berkepanjangan. Meski banyak yang tidak betah untuk tetap tinggal, kami sebagai generasi penerus yang merasa memiliki dan punya tanggung jawab terhadap tanah ini akan setia untuk tetap tinggal di sini, mencintai dan menjaga tanah ini sampai kapan pun. Bagi kami, bahagia adalah ketika siapa saja berada di rumah, tidak peduli seburuk apa rumah itu di mata orang lain.

Elar adalah rumah yang nyaman bagi kami. Di mana pun kami berada, Elar selalu ada di dalam dada. Sejauh mana pun langkah kaki membawa raga pergi, Elar adalah alasan kami kembali.  Lantas kalau sudah nyaman di sini, haruskah kita beranjak ke kota, yang penuh dengan tanya?

1 thought on “Elar Selalu Bahagia Meski Malam Hanya Berteman Pelita dan Sundaya

  1. Masalah ketidakadilan pembangunan masih menjadi isu mencolok di wilayah timur Indonesia. Bukan hanya wilayah Elar, wilayah lain di Manggarai Raya ini juga masih banyak yang tidak mendapatkan kue pembangunan yang vital seperti jalan raya dan listrik. Apa daya, kita hanya bisa mengelus-elus dada! Ko co’on ta kes?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.