Gejur De Covid-19, Bikin Mensia Seumpama Dengan Manuk Kina Udeng One Potang

Terkurung dan tak berdaya di hadapan virus yang mematikan (Sumber foto: Google)

 274 total views,  1 views today


Markus Makur|Kontributor

Desember 2019, Virus Corona melanda Wuhan, China. Banyak kisah awal penularan Covid-19 yang bersumber dari binatang liar, burung kalong, kelelawar, yang dijual pasar rakyat di Wuhan. Benarkah demikian? Entahlah. Semua manusia bisa berprediksi dan mengalihkan segala isu yang melemparkan tanggung jawab kepada makhluk lain.

Saya berpikir bahwa makhluk lain yang sama-sama hidup di alam saling melengkapi, saling bersahabat, bersaudara, perbedaannya adalah manusia makhluk berakal dan berinsting. Sedangkan makhluk lain hanya memiliki insting. Mereka memakai insting untuk menyerang tatkala tempat atau habitat mereka diganggu. Mungkin insting Corona virus disease keluar karena tempat berlindung diganggu oleh makhluk yang disebut manusia.

Dari Wuhan terus menular di seluruh Negara China hingga penularannya sangat cepat di seluruh dunia. Menular kepada tubuh manusia yang rapuh. Virus yang tak dapat dilihat oleh mata, hanya bisa dilihat di mikroskop. Mikroskop dibuat manusia. Apakah virus ini juga dibuat manusia? Entahlah, hanya Tuhan dan alam yang tahu.

Hingga di tempat saya tinggal sekarang ini, tidak luput dari penularan Virus Corona ini. 1 tahun 7 bulan, hingga, 21 Juli 2021, penularan virus ini terus meningkat dari satu detik ke menit, ke jam, selama 24 jam. Hari, minggu, bulan bahkan tahun, belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Apakah manusia kalah dengan virus Corona ini? Entahlah. Hanya Tuhan dan alam serta manusia itu yang mengetahuinya. Seleksi alam akan terus berlangsung dalam kehidupan manusia.

Gejur (gara-gara) de Covid-19 ini bikin mensia (manusia) seumpama dengan Manuk Kina (Ayam Betina) yang udeng one potang(Terkurung dalam sangkar) untuk mengeram agar telurnya menetas. Kalau saya belajar pengalaman dari proses telur ayam menetas, ada telur yang berhasil menetas dan ada juga yang tidak menetas. Manuk Kina menghangatkan seluruh telur yang berada di potang, sangkar yang terbuat dari rotan atau bambu halus. Mensia memakai istilah yang di bahasakan oleh mensia itu sendiri, karantina, isolasi mandiri (Isoman). Kalau Manuk Kina mengeram agar telurnya menetas butuh beberapa minggu. Manuk Kina hanya ada dalam potang. Makan sedikit, hanya sesekali turun ke tanah untuk mencari makanan, selebihnya berada dalam potang saja sampai telurnya menetas.

Kemungkinan orang yang isolasi mandiri di rumah atau melaksanakan karantina terpusat hanya berada di kamar, makanan dihantar oleh petugas dan sesekali oleh keluarga dengan kewaspadaan super ketat dengan protokol kesehatan.

Tidak ada yang luput dari penularan Covid-19. Lengah sedikit, virus masuk sampai ke pusat tubuh manusia yakni paru-paru. Kekebalan tubuh sebagai ‘paru-paru tubuh’ dijebol dengan sepakan yang sangat tajam, kejam dan tak terlihat oleh mata manusia. Virus masuk bersamaan dengan udara kotor. Masuk lewat hidung, mulut, turun ke rongga dada, menyerang tenggorokan, rongga dada hingga menyerang paru-paru. Mungkin virus ini menularnya lewat saluran saraf atau saluran pernafasan. Sebab apabila menyerang paru-paru maka butuh oksigen untuk menangkalnya agar virus di pompa keluar dari sarangnya. Begitu virus Corona masuk di paru-paru maka tunggu kabar maut menjemput dengan tidak manusiawi.

Virus Corona tidak pernah menyesal membunuh manusia dengan cara sangat kejam. Bahkan tidak ada pengadilan memvonis Virus Corona, walaupun penularannya yang tak pandang status, usia, golongan, jabatan, beriman atau tidak beriman, beragama atau tidak beragama. Mungkin ini bagian dari genosida global. Karena kalau perang maka akan ada negara yang dituduh genosida, ada penjahat perang diadili di Kantor Pengadilan Internasional. Siapa manusia didunia yang bisa berani menggugat virus Corona?

Seleksi alam yang membalas perbuatan virus ini. Mungkin virus ini belum puas membunuh manusia lewat penularannya.

Barangkali ini cara alam untuk memulihkan dirinya bersama makhluk lain yang memiliki insting karena makhluk berakal tak bisa dikendalikan dengan cara halus, cara banjir bandang, bencana alam dan lain-lainnya. Ada virus lain yang mengingatkan manusia untuk sadar atas perlakuannya terhadap alam sebagai tempat berpijak, berinteraksi dan lain-lainnya.

Alam itu diam, tenang, tapi, ketenangannya selalu terganggu dengan perilaku manusia yang memanfaatkannya dengan tidak bersahabat.

Virus ini Menular Tanpa Pandang Status Sosial. Orang baik dan jahat, menurut ukuran manusia. Orang benar dan salah sesuai pandangan manusia, orang berdosa dan saleh sesuai apa yang dilihat manusia, ditularkan oleh Virus Corona 19

Terima Kasih Covid-19

Rabu, 21 Juli 2021, waktu di hand phone android sudah menunjukkan pukul 18.00 Wita (jam 06.00 sore). Saya bergegas dari tempat duduk di sudut rumah dinas Kantor Kecamatan Kota Komba di kompleks Mabako, Kelurahan Watunggene. Waktunya untuk membersihkan diri. Mandi di kamar mandi yang berdindingkan seng yang terletak di belakang dapur.

Wabah Covid-19 terus melanda warga di tempat saya tinggal saat ini. Setiap hari warga terus terpapar Covid-19 dengan hasil rapid test antigen, walaupun saat ini bumi sedang dilanda dengan cuaca dingin yang sangat ekstrim sesuai prediksi BMKG bahwa bumi sedang jauh dari matahari.

Sebelum saya mandi, saya duduk di kamar mandi, terbersit dalam pikiran manusiawi saya untuk menyampaikan “terima kasih Covid-19”. Pikiran itu muncul begitu saja dalam imajinasi. Memang manusia adalah makhluk berimajinasi karena kekuatan akalnya.

Saya juga tidak tahu mengapa pikiran saya bisa berpikir begitu, mungkin ini salah cara dengan ungkapan terima kasih, bukan lagi menghujat Covid-19. Mungkin cara ini Covid-19 bisa meredam cara menularnya. Mungkin dengan cara ini saya sebaiknya berdamai dengan alam, berdamai dengan virus, tentu alam bawah sadar mengungkapkan seperti itu karena selama ini saya berdamai dengan segala penyakit yang menimpa tubuh saya yang merupakan kumpulan tanah-tanah yang subur.

Kalau seandainya virus ini menular lewat pernafasan dalam tubuh manusia, mungkin itu juga berarti bahwa virus menular Sang Pencipta yang sejak awal proses penciptaanNya dengan hembusan nafas-Nya dalam tubuh manusia yang sudah dibuat kerangka dari tanah liat. Kalau saya renung dalam keseharian ini ketika berhadapan dengan tanah liat, lembek, berair, berlumpur. Ini juga menunjukkan kelemahan dan kerapuhan tubuh saya, sebab kalau diambil dari tanah yang keras, maka susah dirangkainya, susah dibuat kerangka. Hanya ini rahasia Sang Pencipta yang saya percaya walaupun saya tidak melihatnya. Tapi buktinya Sang Pencipta sudah menciptakan saya menjadi seorang manusia. Bahkan manusia berakal. Semua makhluk memiliki otak, tapi hanya manusia yang diciptakan dengan memiliki akal.

Karena virus Corona mampu melumpuhkan kenyamanan manusia. Engkau virus corona membuat manusia harus jaga jarak. Istri dan suami bisa berjarak apabila sudah terpapar. Memaknai cinta dari jauh. Tidak ada kekuatan cinta sebagai kekebalan dalam ikatan perkawinan. Orangtua dan anak-anak juga demikian. Sesama anggota keluarga saling menjauh, apalagi dikarantina. Sepi. Sendirian. Bergelut antara hidup dan mati sendirian melawan Covid-19. Tidak ada lagi keluarga yang saling besuk. Berdoa untuk orang sakit dari jauh saja. Tidak dapat lagi sakramen pengurapan orang sakit sesuai tradisi kristiani.

Selain jaga jarak, juga membersihkan diri bagian luar dan bagian dalam dengan asupan gizi yang meningkatkan kekebalan tubuh. Mencuci tangan, menutup mulut dan hidung dengan bahan yang disebut masker. Berbagai merk masker diproduksi, ada juga masker kain yang dijahit oleh para penjahit, namun tidak marak digunakan, harus masker yang diproduksi di pabrik. Alkohol cuci tangan dengan kadar rendah yang disebut hand sanitizer. Diproduksi jutaan masker dan hand sanitizer. Selanjutnya kalau seseorang terpapar Covid-19 harus karantina, yang lain memilih isolasi mandiri. Selama di karantina dan isolasi mandiri, manusia semacam dikurung. Kebebasan tidak sebebas-bebasnya. Kekebalan tubuh (imunitas tubuh) dengan asupan gizi. Virus corona mampu memecah belah umat manusia.

Penularan virus ini tidak mengenal orang baik, dan jahat, janin, bayi, ibu hamil, orang lanjut usia (lansia), orang sehat dan sakit diserangnya (virus-red).

Saat seseorang mati dengan Covid19 tidak ada ritual adat, tidak ada anak rona atau anak ranar, rapo agu likan yang melaksanakan ritual adat tekang tana (gali kuburan) sesuai budaya orang Manggarai. Ini budaya orang Manggarai saat terjadi kematian. Kematian karena Covid-19, hemat, sederhana, tak banyak anggaran yang dikeluarkan oleh keluarga.

Tidak ada lorang. Semua orang menjauh karena kepanikan Covid-19. Keluarga hanya bisa menangis dari jauh. Bahkan saat dikebumikan dilakukan oleh petugas satuan gugus tugas Covid-19 dengan pakaian khusus, APD protokol kesehatan (Prokes), seperti pakaian seorang astronot yang terbang ke luar angkasa.

Dulu saya ingat ada kasus kematian unggas di Indonesia dengan penyakit flu burung, saat dikuburkan dengan pakaian lengkap APD, mungkinkah bergeser dari flu burung ke virus Corona 19. Penyakit yang menularkan kepada unggas disebut flu burung, sedangkan kepada manusia disebut virus Corona 19. Entahlah, mungkinkah, semua rahasia alam semesta serta rahasia Sang Pencipta.

Berkali-kali pikiran saya yang rapuh menyampaikan terima kasih kepada Covid-19 dan saya menulis dalam buku catatan harian karena virus yang tak kelihatan oleh mata manusia mengingatkan saya untuk bersahabat dengan alam serta bersahabat dengan segala penderitaan dengan virus, baik virus corona maupun virus lainnya.

Virus ini hanya menyerang manusia yang rapuh bahkan menyerang bagian paru-paru sebagai pusat pernafasan. Virus ini mampu menjebol pertahanan tubuh manusia. Ada yang mengungkapkan bahwa kawasan hutan sebagai paru-paru dunia. Kekebalan tubuh manusia sebagai ‘paru-paru tubuh’. Hanya selama berabad-abad ini manusia sudah terlena dengan mengkonsumsi makanan yang sudah mengandung zat kimia.

Saat saya sedang berbicara ada juga bersamaan dengan hembusan nafas, bahkan saat diam pun tentang ada pertukaran nafas yang masuk dan keluar. Nah, saat seseorang mati maka tidak ada lagi pernafasan. Entah dimana itu pernapasan sebagai pusat kehidupan manusia.

Anehnya, saat seseorang ada penyakit lain dalam tubuh, seperti diabetes, jantung, gagal ginjal, asma dan lainnya. Biasa bahasa medis sakit bawaan rentan sekali membawa maut kalau sudah terpapar Covid-19. Atau dibuat status mati karena Covid-19, entahlah bisnis peralatan medis atau apalah maksud dibalik wabah Covid-19 yang belum juga pulih. Apakah Wabah Covid-19 lebih berkuasa atas diri manusia. Entahlah, saya percaya bahwa Tuhan tetap memiliki kuasa atas segala virus dan nama-nama penyakit dalam tubuh manusia rapuh. Karena kerapuhan maka manusia menderita. Kalau manusia tidak menderita sakit maka tidak ada temuan obat-obatan dan peralatan medis lainnya. Tidak ada produksi alat-alat laboratorium.

Saya bersyukur kepada Rabuni, Mesias, Putra Allah Yang Hidup, Yesus dari Nazaret, Allah Tritunggal Mahakudus yang masih melindungi saya, keluarga, sahabat selama kurang lebih 1 tahun 7 bulan ini belum terpapar Covid-19, entah kapan, saya juga tidak tahu. Terima Kasih Tuhan. Terima kasih Covid-19, terima kasih alam semesta. Terima kasih kepada sesama yang terus mendoakan saya dan keluarga. Terima kasih istri dan anak-anak yang saling mendoakan. Terima Kasih Bunda Maria,  Santo Yosef, Bapak Pelindung Keluarga Nazaret dan keluarga-keluarga di bumi ini. Terima kasih Santo Markus, nama pelindungku. Terima kasih Santo Fransiskus Asisi, Santo Ignasius Loyola, Santo Yohanes Paulus II. Terima Kasih Ame Nikolaus Dahu dan Ine Maria Ke’set. Terima kasih Pater Flori Laot, OFM, terima kasih Pater Franz Mezaros, SVD.

**Bersambung**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.