Gara-Gara ‘Moke’

334 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Ia terhuyung-huyung menaiki tangga setelah berusaha keras dengan kesadaran yang masih tersisa untuk sampai di rumah. Sepanjang perjalanan pulang Ia sempoyongan meski telah Ia kerahkan kemampuan kakinya yang pincang untuk terlihat kokoh dan gagah ketika melangkah. Ia tak lagi ingat berapa liter ‘moke’ yang mengisi perut gentongnya.

Hari telah subuh ketika Ia pulang melewati lorong-lorong bersemen hasil bantuan Pemerintah Desa yang telah berlubang di sana-sini. Lampu-lampu penerang di sisi lorong telah padam berbulan-bulan. Sebagian neon telah tanggal dan berpindah di sudut rumah aparat desa. Maka Ia melangkah dengan sangat hati-hati dalam gelap. Jangan sampai Ia terjerembab akibat salah pijak, sebab dengan tubuh begitu tambun muskil jika Ia tak menimbulkan bunyi debum jika terjatuh.

Pikirnya meski dalam keadaan mabuk berat, tak elok jika orang-orang di sisi lorong terbangun dari tidur nyenyaknya akibat debum yang ia hasilkan jika terjatuh. Selain itu, Ia tak ingin erangan-erangan erotis yang timbul tenggelam di sisi lorong lantas padam seketika, manakala ada bunyi mencurigakan di luar. Ia akan merasa berdosa jika harus menunda orgasme pasangan yang sedang membikin anak.

Ia telah membulatkan tekad sesaat sebelum beranjak dari kursi di tenda pesta bahwa Ia harus tiba di rumah sebelum pagi datang, sebelum matahari merekah. Sebab sebelum-sebelumnya, tiap kali ada hajatan di kampung, Ia selalu tiba di rumah ketika matahari telah tinggi. Tentu dengan ‘oleh-oleh’ yang ia bawa; kepala berdenyut hebat, mata merah, bercak bekas muntahan dari kerah hingga ujung baju, dan mulut beraroma alkohol yang membikin hidung orang-orang di rumah kembang-kempis.

Yang lebih memalukan Ia pernah dibangunkan oleh ‘air hangat’ yang tiba-tiba memerciki mukanya. Ketika membuka mata ia masih sempat melihat burung kecil kecoklatan yang masih tertutup kulup dengan air mancur kecil meluncur deras ke mukanya. Terkaget-kaget, Ia memaki-maki dengan gusar. Beberapa detik setelahnya, suara cempreng dan polos terdengar tak jauh dari tempat ia tidur.

“Jangan marah Om, sa ti tau kalo ada orang di situ. Sa su tahan kencing setengah mati dari tadi jadi sa kencing saja di situ, Om.”

Dengan kesadaran yang belum benar-benar pulih, Ia terheran-heran bisa berada di dalam got kering di pinggir lorong. Ajaibnya, tubuhnya muat dengan posisi berbaring menyamping. Masih memaki-maki, Ia bangkit dengan susah payah, dengan badan kuyu dan wajah terasa hangat. Ia ingin mengejar dan menghajar hingga bonyok bocah tengil yang telah mengencinginya. Apa daya yang Ia lihat adalah warna samar-samar merah putih di kejauhan. Sambil menatap perut dan kakinya ia membatin, “ya sudahlah, tak mungkin lagi terkejar.”

Pernah pula Ia tersadar dari tidurnya di suatu pagi ketika jago sedang ramai-ramainya berkokok. Tentu saja masih dalam keadaan mabuk. Ia kaget bukan kepalang manakala melihat pendar cahaya tak jauh dari tempat Ia tidur. Setelah beberapa saat mengamati Ia tahu bahwa itu adalah cahaya lilin. Dengan pengamatan yang lebih seksama akan keadaan di sekitar, kesadarannya pulih seketika.

Ia berada di area pekuburan kampung, sesaat yang lalu terlelap di atas kuburan, dan saat ini sedang duduk berselonjor di atas kuburan dari ubin berwarna pucat. Ia yakin air mukanya pun telah pucat saat itu. Mabuknya telah sirna, barangkali ikut terkubur bersama ratusan peti mati yang terbenam dan bersemayam di perut bumi. Sadar akan posisi duduknya ia membetulkannya dengan duduk bersila. Segera tangan kanannya membuat tanda salib dan doa satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria segera ia daraskan. Tak lupa pula ia meminta maaf kepada sang empunya kuburan, karena telah beberapa jam Ia ‘meminjam’ kuburan itu sebagai ranjangnya.

Petang hari ketika lonceng tanda Angelus berdentang, Ia telah menyalakan dua belas batang lilin di kuburan itu.

Setelah terhuyung-huyung dan nyaris merangkak menaiki tangga Ia membuka pintu. Ia agak terperanjat karena pintu tidak terkunci dan hari masih gelap. Yang ada di benaknya dan segera Ia lakukan ialah tidur. Ia lantas tenggelam dalam mimpi. Bercinta dengan anak gadis Pak Babinsa yang aduhai cantiknya. Mereka bertetangga dan Ia tak terlalu suka kepada Pak Babinsa yang biasa menghajar  remaja-remaja labil yang suka bikin onar, anak-anak sekolah yang kedapatan bolos, merokok, dan minum ‘moke’ hingga mabuk. Ia hendak mencapai klimaks ketika teriakan histeris memupus orgasme di dalam mimpinya. Berdiri di hadapannya dengan handuk meliliti badan, anak gadis Pak Babinsa yang aduhai. Wajah gadis itu syok dan teriakan histerisnya semakin menjadi-jadi.

Mereka di kamar mandi milik keluarga Pak Babinsa. Ia belum begitu sadar dari mabuknya dan sesaat membeku. Matanya segera memandangi sosok aduhai di hadapannya yang sedang ketakutan. Ingin Ia peluk dan menenangkan gadis itu. Ia tak ingin gadis pujaannya ketakutan. Masih memandangi gadis itu sambil memanfaatkan waktu sepersekian detik untuk memuja sang gadis  lewat tatap, tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Seolah-olah air kencing bocah SD waktu itu masuk ke mulutnya namun tertahan di kerongkongan. Sekonyong-konyong wajah bengis Pak Babinsa yang berkumis tebal dan suka menyiksa terlintas di pikirannya.

“Mampus sudah saya gara-gara ‘moke’ sialan! Eh, bukan ‘moke’-nya, tapi sayanya yang sialan”, umpat dia sambil berlari terbirit-birit ke rumah meninggalkan gadis pujaannya.

*Moke : arak khas Flores.

Penulis:Juan Cromen | Meka Tabeite |

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *