Felix K. Nesi dan Rindu Yang Bernama “Sopi Kepala”

Sumber Foto: buruan.co

407 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Saya pernah bertemu Felix K. Nesi (:Felix). Pertama, melalui tulisan-tulisannya. Kedua, bertemu langsung di Kupang. Ketika membaca tulisan-tulisannya, saya bertemu dengan ide dan imajinasi Felix yang bernas. Ketika berbincang-bincang, saya bertemu dengan Felix yang supel, kritis dan penuh canda. Itu kesan singkat saya terhadap salah satu sastrawan termasyhur di NTT itu.

Dulu Felix adalah seorang distributor buku sastra dan buku bagus lainnya. Sekarang Felix menjadi penulis buku dan dinobatkan sebagai sastrawan NTT yang brilian. Tidak tanggung-tanggung, karyanya mendapat penghargaan nasional-Pemenang Sayembara Novel DKJ 2018. Di antaranya karya sastra berjudul “Usaha Membunuh Sepi” (Pelangi Sastra, 2019) dan “Orang-Orang Oetimu” (Marjin Kiri, 2019). Ia juga sedang menyiapkan kumpulan cerpen terbaru berjudul “Kode Etik Laki-Laki Simpanan”. Felix memang mengagumkan.

Di antara distribusi buku dan menulis buku, ada rindu yang mendera Felix. Pertemuannya dengan rindu berujung pada sepi. Sepi tapi tak sebatang kara. Sebab ada ide yang terus menari-nari di kepalanya. Ada imajinasi yang terus menarik syahwat Felix untuk terus menulis.

***

Saya membaca rindu itu pada salah satu cerpennya berjudul “Usaha Membunuh Sepi”. Ada banyak cara untuk membunuh sepi tetapi itu tak bisa menghilangkan rindu. Rindu selalu datang meski sepi itu pergi. Kadang rindu menjumpai dirinya sendiri meskipun berbagai kesibukan datang bertubi-tubi.

Cerpen “Usaha Membunuh Sepi” itu berkisah tentang romantisme pacaran pemuda-pemudi yang berbeda tempat dan terus dirundung macetnya komunikasi intim. Penggunaan alat komunikasi handphone harus macet karena urusan signal.

Tokoh “aku” harus bersusah payah menghilangkan nyilu sepi yang terus ia rasakan. Dasarnya rindu. Mengutip syair Amir Hamzah, “Aku manusia/Rindu rasa/Rindu rupa” pada puisi “Padamu Jua”. Sebagai pemuda, si “aku” rindu pada kekasihnya. Ia rindu rasa sayang melalui ucapan, sentuhan, kecupan dan juga dekapan. Ia rindu melihat rupa wajahnya yang (mungkin) terus hadir di halaman pikirannya.

Ketika “rindu rasa” itu terucapkan, rasa itu mengalir secara terstruktur, sistemik dan massal di sekujur tubuh. “Meski lewat SMS, kata-kata rindumu adalah ramun dalam sopi kepala. Ia menguatkan, sekaligus memabukan” (halaman 30). Dengan membaca SMS, si “Aku” membiarkan matanya melihat wajah kekasihnya berbicara.

Rindu memang menguatkan. Itu membuat orang yang dirindukan merasa bahagia dan senang (joissance). Tetapi rindu juga membuat orang “melengkung” karena terus menimbulkan rindu. Mabuk. Seperti rasa sehabis meneguk sopi kepala- minuman beralkohol racikan masyarakat lokal di Timor.

Rindu si “aku” tak terbalas tuntas. Rindunya terkastrasi sebab kekasihnya harus meninggalkannya. Yanti akan pergi karena ibunya meninggal di negara lain, Timor Leste. Ia pergi dengan waktu tak tentu ia akan kembali. Sebentar atau selamanya, entalah!

Atas kepergian Yanti kekasihnya itu, pertemuan sebagai ujung rindu, mengutip penyair Maria Rainer Rilke, “Di mana hasrat berhimpun dan hasrat tertegun” (:penerjemah Goenawan Muhamad, 2016) harus pupus. Rindu pun siap meleleh dan beranak-pinak. Semua itu sebab cinta yang menubuh butuh asmaratura: saling pandang.

Hingga di ujung cerita, Yanti tak terlihat. Tak ada asmaratura, hanya asmaraturida: berbicara (via handphone) . Si “Aku” merana. Sepi itu timbuh seribu. Jutaan sepi siap menggerang. Rindu semakin nyilu di dada. Ilusinya tentang Yanti menepi pada serpihan-serpihan perkakas di kamar kekasihnya. Ia merasa kehilangan setelah benar-benar kehilangan. 

***

Sekarang, Felix kehilangan sepi. Popularitasnya menimbulkan permintaan dan tanya: minta kehadiran dan menjawab tanya soal proses kreatif. Handphone-nya pasti terus berdering. Semua itu ada hubungannya dengan “pacarnya”: karya sastranya.

Tak ada lagi usaha membunuh sepi. Ia mencari sepi. Dalam sepi itu ia menjamah imajinasi dan meraba kata. Ide berkembang dalam sepi. Kata penyair Joko Pinurbo, “ide atau suasana ini sifatnya sesaat, tak tergantikan, tak bisa diulang. Supaya tidak menguap, ide atau sausana yang menggelitik itu harus secepatnya diabadikan” (Majalah PUSAT, Nomor 9 Tahun 2015). Seperti penciptaan puisi, cerpen, novel dan karya sastra lainnya dimulai dari ide. 

Tentu karena sastra adalah pekerjaan sepi. Dalam sepi, ide mengalir, imajinasi berkembang. Jadilah karya sastra. Sastra menjadi abadi karena ia ditulis. Sastra bukan saja ditulis dengan senyum, tetapi juga dengan lapar dan darah. Felix pasti tahu bagaimana rasa lapar itu ikut terurai dalam kata yang lantas jadi cerita.

Lagi, rindu itu juga seperti rasa lapar yang harus dikenyangkan. Selama rindu itu masih ada, sastrawan masih terus berkarya. Tetapi penulis cerpen, penyair dan novel terus menulis bukan karena lapar, melainkan karena rindu pada keadilan, keindahan dan keabadian.

Dalam menulis sastra, Felix rindu pada semua itu. Sebab ia percaya pada “Pesan Kakek” (puisi Felix K. Nesi di Koran Tempo, 14/12/2014): “… Aku percaya pada cita-cinta dan/Apapun yang tak pernah dituliskan Tuhan”. Meskipun ia tak lagi menulis puisi dan merasa gagal sebagai penyair (buruan.co, 15/2/2019), Felix K. Nesi tetapi bersyair tentang kehidupan melalui karya-karyanya.

Salam sopi kepala, sobat!

Penulis: Alfred Tuname|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *