Galau Pasca Kuliah

Sumber Foto: sinarharapan.net

337 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Pendidikan merupakan lini terpenting dalam kehidupan manusia, tanpa pendidikan mustahil kalau hidupnya baik. Bagi setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi pasti pernah mengalami bagaimana sulitnya menyusun skripsi. Hal yang paling sakit adalah ketika pembimbing tidak mengoreksi dan menyimpan tulisan lebih lama lalu waktu bimbingan banyak tulisan yang dicoret; pokoknya banyak hal yang paling menyakitkan, belum lagi di putus pacar karena tidak menghiraukannya, mandi dan urus kerapian diri pun seringkali diabaikan karena malam adalah teman yang baik dalam menyusun tugas akhir.

Hal yang paling gembira adalah ketika tulisan kita di ACC oleh pembimbing dan dilanjutkan dengan sidang skripsi, aduh bahagianya minta ampun, toe suan. Setelah sidang skripsi usai, badan serasa sembuh dari kanker stadium empat, kerapian yang sempat ditinggalkan kini mulai neces. Setelah sekian lama, tugas akhirpun lunas dan tuntas terbayar, beban di kampus musnah dalam suka cita gembira. Hal yang paling ditunggu adalah wisuda, momen wisuda merupakan suatu kebahagiaan bagi pejuang skripsi, juga bagi kedua orang tua dan keluarga yang sudah menitipkan anaknya untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Bagaimana tidak beban ongkos kuliah sudah dibebaskan. Syukur puji Tuhan.

Hari wisuda tiba, kebahagiaan kembali bersinar karena keluarga menyaksikan anaknya memakai toga. Kemegahan dan kemeriahan menari-nari di atas puncak suka cita. Di sela-sela kebahagian foto bersama merupakan bagian terkecil dan berharga yang akan menjadi kenangan di hari tua dan  akan di pajang di ruang tamu rumah, sebagai tanda bahwa di rumah ada yang telah usai mengenyam pendidikan strata satu. Aduh… bangganya anak mama bisa wisuda, hehehe.

Kami di Manggarai biasanya setelah seremoni dan pemindahan tali toga selesai, pulang rumah pasti disambut dengan acara syukuran dan ramah tamah yang sudah dirancang seminggu sebelum wisuda. Di tengah kemeriahan acara syukuran terlintas di benak mengenai pekerjaan, apakah dunia pekerjaan bisa menerapkan saya di lapangan kerja? Pikiran kembali merumit.

Sehari setelah wisuda selalu dicerca dengan pertanyaan, nana kerja nia poli ho’o ga, kepala pun pusing, senyum adalah jawaban yang paling sejuk di balik rumitnya pikiran.

Mengawali karir tak hanya cukup dengan modal ijazah akan tetapi keterampilan menjadi modal utama. Bro supaya kamu tahu mencari pekerjaan di Manggarai tidaklah gampang, ketersediaan lapangan kerja tidaklah cukup untuk menampung ribuan wisudawan/wisudawati.  Apalagi lowongan dari beberapa tempat yang di bawah naungan pemerintah informasinya tidak terbuka untuk umum, sehingga penerapan tenaga kerja diambil dari keluarga sendiri atau kami orang Manggarai biasa sebut sistem Manga ata one (Mao). Jadi, bersyukurlah orang-orang yang mempunyai keluarga pegawai. Proses perekrutan tidak melihat latar belakang pendidikan  yang terpenting saja manga ata one dan pasti kamu masuk walaupun ada tes tertulis dan tes wawancara itu hanyalah formalitas semata, hasil kerjanya pun juga gitu-gitu aja. Terkadang kebutuhannya teknik sipil yang di rekrut besiknya guru sehingga jangan heran kalau kualitas kerjanya tidak bagus.

Galau memikirkan kerja pasti pernah dialami oleh setiap orang yang pernah menganggur pasca diwisuda. Ada beberapa teman saya mulai gabung di grup lowongan kerja di media sosial dan berharap ada lowongan sehingga 24 jam selalu  berada di beranda medsos, tak jarang juga setelah kuliah ada sebagian orang memulai karirnya dengan wirausaha itupun bagi teman-teman yang memiliki modal yang cukup ataupun modalnya pinjam di koperasi, dari beberapa pilihan di atas keputusan yang paling menyedihkan adalah merantau, ada yang mengadu nasibnya di Bali, Jakarta, Kalimantan, papua dan bahkan di Malasya.

Fenomena ini seperti sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di Manggarai dan NTT pada umumnya, merantau adalah pilihan terakhir bagi setiap orang yang bingung karena lapangan pekerjaan tidak ada. Di sisi lain, pemerintah yang pada saat kampanye selalu menjanjikan lapangan pekerjaan tapi pada realisasinya tidak ada, apa salahnya kalau ABPD sebagiannya dianggarkan untuk modal usaha bagi para pemuda yang siap kerja dari pada kelompok usaha di Manggarai di kuasai oleh orang-orang dari luar Manggarai. Jadinya masyarakat Manggarai menjadi asing di negeri sendiri. Merantau jauh lebih sedih dan menyakitkan daripada menyusun tugas akhir. Ya, begitulah nasib kami sebagai orang Manggarai. Bagi yang masih kuliah dan lebih khusus yang tidak punya keluarga dalam kabinet pemerintah daerah, saya lebih dulu mengucapkan selamat datang di barisan anak rantau yang galau. Hahaha.

Sekian

Salemba Jakarta, Juli 2019

Penulis: Juito Ndasung|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *